Pak, Bu, Kami Sudah Gede

Pak, bu, apakabar? Kami dengar dari orang-orang bapak dan ibu sedang capek. Kami sering dengar,
Katanya wonosobo jadi kota termiskin nomor satu se jawa tengah ya? Tapi kenapa bapak dan ibu masih bisa memberi kami uang saku?

Pak, bu, katanya pendidikan di wonosobo dalam kondisi memprihatinkan ya?
Tapi kenapa bapak dan ibu tidak pernah adakan beasiswa untuk mereka?

Pak, bu, kemarin kami lihat di tv, pemilu di wonosobo katanya tidak bersih, Banyak serangan fajar, ibu dan bapak tidak kena kan?

Pak, bu, katanya pembangunan di kota lagi ramai-ramainya, tapi kok jalan yang kami lewati dari pelosok masih banyak yang rusak?

Pak, bu, katanya pasar wonosobo sudah setahun kebakaran ya? Tapi katanya belum juga di renovasi, kami kasihan dengan pedagangnya.

Pak, bu, katanya APBD wonosobo itu kecil, tapi kok kalo ada rapat selalu kebanyakan snack?

Pak, bu, katanya sekarang hampir setiap hari ada orang beli mobil di wonosobo, tapi juga ada tiap hari beli beras aja nggak bisa. Bagaimana kesenjangannya?

Pak, bu, katanya banyak orang-orang hebat disini, tapi mereka nyari kerja aja di kota sendiri susah. Kami takut mereka diadopsi daerah lain.

Pak, bu, katanya wonosobo jadi kota dengan kriminalitas yang tinggi. Tapi kami punya bapak dan ibu yang siap melindungi kami dari preman-preman. Tapi, jangan peralat mereka ya.

Pak, bu, banyak lahan bermasalah di wonosobo, pabrik-pabrik semakin lihai menyedotnya. Kami takut ada konflik sengketa disini.

Pak, bu, katanya wonosobo kota agraris, kaya flora dan fauna. tapi kenapa flora dan fauna endemik hampir punah?

Pak, bu, kami iri dengan teman kami dari luar sana, mereka sering ikut acara kedaerahan, dapat afirmasi dari daerah, tapi kami enggak.

Pak, bu, gimana tingkat korupsi di wonosobo? Kami lihat kayaknya sepi saja. Memang tidak ada, atau justru saking rapinya?

Pak, bu, kenapa banyak masalah disini? Kenapa bapak dan ibu tidak pernah memberitahu kami? Kami diluar sana cemas dengan kota kami.

Bapak dan ibu butuh apa? Dokter, akuntan, ahli ekonomi, ahli sosial politik, ahli pertanian dan peternakan, ahli hukum, ahli psikologi, ahli ahli apapun pak bu, kami siap. Kami ada. Kami peduli.

Kami cuma khawatir, kota yang kami cintai ini semakin terpuruk. Kami takut tak ada yang kami banggakan.

Diluar sana kami berdoa, berusaha. Kami cukup vokal disana, kami takut justru kami diakui daerah lain.

Pak, bu, dirumah ada apa? Ceritakan ke kami. Jangan ragu pada kami, kami akan berusaha semampu kami.

Pak, bu, maafkan kami. Kami mungkin bicara nakal, tidak seperti kebenaran yang terjadi. Itu semata karena kami tidak tahu. Bapak dan ibu tidak pernah memberitahu kami sebenarnya. Kami hanya mencaritahu sebatas anggapan kami.

Pak, bu, lihat kami. Ajak kami berdiskusi.
Pak, bu, kami sudah gede.

…………………………….
Ditulis dibawah rasa kecewa dan penasaran.
Dalam naungan kiblat kebenaran.
Dari seorang putra daerah, dianggap mahasiswa di daerah lain.

Mahardika Agil Bima

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0