Aku dan Kamu, Kita Ngapakers
Jumat malam menjelang weekend, menyesap cappuccino hangat sambil menghadap layar laptop di atas kasur dan berselimut kenangan akan mantan. Eh.
Oke, abaikan saja curhatan di atas.
Besok hari ‘kepulangan’ bagi anak rantau macam saya. Saya berdomisili di Purwokerto baru-baru ini, cukup dekat jika dibandingkan dengan kota domisili saya sebelumnya, Yogyakarta. Sebagai orang yang lahir dan besar di Wonosobo, saya memiliki cukup banyak kenangan di kota kesayangan saya ini. Cukup sulit untuk move on dari kota ini ketika saya pertama kali harus tinggal di luar kota. Cukup mengagetkan pula perubahan yang terjadi di Wonosobo dalam kurun waktu yang relatif singkat. Toko-toko berkonsep gaya hidup modern mulai menjamur, begitu pula dengan jumlah penduduk yang (menurut perasaan saya) semakin banyak. Jalan raya semakin ramai oleh kendaraan pribadi yang semakin banyak berlalu-lalang. Syukurlah, berarti orang Wonosobo makin makmur, hehe!
Bertahun-tahun hidup di kota orang, saya menyadari bahwa kota ini adalah kota ternyaman yang pernah saya tinggali. Saya menua di kota orang, tapi tidak ada yang lebih nyaman dari rumah saya, kampung halaman saya. Saya bersyukur bahwa saya lahir dan tumbuh dengan identitas khas kota ini, ‘nyong-dheke’.
Setiap saya menyebutkan bahwa saya berasal dari Wonosobo, orang langsung bertanya,”Ngapak ya berarti?” kemudian menirukan gaya ngapak Banyumasan. Agak bosan sebenarnya saya menjelaskan persepsi orang-orang yang agak menikung dari kenyataannya, karena hampir semua orang memahaminya demikian. Ngapaknya Wonosobo berbeda dari ngapaknya orang Banyumas, ini faktanya.
Terus, apa pentingnya kita bahas ngapak-mengapak di sini?
Bagi saya, sangat menyenangkan untuk mengetahui bahwa kita memiliki hal yang berbeda dengan orang lain. Dulu, bahasa ngapak sempat ngehits di kalangan anak-anak jurusan saya di kampus. Ngapak seems so unique and different. Lihatlah, diantara orang-orang yang ber-‘aku-kowe’-an ngapak hadir sebagai bahasa yang sama sekali berbeda dengan bahasa yang setiap hari mereka gunakan. Terselip rasa bangga juga di hati saya, karena saya menguasai apa yang tidak semua orang kuasai. Bahasa Inggris? Gampang, semua sekolah menyediakan mata pelajaran itu, lagipula banyak tempat les yang menyediakan pelajaran tambahan bagi yang masih ndap-ndep Bahasa Inggrisnya kayak saya. Bahasa Indonesia apalagi, hampir semua orang bisa menggunakan bahasa kebangsaan kita ini. Bahasa ngapak? Ah, tempat les mana pula yang menyediakan kursus bahasa ngapak. Dalam mata pelajaran resmi di sekolah pun tidak ada, paling sekali-dua kali nyelip di LKS Bahasa Jawa.
Di Wonosobo sendiri, saya justru sering menemui adanya campursariners. Apaaaa lagi tuh campursariners? Perlu diketahui bahwa campursariners ini tidak ada hubungannya dengan masyarakat Campursari dan sekitarnya. No offend yah. Campursariners adalah istilah yang saya ciptakan sendiri bagi rekan-rekan sesama pelajar yang tinggal di Wonosobo, lahir serta besar di sini, dan ngobrol dengan bahasa campuran Indonesia-Jawa ngapak. Klub campursariners ini biasanya saya temui di angkot ketika berangkat sekolah jaman saya muda dulu. Entah sekarang apakah masih ada, bertambah banyak, atau malah mungkin sekarang tidak ada sama sekali.
Entah karma atau bagaimana, saya sendiri kadang-kadang masuk ke dalam golongan campursariners saat ini. Karena terbiasa berbicara dalam bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, membuat saya kadang-kadang terbawa untuk terus menggunakan bahasa kebangsaan bahkan saat sedang berbincang dengan teman satu daerah. Hal inilah yang sedang saya cermati dalam diri saya sendiri. Saya malu. Saya malu menjadi campursariners. Saya ingin kemampuan bahasa ngapak saya kembali kental seperti dahulu.
