Siapa bilang perempuan nggak bisa? Kalimat itu mungkin cocok untuk mendeskripsikan cerita perjuangan salah satu pemudi Wonosobo Muda yang satu ini ya. Namanya Adiba Sabilla Ajrina atau biasa disapa Adiba atau Abhum. Ia menjadi contoh nyata bagi pelajar-pelajar putri di Wonosobo, bahwa perempuan juga bisa bertahan dan berhasil di dunia yang masih didominasi kaum pria saat ini, yaitu: Teknik Pertambangan! Tak hanya itu, ia juga membuktikan bahwa masuk dunia pertambangan tak berarti ia tak bisa memperhatikan fashion dan tampil stylish seperti perempuan sebayanya. Nah, kawan muda pasti penasaran dong bagaimana cerita perjalanan Adiba menjalani dunianya? Mari kita ikuti kisah inspiratifnya berikut.

  

Dari Cheerleader ke Mining Engineer

Adiba merupakan anak sulung dari dua bersaudara. Adiknya kini juga sudah lulus S-1 dan akan melanjutkan jenjang studi berikutnya. Ayahnya bernama Gatot Andoko, seorang Guru Olahraga di salah satu SMP di Kalikajar dan ibunya, Tri Hastuti, juga berprofesi sebagai seorang Guru Biologi di salah satu SMP di Wonosobo. Adiba bercerita bahwa Ayahnya merupakan Bapak yang gaul dan tidak mau kalah dengan anak-anaknya dan Ibunya merupakan seorang wonder woman yang mengasuh keluarganya dengan sangat baik. Adiba sangat menyukai travelling, fotografi, dan juga seperti anak perempuan pada umumnya, styling. Ia merupakan alumni dari SD Negeri 6 Wonosobo, SMP Negeri 1 Wonosobo, dan SMA Negeri 1 Wonosobo.

Semenjak zaman SMA, Adiba sangat aktif dalam kegiatan cheerleading, ia dan tim sekolahnya bahkan sempat menjadi Runner Up atau Juara 2 Kejuaraan Cheerleading se-Karesidenan Kedu. Adiba juga aktif dalam kegiatan Tari Tradisional di sekolahnya dan sempat berpartisipasi dalam rombongan tari di Perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten Wonosobo. Tak Hanya itu, di bidang akademis ia sempat bergabung dalam anggota tim Olimpiade Astronomi di sekolahnya.

Setelah lulus SMA, Adiba melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Pertambangan, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Saat kuliah, Adiba juga aktif berorganisasi, dan sempat mengikuti beberapa kompetisi di bidang keilmuan pertambangan dan setelah beberapa tahun ia juga menjadi Juri di Mining Competition yang diadakan kampus tersebut. Ia bercerita, kuliah di jurusan tersebut cukup berat untuk perempuan seperti dirinya. Banyak sekali tugas lapangan dan praktikum yang mengharuskannya bertenaga seperti laki-laki. Sebagai perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan yang berkuliah di jurusannya sekitar 10:1. Tapi, Adiba justru menganggap kuliah di jurusan tersebut mungkin adalah salah satu tempaan pertamanya hingga ia bisa ada di titik ini. Kuliah di jurusan pertambangan meluluskan orang-orang pejuang, termasuk para perempuan, akunya.

Sang Evaluator Ijin Tambang

Setelah lulus, Adiba sempat bekerja sistem proyek bersama dengan Dosennya. Ia bekerja sebagai konsultan pertambangan yang membuat dokumen teknis pertambangan dan membantu beberapa investor untuk memulai bisnis di bidang pertambangan. Hal ini termasuk menyarankan para investor bagaimana desain tambang dan proses penambangan yang baik dan benar sehingga bisnis ini bisa menguntungkan serta layak secara teknis dan lingkungan. Satu tahun bekerja bersama dosennya, kemudian Adiba diterima bekerja di Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur.

