“Jangan berhenti meraih mimpi. Punya impian apapun, kejarlah. Walaupun tidak didapatkan, tapi setidaknya sudah berusaha. Karena yang terbaik bukan kita yang tahu, tapi Tuhan. Kalkulator manusia dan kalkulator Tuhan itu berbeda.” (Rois Effendi, 2015)

Sebuah quote yang mewakili perjalanan hidup Rois hingga sampai saat ini. Pemuda Wonosobo satu ini pernah gagal mengikuti ujian sebuah sekolah tinggi milik negara. Tapi sepertinya itulah rencana Tuhan. Melalui pengalamannya menjadi pegawai sebuah koperasi di Wonosobo, dia menemukan suatu potensi bisnis yang kini dia kelola bersama keluarganya, yaitu bertani jamur tiram.

Tidak hanya bisnis, Rois pun saat ini aktif membagikan ilmu bertani jamurnya ke orang lain. Rois menjadi contact person sebuah website tanijogonegoro.com, milik mantan nasabahnya yang mengenalkan pada jamur tiram. Website ini kini menjadi salah satu rujukan petani jamur. Akibatnya dia sering dihubungi oleh banyak orang dari berbagai daerah (Sumatera hingga Papua) yang ingin mengetahui seluk beluk bertani jamur. Hal ini tentu membawa keberkahan sendiri bagi Rois, karena jadi punya banyak relasi.

Seperti Apa Bisnis Jamurnya?

Pemuda kelahiran 12 Juni 1991, yang menghabiskan masa kecilnaya di kota Bandung ini menekuni bisnis yang diketahuinya dari nasabah sebuah koperasi, tempat dulunya bekerja. Mungkin pertemuan dengan nasabah tersebut menjadi semacam berkah dalam hidupnya.

Bisnis yang dijalankan saat ini adalah bisnis jamur tiram dan lumber kit jamur tiram. Rois menanam jamur tiramnya sendiri di pekarangan miliknya sekitar 200m2. Sedangkan lumber kit merupakan paket media jamur siap tanam, dan dibuat untuk menarik minat orang lain untuk menanam jamur dan belajar bagaimana membudidayakan jamur. Lumber kit ini bisa dibilang mini farming untuk orang awam yang ingin belajar menanam jamur tiram secara mandiri. Inovasi produk jamur Lumber Kit tersebut, terinspirasi dari acara Kick Andy, yang pernah mendatangkan petani jamur juga dengn inovasi produk jamur siap tanam.

Jamur tiram yang dihasilkan dari pekarangannya sendiri dijual sebagai sayuran melalui pedagang pasar pagi Wonosobo. Setiap harinya pekarangan Rois bisa menghasilkan sekitar 20 kg jamur per hari yang dijual seharga 8000 rupiah per kilogram. Sedangkan lumber kit mushroom nya dijual dengan harga 20ribu per kemasan , dan 30 ribu jika melalui online. Selain itu pemuda yang hobi main gitar ini juga membuat VCD pembelajaran bertani jamur untuk dijual dan memudahkan orang dari luar daerah belajar bertani jamur. Lumber Kit ini juga sedang ingin dipromosikan ke siswa SD, untuk pembelajaran dan juga untuk pengenalan bertani jamur, ya bisa dibilang main-main bermanfaat lah :). Melalui promosi lumber kit ini jugalah, Rois ingin mengenalkan bahwa ‘Hei, siapapun kamu bisa kok belajar bertani jamur.’

Perjalanan Jatuh Bangun Membangun Bisnis ini

Rois lulus dari SMA 1 Wonosobo pada tahun 2009, kemudian langsung bekerja. Awalnya dia bekerja sebagai Office Boy di sebuah koperasi swasta di Wonosobo. Setelah 10 bulan mejalani profesi tersebut,  dia diangkat menjadi seorang Marketing Funding yang bertugas mencari nasabah untuk membuka tabungan dan deposito selama 6 bulan. Setelah itu dia diangkat menjadi Marketing Lending, atau bertugas mencari nasabah yang ingin meminjam uang di koperasi. Posisi tersebut menghantarkannya bertemu dengan calon nasabah yang mempunyai usaha budidaya jamur tiram. Dari hasil analisis nya terhadap calon nasabah tersebut, dia tertarik dengan usaha yang dijalani. Dari situ mulailah menerapkan prinsip simbiosis mutualisme. Nasabah tersebut mendapat kucuran dana, sedangkan Rois mendapat ilmu bidudaya jamur.

