Choirul Anwar : Kisah Pengusaha Muda dan Uang Dua Ribu Rupiah

Kawan muda, dalam hidup kita seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Pun, pilihan yang kita anggap sebagai pilihan terbaik seringkali memberikan berbagai hantaman masalah. Namun, kita seringkali luput bahwasanya di balik semua permasalahan yang kita hadapi terselip hikmah dan pelajaran yang membuat jiwa kita semakin besar. Hantaman-hantaman permasalahan yang justru membuat kita mengerti bahwa hakikat hidup adalah tentang perjuangan, tentang bagaimana kita jatuh dan kemudian bangkit lagi menjadi seseorang yang lebih besar. Wonosobo Muda kali ini berkesempatan untuk memberikan satu contoh kisah yang mungkin akan menginspirasi kawan-kawan tentang hakikat sebuah perjuangan. Choirul Anwar, seorang pengusaha muda masa depan Wonosobo, membagikan kisahnya kepada kawan-kawan, selamat menyimak!
Kisahnya dimulai tahun 2003 ketika ia duduk di kelas 2 SMP/MTS Ma’arif Gondang, salah satu daerah tertinggal di Wonosobo. Uang saku yang ia terima dari orang tua waktu itu berjumlah dua ribu rupiah. Hampir setiap hari senin dan kamis ia berpuasa, sehingga uang saku yang sebesar dua ribu rupiah itu ia tabungkan. Hal ini berlangsung terus hingga ia lulus SMP. Uang tabungan yang terkumpul ternyata mencapai Rp 952 ribu . Uang tabungan itu pun kemudian ia belikan 2 ekor kambing betina yang masih kecil seharga Rp 850 ribu dan 100 bibit pohon kakao seharga Rp 100 ribu. Ia berpikir setelah lulus SMA nanti kambing yang ia pelihara bisa menjadi banyak dan pohon kakao sudah siap berbuah.
Setelah lulus SMP, ia berencana melanjutkan ke SMA Taruna Nusantara atau Pondok Pesantren Gontor Jawa Timur atau ke SMAN I Wonosobo. Ternyata, SMAN I Wonosobo menjadi tempat ia menimba ilmu setelah di Pondok Modern Gontor ia hanya betah 15 hari. Sewaktu SMA ia aktif sekali di berbagai kegiatan baik dalam sekolah maupun di luar sekolah, yang membuatnya menjadi mudah bergaul.
Lulus SMA, ia kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung, program D1 Teknologi Manufaktur. Ia mulai belajar tentang industri tekstil terutama di bidang garmen, seperti ayahnya dulu yang pernah menjadi seorang penjahit perantauan di Jakarta. Ia bersama temannya, Reza, kemudian membentuk usaha bernama Indobaso. Usaha tersebut berfokus pada pembuatan kaos, jaket, seragam, dsb. Produknya ia suplai ke Cikarang dan kebanyakan mengerjakan pesanan di kampus dan sekitar Bandung. Selain itu, ia juga bekerja sama dengan rekannya yang lain mendirikan Abdha & Choruna Clothing. Co, usaha distribusi kaos – kaos distro produksi Bandung. Area pasarnya meliputi daerah Yogyakarta, Tasikmalaya, dan Wonosobo.
Selesai kuliah pada September 2009, kondisi ekonomi keluarga memaksanya untuk pulang kampung, meninggalkan semua peluang di Kota Kembang. Ayahnya mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Wonosobo pada Pemilu 2009 dan mengeluarkan dana lebih dari 500 juta rupiah untuk operasional, terutama untuk membantu kelompok, desa, pembangunan masjid, mushola, jalan kampung, dan sebagainya. Dana sebesar itu harus diperoleh melalui menjual beberapa aset, hutang di bank, bahkan hutang kepada rekan. Usaha keluarga pun ambruk, tidak ada modal usaha seperti sebelumnya, yang ada hanyalah sisa stok barang yang tidak terlalu banyak. Usaha utama keluarga adalah penggergajian kayu dan jual beli kayu bangunan. Beruntung, usaha keluarganya tidak kehilangan integritas dan trust dari mitra usaha. Meskipun tidak mampu membayar tunai para supplier, namun karena integritas dan kepercayaan yang telah dibangun selama belasan tahun, mereka memperbolehkan barangnya untuk dibayar secara tempo.
