YoungFarm Wulungsari: Berdayakan Anak Muda untuk Bangga Menjadi Petani
Di zaman sekarang anak muda kerja kantoran atau pabrikan merupakan hal yang lumrah patut dijadikan opsi mencari rezeki. Namun ketika ada anak muda berani turun ke sawah, membudidaya ikan dan memeluk pohon di kebun tentu menjadi sesuatu yang menarik untuk dibahas.
Tulisan ini adalah pengalaman penulis ketika berkesempatan bertemu dengan para petani muda asal desa Wulungsari serta wawancara dalam sesi siaran sWara Muda. Salah satu anggotanya adalah Miftah Farit, adalah pemuda yang mencoba berjuang membangun desanya dari sektor pertanian, peternakan dan perikanan. Saat ini Miftah menggarap perikanan yang dikembangbiakkan di sawah. Sedangkan beberapa temannya menggarap lahan yang berbeda seperti mengembangkan pohon jambu, dan beternak kambing.

Latar Belakang Berdirinya Young Farm
Banyaknya petani berusia senja dan susahnya mencari buruh tani adalah alasan baginya untuk mencoba menggarap lahan di desanya dengan serius. Berawal dari majelis pemuda masjid, Miftah menggandeng anak muda dusun Kacepit desa Wulungsari untuk berdaya di desanya sendiri, dan terbentuklah sebuah kelompok petani muda yang bernama YOUNGFARM WULUNGSARI pada tahun 2016. Selain itu, potensi pertanian yang ada di desa tersebut kurang diberdayakan secara maksimal. Apalagi banyaknya petani yang sudah senja bisa mengancam produktivitas pertanian dan tidak adanya regenerasi.
Kebiasaan merantau para pemuda yang ada di desa mereka juga menjadi alasan kuat berdirinya YoungFarm ini. Banyak pemuda yang merantau ke Jakarta atau luar negeri untuk mencari uang, yang ketika pulang ke Wonosobo masih bingung juga ingin bekerja apa, akhirnya kembali merantau lagi. Kenyataan tersebut mendorong para pemuda yang ada di desa Wulungsari untuk mandiri dan berdaya dengan segala potensi yang ada, agar mendapat penghasilan dari apa yang tersedia di desa mereka.
Komunitas ini juga ingin mendorong orang-orang yang merantau dan mencari ilmu untuk kembali dan sama-sama membangun Wonosobo dengan ilmu yang didapatnya, seperti misalnya saat ini YoungFarm sangat membutuhkan akademisi di bidang pertanian dan peternakan karena mereka belum sama sekali tersentuh dengan hal-hal akademis.
Latar belakang anggota YoungFarm pun beraneka ragam. Ada yang sempat merantau di Malaysia bekerja di pabrik sekaligus mengerjakan proyek pembibitan dan peternakan. Ada juga yang bekerja di perhotelan dengan menjadi koki. Lalu pada akhirnya, mereka pulang dan berusaha membuat usaha agar mandiri, bahkan ada yang sekarang sampai mempekerjakan 5 orang yang tadinya belum bekerja.
Fokus dan Serius
Saat ini komunitas yang berdiri sejak 2015 ini telah memiliki 20 anggota dan 7 karya di bidang pertanian, antara lain perikanan mina padi khususnya bibit ikan nila, jambu biji dan peternakan kambing. Selain anggota yang serius menggarap lahan pertanian tersebut, ada juga anggota yang fokus di pemasaran baik online maupun offline. Meskipun masih mempunyai lahan yang terbatas, para anggota YoungFarm berharap dengan kerja keras dan fokus, lahan yang digarapnya bisa menjadi percontohan untuk orang lain. Saat ini para anggota YoungFarm juga masih terus belajar dari berbagai sumber seperti dari internet.
Ketika awal terjun di pertanian, sebagian orang tua yang memiliki lahan dan sama-sama petani masih belum percaya dengan kemampuan mereka menggarap lahan, apalagi untuk mempercayakan lahannya kepada mereka. Anak muda kadang juga punya persepsi yang berbeda dengan orang tua. Tapi keraguan orang tua bisa dibuktikan dengan keseriusan YoungFarm melakukan semuanya, misalnya bangun lebih pagi dan langsung pergi ke sawah atau membuktikan kalau produk yang dihasilkan bisa dijual.
Miftah sempat bercerita bahwa keseriusannya menggarap pembibitan ikan bisa mendapatkan hasil yang maksimal, hingga ia berani berkata bahwa ia bisa mendapatkan rupiah yang lebih tinggi dari UMR Kabupaten Wonosobo.
“Jadi Petani itu banyak berkahnya mas, insyaAllah kita tidak akan kurang-kurang kalau kita serius”, ujar mas Miftah ketika ditemui di rumahnya.
Pengembangan bibit mina padi dilakukan dengan menebarkan bibit ikan di sawah-sawah milik penduduk. Hal ini dilakukan karena permintaan ikan yang terkadang sangat banyak, sehingga daripada membuat kolam baru akhirnya digunakanlah sawah-sawah sebagai tempat budidaya ikan.
Kira-kira ada simbiosis mutualisme antara sawah dan ikan tidak ya?
“Oh ada, nanti ikan-ikan akan memakan rumput-rumput teki di sawah, sehingga nanti rumput teki-nya tidak terlalu banyak.”, ujar mantan ketua OSIS SMA 2 Wonosobo.
Tips Mengawali Kegiatan Bertani
Lakukan sebisanya, yang penting terus bergerak, tunjukkan keseriusan dan ketekunan, tinggal mau atau tidak. Cari informasi dari manapun, karena sudah banyak tersedia. Kendala apapun pasti ada, dari mulai banjir, hama, merudi saat berjualan kambing, dan sebagainya. Jadikan kendala itu sebagai jalan untuk belajar hal baru dan menambah ilmu serta akan memaksa kita untuk mencari inovasi lain.
Cerita di atas memberikan pembelajaran bahwa petani bukanlah profesi yang dipandang sebelah mata. Petani haruslah berilmu dan mau mengaplikasikan ilmunya agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Tak apa kulit hitam karena terik matahari, karena jika lahan atau kolam digarap dengan serius maka hasil tidak akan mengkhianati proses.
Akhir kata, yuk tengok kebun dekat rumah.

Leave a Reply