tahun baru

“Bukan tahun yang berganti. Tapi hidup” – Goenawan Mohamad

Rasanya kita begitu lengah menghadapi rotasi waktu, sampai- sampai kita tidak menyadari bila waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa kita sudah berada di penghujung tahun dan segera menghadapi tahun baru. Tahun baru, bukanlah soal perayaan dengan meniup terompet, memandang gemerlap kembang api bersama orang spesial, atau bersenang- senang menikmati hujan diskon akhir tahun, bukan. Tetapi tahun baru ini adalah perkara kualitas hidup yang sudah kita capai selama hampir 12 bulanyang lalu ini.Di penghujung tahun 2014 ini coba luangkan waktu kita sejenak untuk mengevaluasi apa saja yang telah dicapai sampai saat ini. Apa saja buku yang telah baca? Apa saja karya yang telah kita hasilkan? Berapa kawan baru yang saya temui? Sudahkah kita memberi manfaat untuk orang lain? Dan beberapa pertanyaan lain yang akan muncul saat kita mengevaluasi. Dari sekian pertanyaan, pertanyaan ini merupakan salah satu yang terpenting, “ Sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih baik?”

Spirit atau makna perpindahan menuju tahun baru masih sangat relevan kita bicarakan untuk direnungkan pada kehidupan ini, baik dalam kehidupan personal maupun kolektif, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan kualitas pada diri kita yang tentunya adalah pribadi dengan kualitas moral yang baik. Memang kita tidak bisa mengendalikan waktu, kita tidak bisa melambatkan zaman, akan tetapi apa daya yang telah terjadi selama hampir 12 bulan ini merupakan konsekuensi perbuatan diri kita sendiri. Apa yang bisa kita lakukan sekarang semestinya adalah berkaca dari apa yang terjadi di masa silam, mengambil pelajaran yang kiranya pantas dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik di masa esok.

Akhir- akhir ini jika membuka laman beranda facebookakanmembuat kita tersadar, kaleidoskop album foto tahun 2014 yangdi-share kawan-kawan kita mengingatkan jika telah banyak peristiwa yang kita lewati selama satu tahun ini. Perjalanan selama hampir 12 bulan bukanlah perjalanan singkat begitu saja, banyak pengalaman yang suatu saat nanti akan kita rindui pada masanya. Sehingga momentum tahun baru ini semestinya menghadirkan kita pada rasa syukur yang setulus- tulusnya kepada Tuhan yang telah memberi kita kesempatan untuk menjalani banyak hal selama satu tahun ini. Tak lupa, pergantian tahun juga menjadi alarm bagi kita jika waktu kita di dunia ini semakin berkurang.

Lembaran- lembaran hidup selama 356 hari di tahun 2014 hampir kita tutup, buku baru dengan lembaran bersih akan kita segera kita hadapi. Tahun berganti, harapan dan hidup kita memiliki kemungkinan akhir yang hijau atau tetap gersang. Pilihan ada pada pribadi diri kita sendiri, apakah kita akan membenahi apa yang sudah terjadi dengan sesuatu yang tentu lebih baik atau justru hanya diam berpangku tangan begitu saja. Patutnya perubahan harus ada pada diri kita, apa yang belum kita capai, apa yang belum kita toreh, apa yang belum kita maksimalkan di tahun ini masih dapat kita perbaiki di tahun mendatang.

Membaca ulang memori kita selama tahun 2014 ini pasti akan membawa sebuah penyesalan dan kekecewaan ketika didapati beberapa harapan kita di tahun 2014 ini belum memuaskan. Hal ini membuat kita tersentak sadar sekaligus malu pada diri kita sendiri, bahwa betapa berharganya waktu dan begitu lemahnya kita dalam memaknai waktu. Tetapi apa daya, sedetik, sejam, sehari, sampai setahun yang terlewati kini telah menjadi masa lalu, masa yang tidak bisa kita putar ulang kembali. Tetapi jangan lupa jika “ … the past can hurt. But,the why I see it, you can either run from it, or.. learn from it”–The Lion King, yang berarti dari masa lalu yang membuat kita menyesal ini, kita dapat mengambil pelajaran sebagai pegangan untuk melangkah ke masa mendatang..

Di tengah hiruk pikuknya tahun baru, mari kita maknai hakikat hijrah sesungguhnya sebagai perubahan menuju sesuatu yang lebih baik dari hari kemarin. Selagi masih diberi kesempatan, ini adalah moment untuk oto-kritik dan introspeksi diri kita. Tahun baru adalah tentang diri kita sendiri,bagaimana kualitas diri kita yang telah lalu dan mencoba menjadi lebih baik di masa depan. Jadi, tahun baru tak mulu harus kita rayakan dengan hingar-bingar yang terkesan ‘hura dan foya’, tetapi tahun baru adalah mengenai kesiapan diri kita untuk berubah menjadi pribadi yang memiliki kualitas dirijauh lebih baik lagi. Banyak harapan yang akan lahirdalam menyambut tahun baru, salah satu yang utamasemoga di tahun mendatang kita diberi kesungguhan hati dalam menjalani aksi nyata dari harapan- harapan kita.

Tahun baru. Mari berbenah agar hidup kitamenjadi lebih baik dan lebih pantas!

(Kharisma K)

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0