Tidak lama setelah pemilu, ayahnya jatuh sakit, asam urat parah, dan belum pernah terjadi sebelumnya. Waktu itu kakak perempuannya masih semester akhir di UNSIQ, tiga adiknya masih duduk di bangku SMA, SD, serta seorang adik perempuan yang masih berusia 3 tahun. Tak jarang untuk menutup hutang yang jatuh tempo, ia lakukan dengan sistem gali lubang tutup lubang. Benar – benar menjadi masa yang amat sulit bagi keluarganya.
Untuk mengurangi beban keluarga, ia putuskan untuk membuka usaha kuliner khas Wonosobo, Mie Ongklok. Alhamdulilah berjalan, mulai ada pelanggan. Namun, usaha ini hanya berjalan 2.5 bulan, bukan karena tidak laku, tapi karena adanya ketidaksesuaian perjanjian kontrak dengan pemilik kontrakan. Akhirnya tutup.
Januari 2010, ia melamar pekerjaan di New Armada Group, sebagai marketing untuk penjualan mobil Mitsubishi. Empat bulan ia bekerja dan berhasil menjual dua unit mobil niaga, Fello dan L300. Pada bulan ke empat ia memutuskan keluar dari pekerjaan, melihat sakit ayahnya kambuh. Meski karir dan gajinya mulai meningkat, namun ia berpikir apa arti semua itu jika kemudian harus meninggalkan keluarga.
Kemudian, ia mencoba peruntungan dengan mengikuti lelang-lelang terutama penghapusan aset milik pemerintah. Tidak semua lelang yang ia ikuti berbuah manis, beberapa di antaranya menyedihkan. Salah satunya, ketika lelang sekitar 199 motor yang dilakukan oleh salah satu Balai Lelang di Purwokerto, ia bersama dua rekannya memenangkan 20 unit motor dengan nilai Rp 120 juta, modalnya hutang semua. Namun, karena memang kurangnya pengalaman di bidang pengangkutan motor dalam jumlah banyak, motor tersebut dalam perjalanan banyak yang lecet berbenturan dengan motor lain. Tak cukup sampai di situ, ternyata motor yang dibeli 6 diantaranya tidak dilengkapi STNK, 3 mati total, 3 motor mesinnya dioplos dengan motor Tiongkok. Untuk mendapatkan kembali modal yang dikeluarkan, ia harus menjual hingga 4 bulan lamanya, ia pun merugi Rp 6 juta.
Untuk menutup kerugian, ia membeli 2 ekor kambing seharga Rp 5 juta. Satu pejantan gagah, satunya lagi betina yang terlihat sedang bunting. Berharap ia akan untung dan bisa menutup kerugian lelang motor, tujuh bulan berlalu ternyata takdir berkata lain. Kambing jantan nan gagah itu mati dan yang betina ternyata mandul. Namun, untunglah ia masih punya kambing dari hasil tabungan sekolahnya dulu. Tidak terasa jumlah kambing yang ia titipkan dan sebagian ia rawat sendiri berjumlah 32 ekor. Ia menjual sebagian untuk modal usaha membuka toko kelontong dengan modal sekitar Rp 4 juta. Ia berpikir toko kelontong yang menyediakan kebutuhan sehari – hari ini pasti laku dan uangnya banyak. Ya, ternyata benar demikian. Uangnya banyak, namun margin keuntungannya sedikit sekali. Kemudian ia mulai berpikir untuk mencoba usaha lain.
Saat itu, persaingan jual beli kayu bangunan amat ketat. Dalam kondisi ekonomi yang tidak begitu baik, ia berpikir agar usaha keluarga tetap berjalan, perlu adanya usaha pelengkap untuk mendukung penjualan kayu bangunan. Ia pun memilih usaha toko material bangunan. Perhitungannya, hampir bisa dipastikan orang yang membeli kayu butuh perkakas bangunan lainnya, seperti paku, lem kayu, palu, dll. Alhamdulillah usahanya ini laku dan terus berkembang hingga sekarang, serta ikut mendukung penjualan kayu bangunan yang menjadi usaha utama keluarga.
Ia pun memiliki pengalaman tersendiri mengenai hikmah bersedekah. Ia pernah mendengar dan membaca bahwa barang siapa yang bersedekah di jalan Allah maka akan dilipat gandakan hingga 700 kali lipat (ada di Q.S. Al-Baqarah : 261). Pada waktu itu, saat sholat jumat ia meniatkan untuk bersedekah sebesar Rp 50ribu. Selesai jum’atan, ia ditawari untuk menjadi agen penyalur pupuk bersubsidi dari PT Petrokimia di tempat Ketua salah satu kelompok tani di desa itu. Akhirnya ia terima penawaran itu. Sungguh kuasa dari Allah Swt, dengan modal sedekah Rp 50ribu dan sekarang ia sudah menjual ribuan ton pupuk bersubsidi.