Bahasa dan Kebiasaan
Bahasa adalah salah satu perwujudan dari budaya. Bahasa adalah salah satu bentuk budaya yang terlihat paling jelas. Bahasa adalah cara bagi makhluk hidup, terutama manusia, untuk berkomunikasi dengan sesamanya, baik secara verbal maupun non verbal. Bahasa adalah kesepakatan, artinya bahasa yang digunakan oleh sekelompok orang untuk berkomunikasi telah disepakati oleh anggota dari kelompok itu. Simbol-simbol dalam berbahasa juga disepakati oleh anggota-anggota kelompok agar mereka saling memahami pesan apa yang dikirimkan oleh sesama anggota kelompok.
Begitu pula bahasa ngapak. Penutur bahasa ini saling mengetahui makna dari istilah-istilah yang tidak diketahui oleh sembarang orang. Eksklusifitas inilah yang menyebabkan bahasa ngapak adalah salah satu bahasa yang unik di negara kita. Ngapak Wonosobo sendiri ternyata berbeda dengan ngapaknya orang Banyumas. Inilah yang disebut dialek, variasi penggunaan bahasa oleh sekelompok orang dalam wilayah tertentu. Menurut guru Antropologi favorit saya di SMA dulu, Wonosobo adalah tempat bertemunya budaya Jawa Ngayogyakarta dan Jawa Banyumasan. Inilah yang menjelaskan mengapa ngapaknya Wonosobo itu unik. Setengah Yogya dan setengah Banyumas.
Pernah mendengar ungkapan ‘bisa karena biasa’? Kebiasaan inilah yang membentuk bahasa yang digunakan oleh seseorang dalam berkomunikasi. Apakah dia berbicara dalam bahasa Jawa atau Indonesia, kebiasaannyalah yang membentuk itu semua. Seseorang mampu berbahasa Jawa krama secara mlipit karena terbiasa sejak kecil dan penerapan yang berulang-ulang, sedangkan yang lain hanya mampu berbahasa Jawa ngoko karena tidak menerapkan penggunaan bahasa Jawa krama secara intens. Orang yang terbiasa berbahasa Jawa ngoko akan merasa kesulitan jika diminta berbicara menggunakan bahasa Jawa krama.
Sama halnya dengan para campursariners. Barangkali campursariners terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia di rumah, kemudian berusaha menyesuaikan diri dengan teman-temannya di sekolah yang berbahasa Jawa ngapak. Atau bisa jadi sebaliknya, terbiasa berbahasa Jawa ngapak dan menyesuaikan diri dengan teman yang berbahasa Indonesia.
Ngapak dan Media Massa
Bahasa yang kita miliki sangat unik dan berbeda dari bahasa-bahasa lainnya. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi kita untuk berbangga diri karena berbudaya yang memiliki ciri khas tersendiri. Orang Padang memiliki bahasa Minang, orang Jawa Barat memiliki bahasa Sunda, orang Jakarta punya bahasa Betawi. Kita? Ngapak dong!
Kamu merasa tidak keren saat bicara bahasa lokal? Bagaimana kalau ada bule ganteng tiba-tiba ngajakin kamu ngomong ngapak? Apa kamu akan merasa dia keren karena dia bisa bicara ngapak? Atau malah ilfeel mendengar dia bicara ngapak? Apakah kita harus menunggu ada orang bule bicara ngapak dulu baru kita akan merasa bahwa ngapak itu keren?
Saya sering sekali mendengar kalimat,”Ayu-ayu ngapak.” atau,”Tadinya kelihatannya cantik, anggun. Pas buka mulut, eh, ngapak. Nggak jadi deh.”. Kalau kita cermati, apa hubungannya bahasa ngapak dengan wajah cantik?
Kalimat-kalimat di atas adalah contoh deretan pernyataan sumbang yang sering dilontarkan oleh sebagian orang. Mereka menganggap bahwa ngapak adalah sebuah ‘aib’ bagi penuturnya. Stereotip seperti itu kemudian menjadi lazim di tengah masyarakat Indonesia karena dilanggengkan dalam tayangan media massa. Penutur bahasa ngapak biasanya digambarkan melalui sosok yang ndeso, lugu, dan bodoh. Biasanya bahasa Jawa dan ngapak ditampilkan sebagai bahan lucu-lucuan di berbagai acara televisi. Hal ini menyebabkan munculnya stereotip bahwa ngapak itu tidak modern, ngapak itu tidak gaul, ngapak itu bikin ilfeel. Meski tidak lagi memiliki kekuatan penuh untuk mempengaruhi semua khalayak yang mengkonsumsinya, media massa tetap membawa pengaruh bagi sebagian konsumennya. Terbukti dari kalimat-kalimat di atas, media massa masih memiliki kekuatan untuk mempengaruhi penontonnya agar mempercayai simbol-simbol yang dikirimkannya. Penonton yang tidak melek media tentunya akan mudah terpengaruh atas simbol-simbol yang telah dimodifikasi oleh media.
Jadi, sudahkah kamu ngapak hari ini?
