Ketika kita mendengar kata “Dieng” saya yakin yang terbesit diantara pikiran anda semua adalah bagaimana keindahan alam disana, Dieng menjadi daya tarik masyarakat berbagai kalangan karena memang mempunyai objek wisata yang khas seperti gunung prau, sunrise sikunir, telaga warna, telaga pengilon, telaga dringo, kawah sikidang, komplek candi arjuna, dieng plateau museum, batu pandang ratapan angin, padang semurub savana dieng ataupun berbagai objek wisata lain yang memang sudah tidak asing lagi di telinga kalangan masyarakat. Terlebih ketika sekarang kita memasuki era digital dimana banyak sekali berita, cerita, atau gambar menarik dari Negeri Diatas Awan ini membuat animo masyarakat dari berbagai daerah berbondong-bondong melancong ke Dieng demi penyegaran pikiran dan perasaan karena memang udara disana dingin, sejuk, dan bersih. Dieng sendiri merupakan komplek wisata yang kepemilikannya terbagi untuk 2 kabupaten yaitu Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Tentu saja anggaran pemasukan daerah dari sektor wisata di dieng ini tidak main-main, sektor wisata yang mampu ambil bagian besar pada sumber pemasukan kabupaten. Selain terkenal dengan wisatanya yang indah, Dieng adalah penghasil sayur mayur dengan kualitas kelas atas yang tiap hari di distribusikan ke berbagai daerah di Jateng dan DIY olehkarenanya penduduk setempat mayoritas adalah petani. Sungguh ladang uang.

Namun, pernahkah kalian renungkan bahwa saat ini Negeri Diatas Awan yang kita kagumi tersebut dalam keadaan kritis? kritis yang saya maksud disini adalah adanya Degradasi atau penurunan kualitas tanah yang tentunya bisa berdampak ke beberapa aspek termasuk bencana alam ataupun kelangsungan hidup petani Dieng di masa depan. Sebelumnya memang kita sering mendengar bahwa tanah longsor ataupun banjir bandang terjadi di daerah yang mempunyai ketinggian ± 2.095 meter dpl ini, namun akankah cerita ini akan terus berlangsung tanpa adanya solusi? Jika kita menelisik, alih fungsi lahan besar-besaran sehingga terjadi penggundulan hutan dan pemberian pupuk berlebihan pada lahan pertanianlah yang sekiranya bisa menjadi penyebab utama bencana tersebut selain memang curah hujan yang tinggi.

Tentang Sebab dan Lahan
Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, kepadatan penduduk Dieng termasuk tinggi dengan rata-rata 100 jiwa/km² dan pemilikan lahan rata-rata sebesar 0,1 ha,  menyebabkan besarnya tekanan terhadap sumberdaya alam yang ada, berupa pengalihan fungsi lahan kawasan lindung menjadi lahan budidaya pertanian intensif. Terlebih hal tersebut ditambahkan oleh pengakuan Ketua Asosiasi Petani Kentang Dieng, Bapak Mudasir yang mengatakan petani semakin berlebihan dalam menggunakan bahan kimia untuk obat tanaman. Selain itu, mereka salah dalam menggunakan pupuk, yaitu dengan memakai kotoran ayam yang belum diolah. Dosis penggunaan kotoran ayam pun kian berlebihan. Jika pada 1990 lahan kentang seluas 1 hektar membutuhkan 20 ton kotoran ayam, kini untuk luasan yang sama digunakan 35-40 ton kotoran ayam. Kelemahan kotoran ayam mentah adalah banyaknya penyakit yang dibawa dan merugikan tanah dan berpotensi melukai tanaman. Penggunaan kotoran ayam yang berlebihan juga menyebabkan polusi udara di Dieng sampai sekarang ini. Sepanjang Dataran Tinggi Dieng, bahkan hingga ke kawasan candi, bau tidak sedap selalu tercium dari kotoran ayam yang menumpuk di banyak tempat. Selain itu, penggunaan pestisida juga terlalu berlebih. Pada 1 hektare lahan kentang, untuk satu kali musim tanam, normalnya dibutuhkan 75-100 liter pestisida. Namun, petani kentang di Dieng menggunakan hingga 300 liter pestisida per musim tanam.