Di tahun 2011, ia juga berhasil merestrukturisasi hutang usaha keluarganya kepada bank, yang ia anggap bunganya masih terlalu tinggi dan menyulitkan usahanya berkembang. Ia tawarkan 3 opsi kepada bank yaitu memindahkan hutang ke program dengan bunga yang lebih rendah, keringanan jumlah angsuran tiap bulan, atau jika poin 1 dan 2 tidak dipenuhi, maka hutang akan ia tutup. Beruntung, karena ia termasuk nasabah yang lancar pembayaran kreditnya, tawarannya disepakati oleh pihak bank.
Di tahun 2011 pula, ia mencoba peruntungan di bisnis kapling tanah. Di sebelah desanya terdapat lahan kosong seluas 2.500 meter, kemudian ia beli dengan harga Rp 290juta. Proses ini juga sangat spekulatif, ia bisa mendapatkan tambahan modal jika laku pun sebaliknya ia bisa rugi besar. Namun, ternyata ini adalah perahu karet yang Allah kirimkan untuk menyelamatkan keluarganya di saat kondisi ekonomi masih labil. Di luar dugaan, tanah yang ia beli dipecah menjadi 21 kavling dan laku 20 kavling dalam satu minggu dan habis dalam waktu kurang dari 10 hari. Setelah itu mulai mendalami bisnis ini lebih jauh lagi. Perjalanan yang panjang dan melelahkan, karena ternyata proses dan hasilnya tak semudah ketika pertama kali ia menjual kavling dahulu. Namun, ia tak patah semangat, ia berkeyakinan harus bisa menuntaskan hutang keluarga dan agar orang tuanya bisa menjalani hidup lebih tenang dan bahagia. Itulah yang menjadi penyemangatnya.
Pada kondisi ekonomi yang sudah stabil, ia menanam 1.500 bibit pohon Jenitri. Jenis pohon ini sangat mudah hidup dan tahan penyakit walaupun masa panennya agak lama sekitar 10 tahun. Ia memperhitungkan dengan jangka waktu tersebut, mudah – mudahan ini bisa menjadi pengganti dana pensiun bagi kedua orang tuanya. Angka yang ia hitung cukup untuk hidup nyaman di desa, bisa untuk bekal kegiatan agama dan sosial orang tua. Selain itu, bulan Agustus 2013, ia mulai membangun kandang ayam boiler kapasitas 6.000 ekor, yang ia harapkan bisa menambah kebermanfaatan hidup keluarganya dan masyarakat lingkungan sekitar. Sampai tulisan ini dibuat, proses pembangunan kandang ayam sudah mencapai tahap 80%. Tak hanya itu, ia juga mulai merambah bisnis konstruksi dan mulai menjadi sumber pendapatan baginya.
Kisah ini belum usai, boleh jadi justru perjuangan seorang Choirul Anwar baru saja dimulai. Perjuangan yang sebelumnya hanya berawal dari uang dua ribu rupiah. Namun, apa yang coba kita pelajari hari ini adalah bagaimana perjuangan seorang pemuda yang baru saja menginjakkan usia 20an dan harus merasakan jatuh bangun membangun bisnisnya. Yang tentunya harus kita yakini bahwa investasi terbaik yang kita miliki adalah pengalaman-pengalaman hidup yang didapatkan dari jatuh bangun menghadapi permasalahan. Seperti apa yang dipesankan Choirul Anwar kepada kawan-kawan muda berikut:
“ Kita kadang lupa atau tidak tahu bahwa kesuksesan sama dengan beban. Kalau tidak kita cicil dari sekarang (ketika masih muda), maka perjuangan mendapatkan kesuksesan akan semakin berat.” – Choirul Anwar.
Ia pun menambahkan, untuk kawan-kawan muda di manapun berada, hidup tidak selalu seindah konsep kita. Banyak hal yang tak terduga dan masalah adalah cara unik Allah dalam mendewasakan kita. Tetap semangat menjalani, menghadapi, menyelesaikannya. Dan selalu ingatlah orang tua. Semoga menginspirasi! (Den)

luar biasa…
inspiratif sekali 🙂
Bener bener penuh perjuangan.
Semoga menjadi inspirasi untuk kita yang masih muda. amin
awesome. gerakan WONOSOBO BERKARYA!
aq ikut kalian semua,
cerita ini membuat aq sadar,
manjadda wajadda
keren, Inspirasi banget, thanks 🙂