Senin pagi saya dimulai dengan sebuah judul di sudut bawah bagian muka sebuah surat kabar terbitan dua hari sebelumnya. “Empat Wanita Kandidat Sekjen PBB Tak Andalkan Keperempuanan untuk Dulang Dukungan”, begitu kira-kira bunyinya. Terang saja judul se-seksi itu langsung menggelitik saya untuk lanjut membacanya. “Bisa dipakai buat bahan tulisan edisi Kartinian nanti, nih!” begitu pikir saya. Hehe.

Berita ini memaparkan mengenai empat perempuan kandidat Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) yakni Helen Clark, Irina Bokova, Vesna Pusic, dan Natalia Gherman. Bukan karena PBB sekedar membutuhkan penyegaran karena selama ini pejabat tertinggi organisasi dunia tersebut adalah kaum adam, tetapi mereka terpilih sebagai kandidat karena performa yang benar-benar excellent. Helen Clark misalnya, sebelumnya pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Selandia Baru dan saat ini menjabat sebagai Kepala UNDP, sebuah badan PBB untuk program pembangunan. Begitu pula dengan kandidat lainnya, Irina Bokova adalah Direktur UNESCO, Vesna Pusic pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Kroasia, dan Natalia Gherman merupakan mantan Menteri Luar Negeri Moldova. See?

Dalam sejarah Indonesia pun, perempuan memiliki andil yang besar dalam kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Sebut saja Tjoet Njak Dhien, Martha Christina Tiahahu, Dewi Sartika, Nyi Ageng Serang, dan yang namanya selalu terngiang setiap tanggal 21 April, Raden Ajeng Kartini. Kata siapa perempuan hanya boleh hidup di rumah? Kata siapa perempuan tak boleh berkiprah di ruang publik?

 

Perempuan dan Peran dalam Kehidupan Bermasyarakat

Pernahkah kamu mendengar ungkapan seperti,“Wong wadon kuwi kodrate masak, macak, manak.” (“Perempuan itu kodratnya memasak, berdandan, dan melahirkan anak.”)? Yup, ungkapan seperti ini seolah terdengar biasa saja. Namun, bagi kita kaum perempuan, ungkapan seperti ini tidak boleh menjadi acuan bagi kehidupan kita di masa depan. Bicara soal kodrat, pada hakikatnya kodrat merupakan kondisi yang tidak bisa ditolak oleh seseorang dan tidak bisa digantikan oleh orang lain. Dalam hal ini kodrat yang melekat pada perempuan adalah menstruasi, melahirkan, dan menyusui. Peran itulah yang tidak bisa digantikan oleh opposite sex-nya, yakni laki-laki. Jadi bisa disimpulkan di sini bahwa masak dan macak bukanlah termasuk kodrat perempuan, bahkan sebenarnya manak pun tidak lagi menjadi suatu keharusan bagi perempuan masa kini. Seorang perempuan sudah seharusnya memiliki kuasa penuh atas diri dan tubuhnya, sehingga ia bisa memutuskan bagaimana menyusun hidup ideal menurutnya.

Kembali lagi pada peran perempuan dalam masyarakat. Tidak bisa dipungkiri bahwa peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat kini telah berkembang. Perempuan tidak lagi diharuskan untuk tinggal di rumah sepanjang waktu. Saat ini, perempuan telah banyak yang teredukasi dan memiliki berbagai profesi. Namun, tidak sedikit juga anggota masyarakat yang masih berpikir,”Ngapain sih perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya ke dapur juga.”.

Dalam masyarakat kita yang masih menganut paradigma patriarkis, di mana posisi laki-laki dianggap sebagai tokoh sentral dalam organisasi sosial, peran yang biasa dijalankan perempuan masih berkisar dalam sektor domestik. Perempuan dianggap bertanggung jawab atas rumah dan isinya, sedangkan laki-laki adalah sang pencari nafkah di luar rumah. Laki-laki dianggap sebagai kepala keluarga yang memiliki ‘kuasa’ untuk memimpin perempuan yang dianggap sebagai warga kelas dua. Perempuan memiliki tanggung jawab yang tidak hanya seputar di dalam rumah, tetapi juga dalam ranah sosial. Di lingkungan desa yang masih kental dengan pandangan tersebut, perempuan tidak memiliki ruang gerak yang leluasa untuk mengembangkan potensi dirinya.

Namun demikian, tidak semua perempuan terbelenggu dalam cara pandang patriarkis. Penduduk di perkotaan umumnya menyadari pentingnya pendidikan, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Begitu pula dengan sektor publik yang semakin banyak dijangkau oleh kaum perempuan. Hal ini tentu saja merupakan kemajuan yang baik, karena perempuan dapat diakui kompetensinya dalam sektor publik.

