Ah, tidak juga! Pemblokiran situs, mulai sini, bebas? Menjadi anonim, punya banyak akun, komentar omongan pejabat, menyapa anonim lain, mungkin memunculkan “rasa bebas”; tapi tidak betulan bebas! UU ITE membatasi pengutaraan pendapat, baik yang bermanfaat maupun yang ngaco. Musisi, aktor, sastrawan, bahkan jurnalis dibatasi. Media membatasi dengan algoritma, kepentingan, dan sensor mandiri.

Sindikasi, pelanggan berbayar, penjualan konten, dan iklan, adalah sumber pembatasan media. Perusahaan dengan sindikasi/persekutuan menjaga idealisme persekutuan, eh, media dengan terus menghindari atau menyajikan topik tertentu. Versi berbayar lebih baik dibanding versi gratisannya. Sementara, dari iklan, media perlu menggaet konsumen, supaya iklan terus masuk. Algoritma memudahkan hal ini.

Sebagai tambahan, kecepatan (sebagai aspek penting dunia digital) juga menimbulkan masalah. Sekarang peristiwa terjadi, mesti cepat-cepat diunggah. Ketergesaan ini cenderung mengorbankan informasi. Kalau gaduh, hapus postingan, klarifikasi kemudian, dah kayak pejabat selip lidah. Untungnya, konsumen masih punya hak dan kuasa untuk menentukan, memilah, dan mengkritisi apa yang dikonsumsinya.

***

Saya berikan contoh permasalahan “bebas, tidak terbatas, cepat, dan kritik konsumen” dengan kasus Wonosobozone pada Mei lalu. Media ini adalah kanal berita Wonosobo, aktif sejak 2015. Mereka mengusung slogan “Media informasi Wonosobo terkini”. Followers-nya ribuan di Facebook dan Instagram.

20 Mei 2020, Wonosobozone mengunggah video dengan caption pendek, “Wonosobo Keras Lur. Diingatkan polisi suruh pakai masker, bapak ini tak mau. NB: berkomentar yang sopan dan bijak ya”. Peristiwa ini aktual, menarik, menegangkan. Sekelompok polisi PP berhadapan dengan seorang bapak yang marah-marah. Unggahan ini cepat tersebar.

Patut diperhatikan, caption itu cukup jadi pemantik dan dasar warganet menjustifikasi (warga) Wonosobo (dalam video) keras (kepala) dan membahayakan hidup. Hasilnya, Wonosobozone panen ratusan like dan ratusan makian (ditujukan kepada si bapak tersebut) hanya dari FB saja. Beberapa menanyakan info tambahan. Tak ada tambahan informasi, hanya ada emosi meluap-luap. Viral: pancingan berhasil!

Sebentar kemudian, unggahan ini mendapat protes, lalu dihapus. Unggahan dihapus, meski tanpa disertai keterangan penghapusan maupun permintaan maaf. Andai admin melengkapi informasi dulu, harga diri Wonosobozone tidak tercoreng, tapi apa daya? Dah lah! Namun unggahan 24 Mei dan seterusnya merupakan klarifikasi unggahan kemarin, sekaligus bukti. Bukti media perlu kritik, bersedia memperbaiki diri. Juga bahwa masyarakat bisa dan perlu mengawasi penyedia informasinya sendiri.

24 Mei 2020, bapak tersebut viral lagi. Dia membongkar barikade yang melingkupi pasar induk Wonosobo. Wonosobozone mengunggahnya dengan caption kronologi lengkap, sampai beberapa postingan, mulai aksi, tindakan polisi, sampai permintaan maaf keluarga. Alasan dan latar belakang ekonomi dan psikologinya juga dipaparkan. Caption-nya bahkan menyentil Lambe Turah yang terus nyinyir soal ini. Menarik sekali, mengingat kehebohan yang kemarin muncul.

Engagement-nya banyak, nada komentarnya berbeda 180 derajat. Ada yang kasihan, mendoakan, dan mengkritisi. Mengapa? Warganet trenyuh setelah tahu kisah bapak tersebut. Loh, jadi maki-makian kemarin itu bagaimana?

***

Saya ngobrol dengan seorang teman di warung kopi. Soal polisi, soal bisnis, dan soal media. Caranya bercerita kedengaran heroik di kuping saya. Jadi begini, menanggapi unggahan 20 Mei, dia dan beberapa rekan ini yang protes dengan direct message akun Wonosobozone. Mempertanyakan motif dan meminta unggahan dihapus. Dilanjutkan melalui story WA, IG, dan FB.

Setelah mendapat balasan yang sepertinya kurang memuaskan, dia naik darah, lalu segera unfollow. Dia tidak menyaksikan Wonosobozone berbenah diri. Sayang sekali. Nah, sampai di sini, ini jadi contoh menarik bahwa perusahaan media mestinya mikir lebih jauh supaya tetap tahu “batas”, meski berada di dunia yang “bebas dan tidak terbatas”.

Penulis: Agustinus Ari

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0