Bulan April 2013, Rois mulai terjun menekuni bisnis jamur dengan peralatan sederhana dan seadanya yaitu memanfaatkan bambu dan gendeng. Dengan menggunakan modal awal 3,5 juta yang dia dapatkan dari bank, dia memulai menanam 500 backlog/media tanam. Jamur yang dihasilkan dijual di pasar, begitu seterusnya sampai hutang lunas dan cukup untuk membeli tempat bertanam jamur lagi. Oleh karena itu dia memberanikan lagi meminjam dana dari bank 10 juta dan meningkatkan jumlah produksi. Setiap hari dia berhasil memanen kurang lebih 20 kg jamur. Penambahan modal tersebut membuat jumlah produksi jamur juga bertambah drastis. Pernah suatu hari, produksinya mencapai 60 kg alias terjadi overstock.  Penjualan di pasar hanya bisa sampai 22 kg. Sisanya? Pagi-pagi sekali dia membungkus jamur dalam plastik dengan berat 1 ons. Setelah subuh, dia mengedarkan jamur ke desa-desa tetangga menggunakan motor, dan dengan kondisi jam 7 pagi dia harus sudah berada di tempat kerja. Penjualan pagi itu berhasil mengurangi stocknya sebesar 10kg. Sisanya masih 18kg, kemudian dia tawarkan ke rekan kerjanya di kantor dan akhirnya terjual 10kg. Sisanya dia bagikan ke tetangga secara gratis.

Jatuh bangun usaha sering dia alami. Puncaknya adalah ketika setiap hari Rois harus membagi waktu antara bekerja sebagai marketing, bercocok tanam sebagai petani jamur, sekaligus menuntut ilmu sebagai mahasiswa jurusan Manajeme di UNSIQ. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya, bisnis inipun mulai menuai hasil yang menggembirakan.

Peluang, Tantangan dan Hambatan Bisnis Jamur Tiram

rois2Rois melihat bahwa bisnis ini cukup berpeluang. Harganya stabil, permintaan nya cukup tinggi, dan serbuk kayu yang menjadi media tanamnya cukup mudah ditemukan, apalagi di Wonosobo yang sudah banyak pabrik kayu.

Pengembangan jamur sendiri terbilang tidak terlalu sulit, yang terpenting dalam budidaya jamur adalah menjaga kelembapannya sehingga jamur yang dohasilkan tidak kering. Nah, berhubung Wonosobo adalah kota sejuk di bawah pegunungan, udaranya cukup lembab, maka jamur yang ditanam di sini hasilnya cukup baik, hanya butuh disiram pagi dan sore agar kelembapan nya terjaga.

Rois juga punya pengalaman menarik tentang peluang jamur yang semakin membuatnya yakin ingin menekuni bisnis ini. Dia pernah membuat suatu proposal bisnis untuk diikutkan lomba dan masuk 90 besar se-indonesia. Karena memang belum rejeki, proposalnya tidak lolos ke tahap berikutnya. Nah, suatu hari ada orang Surabaya yang melihat proposalnya dan mengajak kerjasama untuk budidaya jamur yang akan dikirim ke Korea, Omzetnya cukup besar. Satu bulan diminta mengirim 2 ton jamur kuping kering, yang mana sama dengan 12 ton jamur yang belum kering. Bisnis yang menggiurkan bukan? Tapi Rois diminta membudidayakannya di Probolinggo Jawa Timur, yang membuat dia harus meninggalkan Wonosobo. Kesempatan itu tidak diambil karena artinya dia akan bekerja dibawah orang lain. Dengan adanya tawaran tersebut, dia mulai sadar bahwa bisnis jamur ini sangat potensial.