Akibatnya, lahan di Dieng semakin kritis. Saat ini, 7.758 hektare dari total sekitar 10.000 hektare lahan di Dieng kritis, yang meliputi 4.000 hektare di Wonosobo dan sisanya di Banjarnegara. Kerusakan lahan juga dipicu penanaman kentang di areal lereng dengan kemiringan hingga 70 derajat. Akibatnya, erosi tanah di Dieng mencapai 4,5 juta ton per tahun sehingga, saat hujan deras, air langsung menerjang lereng karena tidak ada tegakan penangkap air. Dari hasil jelajah saya, penyebab terjadinya degradasi tanah di dataran tinggi Dieng antara lain ialah, Kecilnya kepemilikan lahan, Intensifikasi tanaman semusim (kentang) tanpa mengindahkan kaidah konservasi, Rendahnya tingkat kesadaran dan kepedulian publik terhadap kerusakan SDH, degradasi lahan dan lingkungan, dan lemahnya koordinasi antar sektor dan dalam pembangunan wilayah.

Sebuah Bencana
Permasalahan longsor dan banjir yang terjadi di Dieng dan potensi dampak yang ditimbulkan antara lain, Tingkat pemanfaatan yang tidak diikuti dengan pengelolaan sumberdaya lahan yang berkelanjutan, Karakteristik hak kepemilikan pribadi (private property rights) yang otonom dalam pengambilan keputusan menyebabkan masyarakat memanfaatkan lahan milik tanpa memperhitungkan eksternalitas yang dihasilkannya, Keputusan yang dibuat umumnya didasarkan pada rasionalitas jangka pendek dan untuk kemanfaatan individu, sementara kemanfaatan jangka panjang dan perlindungan lingkungan untuk kemanfaatan sosial jarang dijadikan acuan, Potensi dampak negatif pemanfaatan sumberdaya lahan dan hutan yang eksploitatif antara lain banjir, tanah longsor, sulitnya memperoleh air dengan kualitas dan kuantitas yang memadai dan rusaknya kawasan wisata menjadi beban bagi orang lain.

Data yang didapat dari pemerintah Kabupaten Wonosobo menyebutkan bahwa Selama tiga tahun terakhir, tercatat terjadi 17 kali banjir dan 70 bencana tanah longsor di Wonosobo. Salah satu contoh musibah tanah longsor dan banjir bandang yang terjadi di kawasan Pegunungan Dieng, tepatnya di Dusun Sidorejo Desa Tieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo tahun lalu yang juga menewaskan beberapa orang termasuk adik kelas SMA saya.

Besar harapan saya, adalah adanya kepedulian yang sama-sama dibangun oleh berbagai stakeholder untuk memajukan kesejahteraan alam Wonosobo khususnya Dataran Tinggi Dieng ini. Terkait dengan lahan, solusi yang bisa dilakukan seperti  Penanaman pohon di hutan Dieng untuk mengembalikan fungsi hutan dan mencegah tanah longsor, Difersifikasi tanaman untuk lahan pertanian, Kerjasama dari pemerintah khususnya Perhutani untuk selalu memantau hutan agar penggundulan hutan tidak terjadi lagi dan menindak tegas masyarakat yang melakukannya, dilakukannya pengarahan secara intensif dari pemerintah untuk pelestarian lingkungan atau konservasi, dan mulai membuka lapangan kerja baru untuk masyarakat Dieng melalui sektor pariwisata saya rasa menjadi hal yang wajib dan sangat harus pemerintah daerah lakukan.

Penutup
Karena semua ini bukan hanya tentang korporasi dan sifat manusia yang serakah, tapi juga tentang kepedulian yang harus dibangun dari semua elemen masyarakat. Karena jangan sampai keindahan alam di Dieng seperti yang kita kenal sekarang ini tidak bisa dinikmati generasi mendatang. Sudah cukup korban jiwa yang berjatuhan akibat bencana karena keserakahan manusia sendiri. Dan ketika anda membaca tulisan ini, saya harap keyakinan dan semangat akan selalu terbangun demi Dieng yang lebih baik lagi. Semoga bisa menjadi renungan, dan tindakan masyarakat Wonosobo khususnya, terutama kepada Bapak Bupati baru dan Jajaran Pemda untuk memprioritaskan konservasi dan pembangunan daerah terluar daripada terus membangun infrastruktur kota yang dinikmati “segelintir” orang. Semoga.

 

Yogyakarta, 12 April 2016

Seorang Putra Daerah

Referensi : 

Dieng Pleteau : http://diengplateau.com/save-dieng-kerusakan-lingkungan-dan-bencana-alam-dieng
Diakses 11 April 2016 pukul 20.30 di Yogyakarta

National Geographic Indonesia : http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/08/salah-olah-dan-kelola-lahan-dieng-kritis
Diakses 11 April 2016 pukul 20.30 di Yogyakarta

Novitaningrum. 2015. Degradasi Tanah di Dataran Tinggi Dieng : Makalah Pendidikan Lingkungan Hidup. Universitas Negeri Semarang. Semarang

 

(Oleh Mahardika Bima Agil)

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0