Saat ini, Adiba sedang bekerja di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur dengan posisi evaluator ijin tambang. Dalam pekerjaan yang ia lakukan, setiap hari Adiba mengevaluasi kajian teknis dari perijinan tambang. Karena backgroundnya adalah Mining Engineering, hal ini sangat membantunya mengevaluasi apakah suatu rencana ijin tambang itu layak secara teknis, ekonomis, dan lingkungan. Hal ini terkait bagaimana rencana tambang yang akan dilakukan, desain tambang yang dibuat, rencana penggunaan alat berat, rencana target produksi dan umur tambang, rencana pengolahan komoditas, bahkan sampai rencana reklamasi dan pasca tambang yang cocok dilakukan di lokasi tambang tersebut.

Sembari bekerja, ia juga menjalani kuliah malam di Magister Manajemen Teknik di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Di perkuliahan S2-nya, Adiba mengambil jurusan Manajemen Teknik Informasi. Ia mengaku belajar banyak hal baru tentang dunia bisnis dan pertambangan. Salah satu hal yang sangat menarik perhatiannya adalah tentang bisnis e-commerce yang sedang naik daun dan diminati. E-commerce adalah dunia baru yang sangat menarik perhatiannya, melihat arah marketing di era sekarang sudah menuju teknologi online semua. Selain mengenai teknologi e-commerce, ia juga sedang menyusun Tesis mengenai Zonasi Potensi Pertambangan berbasis Geographic Information System (GIS). Dengan GIS ini Adiba dapat melihat secara visual potensi-potensi tambang dan kemudian membuat perankingan potensi tambang dari dasar tersebut dengan bantuan beberapa metode.

Perempuan Pasti Bisa!

Adiba merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari keluarga guru. Tidak ada latar belakang keluarga yang bekerja ataupun kuliah di teknik/engineering. Dengan sedikit keras kepala, ia memutuskan untuk mendalami ilmu teknik pertambangan. Ia berpikir: kalau cowok bisa, kenapa aku gak bisa!Toh selama di sekolah ia tidak merasakan ada perbedaan berarti mengenai pelaksanaan tugas dan tanggung jawab antara pria dan wanita. Walaupun kemudian ia akhirnya sudah mengerti apa perbedaan wanita dan pria dalam dunia kerja. Ia berpendapat, seorang pria hanya berkarir dan fokus dalam pekerjaannya, full time, karena itu merupakan tanggung jawab utamanya dalam keluarga. Sedangkan wanita tidak bisa full timedalam pekerjaannya, karena tanggung jawabnya lebih dari itu, dia juga seorang istri yang bertanggung jawab dengan urusan rumah, seorang ibu yang merupakan manager dari anaknya, dan tanggung jawab moril yang jauh lebih besar dari bekerja. Tidak ada maksud mengotakkan potensi perempuan, ia malah berbicara bagaimana pentingnya dan beratnya tanggung jawab kita sebagai perempuan. Semua harus dilakukan maksimal: bekerja dan mengurus rumah tangga. Adiba menambahkan, teruntuk kaum perempuan yang mampu bermimpi dan sukses menjalani mimpinya, menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan ibu yang merupakan panutan untuk anak-anaknya, I salute you girls!

Terkait keterwakilan kaum perempuan di bidang ini, Adiba mengaku masih sangat sedikit. Seperti yang telah dikemukakan, sebagai contoh jumlah perbandingan mahasiswa dan mahasiswi di jurusan pertambangan adalah 10:1.

“Semua dosen di awal perkuliahan pasti menanyakan apa yang kami (perempuan) cari di bidang pekerjaan ini. Namun semua teman saya menjawab dengan lantang dan tegas bahwa kami juga bisa dan akhirnya pun kami membuktikan kami mampu lulus dan bekerja di bidang yang kami inginkan.” – Adiba Sabilla Ajrina

