Andakah Kartini
21 April 2016, jam 07.15 pagi
Hujan.
Hujan sudah mengguyur kota tempat saya bernaung saat ini semenjak semalam. Agaknya langit belum merasa cukup untuk memuntahkan airnya ke bumi. Maka pagi ini, udara begitu dingin dan suasana terasa kelabu. Tapi kewajiban tetap mengharuskan saya terbangun dan menyeret tubuh untuk berangkat bekerja.
Kereta
Sebagai seseorang yang tinggal di daerah sub-urban, saya harus commute tiap hari menggunakan kereta untuk dapat sampai kantor. Memang, kereta yang disediakan sekarang semua sudah menggunakan pendingin udara. Pun harganya sangat miring mengingat pemerintah memberikan subsidi yang cukup besar untuk menyokong biaya operasional kereta commuter ini. Namun sebagai kendaraan sejuta umat, jangan pernah berharap mendapat tempat yang nyaman di jam-jam sibuk. Bisa masuk ke dalam gerbong kereta-pun, kadang adalah sesuatu yang perlu disyukuri.
Perjalanan kali ini nyatanya menyentil sebuah pemikiran dalam benak saya. Di kereta ini, saya berdiri di dapan bangku panjang yang sudah penuh terisi penumpang. Yang membuat saya terusik adalah, semua penumpang yang duduk di bangku depan saya adalah perempuan, kecuali seorang laki-laki, yang malangnya duduk tepat di depan saya. Dalam hati, saya setengah berharap, alangkah bahagianya jika laki-laki tersebut mau berdiri dan memberikan tempatnya bagi saya, yang notabene adalah satu-satunya perempuan yang berdiri dalam jangkaun penglihatannya. Satu-dua stasiun terlewati, nyatanya laki-laki itu tidak kunjung berdiri. Bahkan dia memejamkan matanya sambil mengenakan headset di telinga. Di sisi lain, semakin banyak penumpang yang masuk sehingga saya-pun semakin terhimpit.
Misuh-misuh
Ya, misuh-misuh. Saya kesal karena laki-laki itu tidak kunjung berdiri, malah asyik dengan telepon genggam di tangannya. Pada akhirnya, saya baru mendapatkan tempat duduk tepat satu stasiun sebelum stasiun pemberhentian saya. Itu-pun karena ada seorang ibu-ibu yang sudah sampai tujuan, bukan karena laki-laki yang duduk ini. Namun, ketika itulah saya teringat tentang kartini, dan kata-kata maha dahsyat yang selalu mengiringi ketika namanya muncul ke permukaan.
Emansipasi.
Kartini dikenal sebagai seorang perempuan yang memperjuangkan emansipasi. Agar baik laki-laki maupun perempuan dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Jikalau demikian halnya, tentu bukanlah sebuah kesalahan jika laki-laki di kereta duduk sementara ada perempuan yang berdiri (well, kita punya kesempatan yang sama kan, tergantung siapa yang duduk terlebih dahulu). Semakin saya pikirkan, saya merasa malu pada diri sendiri, karena sempat misuh-misuh tentang pemberian hak istimewa bagi perempuan (dengan berharap diberi tempat duduk) di hari dimana saya seharusnya merayakan persamaan dan kesetaraan yang dimiliki laki-laki dan perempuan. Tentu pertimbangan siapa yang berdiri siapa yang duduk seharusnya tidak hanya memperhatikan jenis kelamin masing-masing. Kekuatan, kesehatan dan kondisi tentu berpengaruh. Namun hari ini, saya yang sama sehat, sama bugar dan sama kuatnya untuk berdiri sepanjang perjalanan kok bisa-bisanya misuh-misuh terhadap orang lain hanya karena kami beda jenis kelamin.
Rasa-rasanya, peristiwa hari ini menyadarkan saya bahwa emansipasi bukan berarti hak istimewa. Tentu, tidak dapat dipungkiri bahwa ada aspek-aspek tertentu pada diri perempuan yang membuatnya berbeda dengan laki-laki, sehingga membutuhkan perlakuan yang berbeda pula. Akan tetapi, saya rasa hak istimewa tidak seharusnya selalu ditonjol-tonjolkan.Entahlah, ini hanya sebuah opini saya, dan tentu tidak dimaksudkan untuk disetujui oleh seluruh perempuan di dunia.
Semoga saya dan kita bisa menjadi perempuan yang memahami arti emansipasi lebih dari sekedar perayaan tahunan.

Leave a Reply