 

Perempuan, Lelaki, dan Tanggung Jawab Dalam Rumah Tangga

Terlepas dari bagaimana paradigma patriarkis membentuk pola pikir masyarakat, seorang perempuan tetaplah memiliki tanggung jawab atas apa yang ia pilih. Perempuan boleh memilih bidang apapun yang ia sukai, dan dalam hal ini berarti ia telah memutuskan untuk menerima segala konsekuensi apapun yang mengekor pada pilihan tersebut. Sebagai wanita karir, seorang perempuan bertanggung jawab atas tugas yang dibebankan kepadanya dan dituntut untuk bersikap profesional di tempat kerja. Begitu pula ketika seorang perempuan memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, ia bertanggung jawab atas seluruh proses manajerial dalam keluarganya.

Sehubungan dengan kalimat terakhir di paragraf sebelumnya, pada era ini jumlah ibu rumah tangga yang merangkap sebagai wanita karir tidaklah sedikit. Selain karena tuntutan faktor ekonomi, perempuan masa kini tidak mudah menyerah atas mimpi yang belum ia capai sekalipun ia telah berkeluarga. Saya sendiri merupakan anak dari ibu rumah tangga yang berkarir di bidang pendidikan.

Dibesarkan dalam keluarga dengan ayah dan ibu berkarir di luar rumah, saya belajar banyak mengenai peran dan tanggung jawab laki-laki serta perempuan dalam rumah tangga. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, peran yang ‘harus’ diemban oleh perempuan dalam masyarakat yang menganut cara pandang patriarkis adalah masak, macak, manak. Bahkan peran ini disebut sebagai ‘kodrat’ untuk melanggengkan legitimasi atas ‘keharusan’ yang ‘tidak boleh tidak’ dilakukan oleh perempuan tersebut. Dalam artian, segala hal yang berada dalam sektor domestik (rumah) dianggap sebagai tanggung jawab isteri (perempuan). Hal ini, untunglah, tidak terjadi di rumah saya. Memang, ibu saya tetap mengerjakan tugas-tugas rumahnya seperti memasak, bersih-bersih, dan lain-lain, tetapi ayah saya sebagai laki-laki —yang dalam hierarki konsep patriarki merupakan tokoh sentral— tidak menganggap tugasnya hanya mencari nafkah semata. Ayah saya juga mengerjakan pekerjaan sektor domestik seperti menyapu, mengepel, mencuci baju, dan lain sebagainya. Inilah, yang menurut saya, merupakan salah satu bentuk dari kesetaraan gender. Peran seorang laki-laki di sini tidak lagi hanya berputar di luar rumah (sektor publik), tetapi juga di dalam rumah (sektor domestik), seperti halnya perempuan.

Bagi saya, bukanlah hal yang tabu ketika seorang laki-laki mengerjakan pekerjaan yang sebelumnya dianggap sebagai wilayah pekerjaan perempuan saja. Bukan pula laki-laki tersebut menjadi ‘suami takut isteri’, sebaliknya justru di situlah letak kejantanan seorang laki-laki dengan caranya berbagi tanggung jawab dengan isterinya. Bukankah rumah tangga itu dibangun atas kesepakatan dua orang, seorang suami dan seorang isteri? Jadi, saya rasa bukanlah suatu hal yang salah ketika segala pekerjaan dalam rumah tangga dikerjakan bersama.

Laki-laki dan perempuan memiliki perannya masing-masing. Begitu pula kapasitas yang sama untuk berkiprah dalam sektor domestik maupun sektor publik. Emansipasi bukanlah mengenai kemenangan perempuan atas laki-laki, melainkan sebuah usaha menuju tercapainya persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Hak memiliki cita-cita yang sama tingginya antara perempuan dan laki-laki, hak atas kesempatan berkarya yang sama luasnya antara perempuan dan laki-laki, hak untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya baik bagi perempuan maupun laki-laki, dan lain-lain.

Seperti empat kandidat Sekjen PBB di atas, kita sebagai perempuan sudah seharusnya berani untuk berjuang dan bermimpi. Di era globalisasi dengan persaingan yang super ketat seperti sekarang ini, perempuan harus memiliki kompetensi yang cukup untuk dapat bertahan dalam persaingan yang tidak hanya dengan kaum laki-laki tetapi juga dengan sesama perempuan. Sebagai perempuan, kita wajib berprestasi dalam setiap kiprah kita di masyarakat, jangan hanya mengandalkan identitas keperempuanan seperti kecantikan atau kemolekan tubuh. Bukankah lebih menyenangkan dipuji karena prestasi daripada dipuji karena cantik? (Shinta)

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0