Medan berat pun tak jarang harus dihadapi oleh Adiba. Dalam pekerjaan yang ia jalani, dibutuhkan tenaga ekstra ketika kita meninjau lokasi pertambangan. Biasanya Adiba harus mengitari lokasi dengan luas minimal 5 Hektar untuk menentukan lokasi tersebut layak atau tidak. Di tempat kuliahnya, laki-laki diajarkan menjadi “gentleman” yang mengutamakan wanita terlebih dahulu ketika di lapangan. Ia bercerita, suatu ketika pernah bertugas dengan seorang laki-laki yang cuek dan tidak memandang apakah partner-nya perempuan atau laki-laki. Semua diperlakukan dengan sama saja tanpa memandang faktor fisik. Di dunia pekerjaan, ia mengaku bisa bertemu siapa saja dengan latar belakang apa saja. Intinya adalah sebagai seorang perempuan tidak bisa terus-terusan bergantung dan merasa dispesialkan dari kaum laki-laki. Hanya satu orang yang bisa kita andalkan, yaitu diri kita sendiri, begitu kata Adiba.

Pelajaran Hidup dan Pesan untuk Kawan Muda

Salah satu tantangan besar yang pernah Adiba hadapi adalah tentang bagaimana ia harus beradaptasi sendirian di kota besar. Bagaimana ketika berhadapan dengan partner kerja yang kurang cocok dan bagaimana ia harus memilih untuk tetap melakukan hal positif dalam hidupnya. Kalau sudah seperti itu, biasanya yang Adiba lakukan adalah tetap mengingat siapa dirinya dan what sparks her joy, bahwa ia senang berbagi dan berkegiatan volunteer. Ia tidak suka menjadi seseorang yang diam saja, tidak bergerak, dan tidak berprogress. Ketika ia ingat siapa dirinya dan apa yang bisa ia lakukan, maka ia sendiri pun terkejut dengan pencapaian yang bisa ia dapatkan sekarang. Ia tidak menyangka bahwa ia mampu berada di titik ini. Prinsip yang ia yakini adalah selalu yakin dan percaya pada kemampuan diri kita sendiri karena mungkin kalian akan terkejut sejauh mana diri kalian sendiri bisa berjuang. Pelajaran penting yang juga bisa diambil dari perjuangan karirnya adalah bagaimana kita harus yakin pada diri sendiri, siapapun kita, dan apapun background hidup kita. Selalu bersyukur dengan apa yang sudah dicapai, dan ingat siapa-siapa saja yang mengantar kita hingga titik ini.

Adiba juga bercerita bahwa ia ingin menjadi perempuan yang hebat, pejuang yang tangguh di manapun ia berada.

“Saya ingin menjadi sosok yang menginspirasi banyak orang dengan kemampuan dan pencapaiannya sekarang, walaupun saya tidak ada apa-apanya dibandingkan inspirator lain di Wonosobo Muda. Saya ingin menjadi perempuan tangguh yang berani bermimpi tinggi di bidang pekerjaan, istri yang baik yang mampu memberikan “nyawa” dan menjadi “rumah” bagi keluarga saya dan ingin menjadi Ibu dan role model yang baik bagi anak-anak saya kelak. Aamiin. Sederhana memang, namun sungguh hanya itu yang saya inginkan.”

Harapannya untuk Wonosobo dan Indonesia, jangan membatasi potensi perempuan, karena seorang perempuan adalah pemimpi yang berani dan tekun dengan perjuangannya. Tak lupa, ia juga berbagi pesan untuk sesama kaum perempuan: Perempuan yang bahkan punya kesempatan untuk bermimpi adalah perempuan yang beruntung. Bagi kalian yang berada di posisi itu, jangan berhenti untuk bermimpi. Yakinlah pada potensi kalian dan kerjakan semua hal yang bisa kalian kerjakan!

Bagaimana Kawan muda, inspiratif sekali bukan sosok yang satu ini? Semoga kawan-kawan juga terinspirasi untuk menjadi pejuang yang tangguh bagi kehidupan kalian masing-masing ya. Nah, apabila Kawan muda ingin berkorespondensi dengan Kak Adiba, kalian bisa menghubunginya lewat akun Facebook Adiba Sabilla Ajrina, serta akun Twitter dan Instagram @abhumsaa.

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0