Judul di atas, saya dedikasikan kepada para agen perubahan. Terlepas dari kata kurang yang belum terdefinisikan dengan pasti, yang membuat saya bisa jadi merupakan pribadi yang sangat congkak berkata demikian.

Saya pernah menyebutkan, suatu kali di forum Wonosobo Muda dalam sesi pemaparan argumen terkait permasalahan di kota kita tercinta, bahwa, orang-orang berkualitas berada di tempat-tempat berkualitas. Sebuahquote yang pernah disampaikan kawan saya yang ia dengar dari dosen saat kuliah. Kedengarannya sederhana, tapi buat saya, makna dari ungkapan tersebut, panjang ekornya.

Sebagaimana selama ini saya diajarkan untuk mendekati orang-orang yang bertakwa jika menginginkan diri ini bertakwa. Menjadikan kawan-kawan sebagai cermin, sebagai rival dalam berlomba amal kebaikan. Meleburkan diri pada lingkungan yang kondusif untuk peningkatan kualitas diri. Oleh sebab berjuang sendirian itu sulit, dan dibersamai oleh kawan-kawan yang menguatkan merupakan sumber energi yang terbarukan. Ibarat lidi, jika ia satu mudah patah, jika banyak ia sulit bengkok, bahkan menjadi peranti yang bermanfaat.

Pengandaian yang sama bisa kita terapkan di manapun. Saya yakin, salah satu alasan kawan-kawan bergabung dalam gerakan membangun semacam Wonosobo Muda, secara tidak sadar ialah bergabung dengan sosok-sosok yang kiprah, potensi, dan bakatnya tidak kita ragukan lagi. Belajar dari para perintis gerakan, memahami ide-ide cemerlang sesama anggota, dan terinspirasi oleh prestasi tokoh-tokoh muda yang kita bersamai berinteraksi. Itu yang saya sebut dengan berkembang. Berkembang dalam forum tempat orang-orang yang kita sebut berkualitas berkumpul.

Baik. Kesimpulannya, bergerak bersama orang-orang yang satu pikiran tentulah asyik. Terlebih, forum ini memberi kesempatan kita untuk bertumbuh, tidak hanya dalam pengalaman, tapi juga pengetahuan. Sebuah pemicu yang mengingatkan bahwa di atas langit masih ada langit. Mengingatkan pula, tak peduli seberapa tingginya langit, harus ada jarak yang terus kita tempuh, menuju atasnya langit yang tak terbatas. Sebut sajapotensi.

Sebuah kepuasan pribadi memiliki potensi yang melesat. Namun pepatah mengatakan, setingginya menggapai cita di langit, tetaplah kaki menapak bumi. Sebuah keegoisan ketika mengejar mimpi tak mengajak kawan. Karena kita sama-sama tahu, tak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Di mana kesempatan ini dipengaruhi oleh banyak variabel yang kita tak mampu mengendalikan. Karena kesempatan ini tak semuanya dapat, bagaimana kalau kita berbagi?

Ialah Indonesia Mengajar. Gerakan yang dibesut oleh Anis Baswedan ini, tidak pernah tidak berhasil memukau saya. Atau gerakan lainnya yang sejenis, Wonosobo Mengajar yang dipandu oleh kakak kita, Dhanur, atau tidak perlu jauh-jauh, program Jembatani yang dimiliki Wonosobo Muda ini sendiri. Orang-orang yang terlibat di dalamnya ini, yang saya ibaratkan, walau mereka telah menggapai langit, dengan segala kerendahan hatinya menapakkan kaki ke bumi. Menjejaki sudut-sudut peradaban, yang apabila kita kesana, mungkin akan terheran,masih ada yang tinggal di sini. Menggali budaya setempat, mengolah informasi, dan mencoba menjadikannya lahan potensial untuk menumbuhkan bibit-bibit generasi yang melek pengetahuan, melek pembangunan. Itulah, dengan bermacam bekal, mencoba membersamai mereka yang kurang. Kurang apa? Banyak. Bersama membuka mata dari keadaan mereka yang penuh keterbatasan, terkungkung dalam lambatnya perbaikan infrastruktur, minimnya akses informasi, sedikitnya biaya karena lemah ekonomi, atau sebenarnya sepele: banyak dari mereka yang tidak tahu, bisa saja kita ke Kutub Utara hanya dengan belajar!

Iya. Tidak semuanya tahu.

Menyamakan persepsi adalah salah satu cara untuk mempercepat menggapai tujuan suatu perkumpulan. Menyamakan pola pikir, menularkan. Itu yang saya tangkap ketika melihat kawan-kawan berjibaku membuang kenyamanan kota untuk mendoktrin anak-anak dan pemuda di lingkungan kurang fasilitas yang belum sadar, bahwa siapa pun berhak menjadi orang pintar dan memintarkan orang lain. Membangun bangsa. Mempercantik negeri. Mendapat penghasilan yang layak. Berkarya dan abadi. Sekadar memberitahu, bahwa jarak antara kini dan mimpi bisa ditempuh dengan kemampuan diri. Bukan mustahil.

Jika mendekati orang yang berkualitas untuk perbaikan diri, maka akan ada saatnya didekati dan mendekati untuk berbagi bekal diri pada orang lain. Menjadi pribadi berkualitas, menelurkan komunitas berkualitas, di tempat-tempat yang nantinya menjadi berkualitas. Siapa takut?***

Oleh : Diena

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0