Memahami Hari Kartini
Apa yang teman-teman lihat ketika hari Kartini terjadi?
Yang saya amati si seperti ini.
1. Anak-anak sekolah dan kantoran menyemarakkan dengan memakai kebaya, atau batik. Penuansaan di tempat-tempat umum khas Kartini, seperti pegawainya memakai kebaya, dan lain sebagainya.
2. Mengadakan berbagai lomba dengan tema perempuan seperti masak, atau misal yang menunjukkan ’emansipasi’ versi mereka sendiri. Misalnya lomba futsal wanita atau kegiatan yang menunjukkan bahwa ‘wanita gak kalah kok dengan laki-laki.’
Masih ada lagi?
Setelah tadi malam googling tentang quotes Kartini, saya jadi sadar. Ternyata perjuangan Kartini, bukan sekedar hal-hal di atas. Perjuangannya terhadap perempuan adalah agar keluar dari kebodohan, dan bisa menjalankan peran perempuannya dengan baik, dan bukan emansipasi seperti yang digaungkan ‘bahwa wanita harus bisa melakukan seperti lelaki.’
Jika dibredeli satu-satu, perjuangan Kartini mengandung banyak pesan. Diantaranya,
1. Mencari Ilmu
Kartini telah membuka jalan dan membongkar paradigma bahwa perempuan zaman dahulu hanya bertugas di rumah, tanpa pendidikan.
Beliau percaya bahwa pendidikan adalah jalan keluar bagi kebahagiaan perempuan, yaitu menimba ilmu dan keluar dari pembodohan.
Namun jaman sekarang masih ada yang berpendapat, perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi, pentingkan dahulu keluarga. Padahal menurut saya, mencari ilmu itu tugas setiap manusia, sampai kapanpun, melalui apapun, tidak harus bersekolah lagi pun, bahkan hingga nanti setelah berkeluarga.
2. Punya Impian
Kata Kartini, “Cita-cita adalah memperindah martabat manusia, dan mendekatkan pada kesempurnaan.”
Manusia menjadi satu-satunya makhluk yang dianugerahi akal, yaitu akal untuk berbuat dan akal untuk bersikap.
Cita-cita bisa menjadi perwujudan akal manusia, ingin dijadikan bermanfaat atau tidak. Cita-cita juga menjadi penghubung manusia dengan Tuhannya, dalam berdoa dan berusaha. Mendekat kepada kesempurnaan bisa diartikan sebagai menjalankan perannya untuk bermanfaat bagu sesama dan mengabdi kepada Tuhannya.
3. Tidak Pernah Menyerah
“Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang, karena selangkah lagi kamu akan menang.”
Kadang kita bilang, kita tidak bisa karena gagal setelah baru pertama kali mencoba.
Padahal percobaan butuh dilakukan berkali-kali. Lampu saja ditemukan setelah 1000 kali percobaan. Mencoba memang tak selalu berhasil sesuai keinginan. Tapi tak mencoba, bisa saja membuat kita menyesal, bisa jadi seumur hidup.
4. Jangan Mengeluh
“Jangan mengeluhkan hal yang buruk, yang datang pada dirimu. Tuhan tak pernah memberikannya. Kamulah yang membiarkannya datang.”
Hal buruk memang tidak pernah diinginkan. Dalam merespon hal buruk, kita mau mengeluh atau tidak mengeluh, pilih yang mana? Jadi mengeluh adalah pilihan kita sendiri, sebagai respon atas semua hal yang kita alami.
Kadang, mengeluh itu wajar karena tiap orang punya ketahanan yang beda-beda. Tapi kalau kelebihan ya harus dikurangi, kalau terlalu sering harus disembuhkan.
Bagaimana caranya? Berdasarkan pengalaman pribadi, caranya dengan menuliskan kata-kata penguatan untuk diri sendiri.
5. Kebahagiaan Tersejati
Kebahagiaan tersejati Kartini adalah berhasil membuka jalan bagi para perempuan agar tidak terkungkung, merdeka dan ‘bisa berdiri’.
Jalannya adalah dengan menempuh pendidikan untuk menjadi manusia berilmu.
“Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ujung jalan, dan meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan berbahagia, karena jalannya sudah terbuka, dan saya ada turut mengadakan jalan, menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.”
Lalu, apa kebahagiaan tersejatimu?
Semoga kita semakin memahami makna perjuangan Kartini, dan semakin mendekat kepada cahaya yang menyebabkan “habis gelap terbitlah terang”.
Walaupun tidak bisa menjadi seterang cahaya, paling tidak mendekat, dan berusaha mendekat. (Apid)
21 April 2016,
Dalam perjalanan Jakarta-Depok

Leave a Reply