oleh Najma Alayka

Catcalling merupakan istilah yang sering dipakai untuk merujuk pada tindakan verbal yang bermaksud menggoda atau melecehkan dan masuk kategori street harassment. Belum ada padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia, hal ini menunjukan minimnya pengetahuan masyarakat dalam membedakan catcalling dengan pujian. Meskipun kebanyakan korbannya ialah perempuan, tidak sedikit laki-laki yang mengalami pelecehan verbal di jalan. Dalam catcalling, terdapat bentuk komunikasi di mana pelaku memberikan ekspresi verbal dengan nada menggoda sehingga korban merasa terganggu bahkan terancam.  Contoh yang paling sering ditemui berupa siulan, menyapa dengan genit, atau komentar tidak pantas tentang bentuk tubuh korban.

Budaya ramah-tamah di Indonesia, seperti menyapa atau tersenyum kepada orang lewat bahkan orang asing sekalipun, tentu berbeda dengan catcalling. Sebab, budaya menyapa tadi tidak bertujuan mengganggu atau merendahkan orang lain. Stigma yang terjadi di masyarakat, wajar ketika laki-laki menggoda lawan jenis meskipun dilakukan di tempat umum. Mereka berdalih bahwa hal tersebut dilontarkan untuk menyanjung perempuan. Malah ada yang hanya iseng berujar tanpa peduli perasaan korban, takut dan terancam. Korban tidak berdaya karena pembelaan pelaku pasti kembali pada, “Ah, orang cuma gitu doang kok marah.” Duh, bayangkan ketika perempuan berjalan sendiri lalu ada laki-laki asing berkata, “Hey, cantik, mau ke mana?” daripada pujian malah terdengar merendahkan. Perempuan seakan dianggap objek yang bisa diberi komentar dan tanggapan sesuka hati. Saya sendiri pernah mengalami yang lebih menjijikkan, “Neng cantik, bohay banget, ih!” Padahal saya berpakaian tertutup, tidak ketat, lengkap dengan jilbab. Apakah seperti itu masih bisa dikategorikan memuji?

Permasalahan ini kian meluas mengingat belum ada kesadaran untuk mengurangi dan menjerat pelaku sesuai aturan yg berlaku. Di Indonesia, pelecehan seksual belum dapat diinternalisasi, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) hanya mengenal istilah perbuatan cabul yang diatur pada Pasal 289-296 dengan artian perbuatan yang melanggar kesusilaan, perbuatan keji dan dalam nafsu birahi. Catcalling berada pada tindakan pelecehan seksual verbal yang masih jauh dari kata perbuatan keji ataupun kekerasan, tetapi istilah kesopanan dan kesusilaan ini juga belum diatur oleh KUHP, sehingga belum ada aturan pasti yang mengatur batasan dan hukuman catcalling.

Budaya kita membiasakan laki-laki dominan di masyarakat. Hal tersebut mendorong stigma, wajar bila laki-laki bersiul pada perempuan asing di jalan. Namun demikian, budaya patriarki tadi tidak menyurutkan semangat perempuan melawan catcalling. Seperti aktris Hannah Al Rashid dalam cuitan Twitter-nya bulan Maret lalu, berani mengedukasi oknum ojol yang bersiul kepadanya. Ia berbalik menghampiri pelaku, mengingatkan bahwa siulan tadi bermakna pelecehan verbal dan tidak selayaknya dilakukan. “Some of these men push their luck, some are just ignorant. Let’s educate them,” pungkas Hannah Al Rashid. Sedangkan pelajar asal Amsterdam, Noa Jansma, melawan catcalling dengan cara lebih berani. Lewat akun @dearcatcallers, selama sebulan, ia memposting foto bersama para pelaku yang melakukan catcalling padanya. Dalam caption, Noa menjelaskan kronologi singkat kejadian yang dialami. Dari postingan Noa, pelaku berasal dari berbagai latar belakang dan usia, sendiri maupun bergerombol. Mirisnya, semua laki-laki yang memberikan ujaran tidak senonoh kepada Noa tidak merasa bersalah apalagi menyesal, banyak dari mereka justru berpose di depan kamera.

Kasus di Wonosobo sendiri beragam, mulai dari menyapa genit, menatap, hingga meraba dan menyentuh bagian privasi korban. Sebagian pelaku ialah pengendara kendaraan bermotor sehingga setelah melakukan perbuatannya langsung kabur, menyisakan korban yang marah atau shock. Tidak sedikit yang terang-terangan melakukannya di ruang publik, seperti alun-alun kota, bus, angkot, dan kepada sesama pejalan kaki. Pelaku tidak hanya remaja iseng, beberapa teman perempuan saya mendapati catcallers pria usia 40-an. Sama seperti di beberapa kota lain, pelaku yang bersiul atau menyapa dengan intonasi menggoda dianggap budaya yang wajar.

Sebagai manusia beradab sudah selayaknya saling menghormati satu sama lain. Manusia, utamanya perempuan, bukanlah objek yang bisa dikomentari seenaknya. Catcalling sendiri, dilihat dari sisi manapun tidak ada manfaatnya. Sebelum makin marak terjadi karena stigma catcalling adalah pujian yang terjadi di masyarakat, alangkah bijak untuk saling mengedukasi bahwa Catcalling termasuk pelecehan verbal yang sangat mengganggu dan harus dihentikan. Ruang publik yang aman dan nyaman bisa diciptakan dari masyarakat yang peduli dan saling menghormati.

Dear Catcallers, suit-suit nggak jelasmu itu nggak keren!

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0