Suatu sore, di sebuah acara upgrading lembaga, seorang wanita dengan jilbabnya yang menjuntai berbicara dengan energi penuh. Suara lantang, gesture percaya diri, dan pembawaannya yang ceria mampu membakar semangat para kader lembaga. Dua tahun setelahnya, suaranya tak hanya lantang terdengar di masjid kampus atau kantor komisariat. Kini, namanya terpampang jelas dalam poster beratribut partai: Hermawati Kartini, ST, calon anggota legislatif (caleg DPRD) Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Lain cerita, teman saya yang saat itu masih menyandang status mahasiswa baru berniat bahwa, suatu saat, ia akan menjadi pemimpin di daerahnya, di Sulawesi sana. Keinginannya didukung pengalaman memimpin beberapa organisasi. Ini tentu membantunya mengasah kemampuan menghadapi masalah dan bekerja sama dengan berbagai karakter manusia.

Jika kita tilik, remaja usia 20-an umumnya sedang sibuk melanjutkan pendidikan, menjalani pekerjaan, atau membangun rumah tangga. Beberapa remaja juga bimbang menentukan antara menikah muda atau bersabar meniti karir. Di antara banyak jalan yang dipilih, segelintir pemuda mantap maju melenggang ke dunia perpolitikan dengan menjadi caleg.

Ya! Anggota legislatif yang seringkali kita lihat sedang setengah mengantuk atau sibuk main HP saat rapat itu! Yang enggan mendengar suara rakyat karena terlalu sibuk menghitung besarnya anggaran Negara (dengan “N” besar!) untuk kelompok mereka. Mereka yang secara ajaib bisa menyusun RUU secara kilat, menafikkan kecaman dari sana-sini. Para tuan-puan terhormat yang masih saja sibuk menempel poster besar dengan wajah tersenyum seperti siap melayani masyarakat kelas bawah sekalipun. Mereka yang punya begitu banyak stigma negatif di kalangan pemuda.

Di tengah santernya suara buruk tentang politik kita, saya mengenal dua orang yang bukan berlatar belakang hukum, berniat kuat menjadi caleg. Keinginan untuk melenggang dalam kontestasi politik bernama P-I-L-K-A-D-A ini diperkuat berbagai alasan yang melekat dalam diri mereka.

Teman saya yang pertama berpandangan bahwa dakwah Islamiyah dapat dilakukan di semua bidang, politik salah satunya. Bahkan, dakwah pada tingkatan daerah adalah tingkatan lanjut setelah dakwah kepada diri sendiri, keluarga, dan lingkungan. Niat yang mulia, membawa kebaikan bagi daerahnya dengan warna yang ia punya. Teman kedua saya lain cerita. Sebelum masuk jurusan yang sekarang, ia bermaksud menekuni bidang hukum. Selain itu, di lingkungan pertemanannya terdapat seorang anak bupati, sehingga membuatnya sedikit banyak paham politik di daerahnya. Lengkap! Semakin kuat motifnya menjadi caleg.

Mereka, kemudian, terus bergerak dengan caranya masing-masing. Yang satu mulai bergabung dalam berbagai lembaga yang terkenal ampuh melahirkan aktivis kaliber nasional dan mulai menyuarakan berbagai isu. Yang satunya, bahkan sejak dua tahun yang lalu sudah memasang poster dirinya lengkap dengan atribut partai. Menyuarakan beberapa isu yang santer di masyarakat. Postingan terakhirnya di media sosial bulan lalu mendeklarasikan dirinya dan suami sebagai pasangan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati di Jawa Barat sana. Sungguh paket komplit!

Kedua kawan saya ini berhasil membuka sudut pandang saya untuk melihat dari arah yang berbeda. Saat ini, mereka mungkin belum menduduki kursi penting pemerintahan, tapi daya juang dan semangat mengubah daerah yang mereka miliki, semoga menjadi benih baik pemerintahan suatu saat nanti.

Tulisan oleh Suratiningsih (Nining), pendidik di sebuah sekolah di Semarang

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0