Untuk saat ini, omzet bisnisnya kurang lebih 4-5 juta per bulan. Belum termasuk omzet Lumber Kit yang sedang dikembangkan dan terkadang mendapat banyak pesanan. Saat ini pemasaran produk khususnya bibit sudah sampai Kep.Maluku, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Bali. Sedangkan pemasaran jamur tiramnya masih di dalam kota karena permintaan masih tinggi karena persediaan produknya yang malah kadang kurang.

Peluang bisnis jamur tidak hanya itu. Lahan jamur ini juga bisa dijadikan semacam wisata edukasi jamur bagi siapapun yang ingin belajar, atau bisa dibuat semacam sentra jamur, seperti sebuah tempat makan di Jogja, Jejamuran.

Sedangkan tantangan di bisnis ini adalah bagaimana caranya menjaga stok barang tetap pada kadar yang dibutuhkan, tidak kekurangan juga tidak kelebihan. Hal itu karena hasil panen nya tidak bisa diprediksi, jamur juga tidak tahan dibiarkan dalam waktu yang lama.

Ingin Bermanfaat bagi Orang Lain melalui Bisnis

rois3Budidaya jamur yang dikembangkannya saat ini dibantu keluarga dan tetangganya. Dengan bisnis jamur ini Rois ingin sekali memberdayakan orang-orang di sekitarnya. Melalui bisnis ini dia juga aktif membagikan ilmu nya kepada siapapun yang ingin belajar. Menurutnya, bisnis juga bukan untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri,  tapi juga membantu orang untuk berkembang.

Rois ingin sekali jika anak-anak muda tidak hanya nongkrong kalau berkumpul, tapi juga melakukan hal yg bermanfaat. Sayang jika masa muda jangan dihabiskan untuk hal yg sia sia. Kalau bisa bermanfaat kenapa tidak. Apalagi sebenarnya potensi lokal Wonosobo banyak yang belum digali, tidak hanya dari jamur.

Tips Membangun Bisnis ala Rois

Membangun usaha dari awal tidak harus bermodal besar, tapi modal utamanya adalah relasi da hubugngan baik, bisa bekerjasama, pandai membaca peluang usaha, berani berinovasi dengan membuat tren baru, serta yang paling penting adalah persiapkan mental, untuk berani jatuh ketika ada kondisi bisnis tidak bersahabat.

Dalam membangun bisnis, dia berpesan agar jangan pernah memandang rendah profesi orang lain apapun profesinya. Misalkan kita lihat bapak-bapak berjualan siomay, jangan sekali-kali dipandang rendah. Bayangkan jika kita menjadi dia, apakah kita akan kuat dan siap mental? Intinya kita tidak boleh begitu saja meremehkan ikhtiar setiap orang. Menurut Rois, dalam berbisnis perlu disadari bahwa kita layaknya tukang parkir, hanya dititipi kendaraan. Ketika yang punya ingin mengambil, ya harus dikembalikan. Begitu juga dengan bisnis, apapun yang dimiliki bukan milik kita, tapi Yang Maha Kuasa. Sehingga jika suatu hari terjadi kerugian atau kehilangan, harus bisa ikhlas. Serta jangan lupa bersedekah agar setiap usahanya menuai keberkahan.

Penutup

Dari pengalaman hidupnya ini, Rois belajar ketelatenan, kesabaran, kesiapan mental, disiplin dan yang paling penting adalah bagi waktu. Kepada anak-anak muda Wonosobo, dia juga berpesan untuk belajar dari pengalaman, karena pengalaman tidak didapatkan di bangku sekolah, serta pandailah mencari relasi. Setelah lulus sekolah ataupun kuliah, hendaknya juga jangan banyak senang-senang dulu, perbanyak lah usaha untuk melakukan hal yg bermanfaat. (Apid)

Baca Juga: 7 Anak Muda Wonosobo di Bawah Usia 25 tahun yang Membangun Bisnis dari Nol

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0