Standar kecantikan secara tak sadar menjadi satu hal yang sangat digaungkan dalam realitas sekarang ini. Bagaimana tidak? Di level dunia sendiri, telah muncul berbagai ajang seperti Miss Universe, Miss World, dan sejenisnya yang mengelompokkan wanita berdasarkan standar yang mereka buat. Tidak usah jauh-jauh sampai ke ranah dunia, bahkan di Indonesia sendiri ajang-ajang seperti itu dianggap salah satu ajang bergengsi. Penampilan seseorang bisa dikatakan sebagai “wajah” suatu daerah. Padahal apakah kenyataanya demikian? Bagaimana dengan keanekaragaman yang ada di Indonesia? Sebagian orang tidak merasa peduli. Namun lain hal dengan mereka yang merasa jauh dari standar yang digaungkan selama ini. Mereka tidak baik-baik saja, sejauh ini.

Di Indonesia sendiri sebenarnya standar kecantikan sudah ada sejak zaman Jawa Kuno. Lebih tepatnya tertuang dalam kisah sastra Ramayana. Menurut Titib (1998), cantik pada masa itu digambarkan melalui tokoh Sinta, istri Rama. Sinta digambarkan sebagai perempuan yang cantik dan berperilaku baik. Bahkan ia juga digambarkan sebagai rembulan yang cantiknya selalu bersinar. Seiring berkembangnya zaman, standar kecantikan terus berubah dari waktu ke waktu. Kita ambil contoh ketika zaman kolonialisme, dari era kolonial barat sampai era Jepang, standar kecantikan di Indonesia mengikuti pengaruh yang mereka bawa. Bahkan hingga detik ini, standar kecantikan bagi wanita Indonesia terus berubah seiring perkembangan zaman. Hal ini lantas menimbulkan pertanyaan, seperti apa sebenarnya standar kecantikan yang ada di Indonesia? Seberapa penting sebuah standar dianut oleh masyarakat? Sebagian menganggapnya penting, sebagian lain tidak.

Standar kecantikan, menurut saya, bukanlah satu hal penting nan berguna untuk digaungkan ke sana-kemari. Masa bodoh dengan orang yang menilai cantik tidaknya seorang wanita itu dengan body goals, kulit putih, rambut lurus, dan ciri-ciri sejenisnya. Bila suatu standar dipukul rata seperti itu, lantas apa kabar dengan wanita yang bertubuh terlalu gemuk, terlalu kurus, kulit gelap, rambut keriting, mereka tidak disebut cantik? Bisa dikatakan demikian apabila standar kecantikan masih terus saja digaungkan. Para wanita dengan kriteria yang berbeda tersebut seakan tidak memiliki kapasitas untuk bersanding sejajar.

Keanekaragaman ras yang ada di Indonesia tentu tidak dapat disandingkan dengan sebuah standar kecantikan sekarang. Satu demi satu produk kecantikan menawarkan khasiatnya yang akan mencerahkan kulit, obat-obatan yang menawarkan khasiat melangsingkan tubuh, dan strategi-strategi lain yang dipakai dalam menggaungkan standar kecantikan. Jika sudah seperti itu, bukankah tujuan menggunakan sebuah produk sudah bergeser? Bukankah, kini, menggunakan produk bukan lagi untuk memantaskan diri, tetapi memantaskan standar kecantikan. Seperti itulah dampak apabila standar standar itu terus menerus dibicarakan di mana-mana!

Sebagai wanita yang hidup di tengah keberagaman, sudah sepantasnya untuk tidak memandang rendah satu sama lain. Tidakkah sebenarnya standar kecantikan itu telah mengelompokkan para wanita ke dalam berbagai strata. Seperti sebuah kutipan dari tokoh terkenal Michelle Obama berikut, “Being a healthy women isn’t about getting on a scale or measuring your waistline”. Menjadi cantik bukanlah tentang mengukur satu sama lain. Menjadi cantik adalah tentang bagaimana kamu menjadi dirimu sendiri.

Oleh: Anisa Febriyana

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0