Saya hanya melihat iklan itu sekali ketika menonton video di Youtube, tetapi ternyata iklan itu sangat membekas di benak saya hingga saat ini. Biasanya saya tanpa ragu menekan link ‘Skip Ad’ dan lanjut menonton video yang saya inginkan. Namun iklan yang satu ini ternyata sanggup menggiring saya untuk membuat pengecualian. Saya lupa iklan tersebut mengenai produk apa, yang jelas iklan itu bicara mengenai impian dan usaha.

Diawali dengan munculnya seorang atlet renang yang sedang berlatih, iklan tersebut kemudian menampilkan beberapa larik kalimat yang membuat mata saya tak lepas memandang layar monitor. Bukan, saya bukan hendak membahas mengenai teknik pemasaran menggunakan media video motivatif atau bagaimana membuat iklan yang eye-catching. Bukan. Saya ingin membahas konten iklan tersebut dan mimpi-mimpi yang mungkin sempat kita lupakan. Iklan tersebut menceritakan tentang perjuangan seorang atlet renang hingga mencapai posisinya saat ini. Ia terus berlatih tanpa kenal lelah dan mengalokasikan seluruh waktunya sehingga ia bisa menjadi atlet renang yang hebat. Ia mengorbankan kehidupan sosialnya, bahkan kesenangan-kesenangan di masa muda untuk menggapai impiannya.

 

“In life, you don’t get what you wish for. You get what you work for.”

 

Begitulah kira-kira kalimat yang muncul di akhir video. Kalimat ini terus terngiang-ngiang di pikiran saya setiap hari. Saya menyadari betul kalimat ini benar adanya. Meski belum bisa juga disebut ‘banyak makan asam garam kehidupan’, namun saya rasa anak muda berumur dua puluh ke atas sudah cukup banyak mengalami peristiwa yang cukup bisa membuat mereka merenung.

Tidak dapat dipungkiri, kehidupan memang tak selalu sejalan dengan semua keinginan kita. Hidup tidak akan berjalan semulus kulit bayi selamanya. Sering mendengar ungkapan ‘hidup itu seperti roda yang selalu berputar, kadang di atas kadang di bawah’ kan? Hidup memang seperti itu, terkadang segala rencana kita berjalan lancar, dan sering pula gagal total. Kejadian seperti ini bukan saja semata-mata takdir Tuhan atau ketetapan Tuhan saja, tetapi faktor usaha kita sendiri juga menentukan. Nilai ujian jelek? Barangkali kamu keseringan melipir ke smartphone daripada membuka buku pelajaranmu. Skripsi tak kunjung kelar? Barangkali kamu kebanyakan piknik. Kamu bokek terus? Barangkali kamu lupa menyisihkan uangmu menurut skala prioritas.

Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Misalnya dalam bidang akademik, tidak ada mahasiswa bergelar Cum laudeyang kerjanya hanya ‘santai-makan-tidur-main’. Tidak ada juara kelas yang begitu saja mendapatkan nilai bagus setiap semester. Ada usaha yang luput dari mata orang lain dibalik suksesnya seseorang. ”Kamu mah enak, IPK tinggi, nilai bagus, pintar. Sedangkan aku?” keluh yang lain. Nyatanya, nilai bagus bukanlah hal yang secara ajaib muncul begitu saja. Mereka dengan nilai yang luar biasa itu belajar ketika yang lainnya piknik. Mereka terus memperbarui eferensi keilmuan mereka ketika yang lainnya sibuk memperbarui konten media sosial mereka. Kebanyakan orang mengira mereka adalah orang jenius yang sudah pintar dari lahir. Sayang sekali, pemikiran yang kurang tepat.

Seorang Mark Zuckerberg harus menghadapi pilihan sulit antara melanjutkan kuliah atau mengembangkan proyek Facebook-nya. Thomas Alva Edison, orang yang terkenal sebagai penemu lampu listrik? Beliau bahkan dianggap sebagai anak yang sangat bodoh di kelasnya sehingga harus dikeluarkan dari sekolah semasa kecil. See? Orang-orang hebat di dunia tidak begitu saja mendapatkan ketenaran dan kesuksesan. Mereka mengorbankan banyak hal dan berusaha lebih keras daripada orang-orang lain di sekitarnya.

Seseorang tidak menjadi sukses begitu saja. Ada proses panjang yang dilalui oleh orang itu. Proses yang tidak menyenangkan, bahkan  mungkin menyakitkan. Mereka mengacuhkan rasa sakit yang mereka rasakan ketika orang lain memutuskan untuk menghindarinya. Mereka terus berusaha melawan kelemahan diri mereka ketika orang lain memutuskan untuk menyerah. Meski begitu, kebanyakan orang hanya bisa melihat capaian ketimbang mempertimbangkan proses yang telah dilalui mereka. Akibatnya, muncullah pernyataan “Enaknya si ini, enaknya si itu.” atau bahkan mungkin yang lebih parah adalah ungkapan bernada remeh seperti, “Alah, cuma gitu aja.” yang sangat tidak nyaman jika sampai mampir ke telinga.

Bagaimana dengan kamu? Sangat belum terlambat untuk mengusahakan apa yang kamu mau. Kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau, dengan satu syarat: usaha. Barangkali hari ini kamu hanyalah seorang siswa atau mahasiswa biasa. Tapi boleh jadi di masa depan kamu adalah penemu obat kanker, pujangga hebat, novelis buku best-seller, produser program televisi yang bermutu, atau apapun yang bisa kamu bayangkan. Menjadi sukses atau tidak, semuanya tergantung pada usahamu hari ini, esok, dan seterusnya. Jangan buru-buru bilang “Susah!” atau “Aku nggak bisa!”. Kita tidak pernah tahu kalau belum mencobanya, bukan?

by: Shinta Devi

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0