Dani Wahyu Satria: Membangkitkan Potensi Lokal lewat Canting Guitar
Kali ini, Wonosobo Muda akan mengangkat kisah dari Dani Wahyu Satria, pemuda kelahiran 1 September 1989 dan merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Dibesarkan oleh seorang Ibu yang merupakan seorang pedagang, maka tidaklah mengherankan jika jiwa kewirausahaan benar-benar menyatu dalam darahnya. Dani atau kerap disapa Bule adalah pemilik dari Canting Guitar, guitar akustik yang diakuinya merupakan hasil idealisme pribadi Bule sendiri dan sudah berdiri sejak tahun 2011 silam. Saat ini, selain menjalankan bisnis Canting Guitar miliknya, Bule juga merupakan partner bisnis D.O.T Cloth, yang dijalankannya dengan beberapa temannya. Selain itu, Bule juga pernah meraih program beasiswa yang diselenggarakan oleh Wirausaha Muda Mandiri (WMM) pada tahun 2012. Bagaimana sepak terjang jatuh bangun perjuangannya? Mari disimak kawan muda!
Idealisme Berbisnis dalam Sebuah Gitar
Nama Canting yang dibawanya tentu membawa arti bagi Bule, Bule merasa bahwa nama Canting terdengar familiar dan berbudaya, serta easy listening. Meskipun demikian, Bule mengaku yang terpenting bukanlah filosofi dari nama besar yang disandang produknya, melainkan bagaimana Bule dapat fokus membesarkan nama yang sudah dipilihnya tersebut. Sementara itu, alasan pemilihan gitar adalah karena Bule merasa nyaman dengan gitar. Bule merasa bahwa menjual sesuatu yang sudah dikenalnya memberikan kenyamanan tersendiri bagi dirinya. Selain itu, dia juga merasa dapat lebih mempresentasikan gitar, karena memahamaninya. I’m doing what i love the most, begitulah istilah darinya. Passion, juga merupakan salah satu alasan mengapa ia mencintai usaha gitar-nya ini.
Salah satu hal yang menginspirasinya terjun ke bisnis gitar adalah lingkungan sekitarnya. Bule aktif bermusik atau bermain band dan bergaul dengan banyak orang. Sayangnya, banyak dari teman-teman gitarisnya yang terlalu brand-minded. Banyak yang punya pemikiran bahwa kualitas bagus hanya dihasilkan oleh merek-merek besar yang mahal. Padahal menurut Bule itu tidak sepenuhnya benar. Ada pula para produsen gitar lokal yang akhirnya secara memalukan melabeli gitar lokal buatan mereka dengan label merek luar negeri yang sudah besar demi mendapatkan keuntungan melalui jalan pintas. Ya, memalsukan produk! Idealisme inilah yang ingin diperjuangkan oleh Bule, gitar lokal dengan kualitas global.
Awal Mula Bisnis
Pada tahun 2008, Bule merupakan pelaku musik yang memiliki band di Yogyakarta. Alih-alih menambah tabungan, bermain musik dari panggung ke panggung justru banyak menguras pengeluarannnya. Berawal dari itu, Bule mulai belajar tentang gitar. Riset pembuatan gitar sendiri dilakukannya pada tahun 2009 sampai 2011. Hingga pada Juni 2011 Bule bersama seorang temannya mantab mencari pengrajin yang dapat merepresentasikan idenya.
Gitar akustik (gitar bolong) merupakan alat musik yang berbahan dasar kayu. Bule menyadari kualitas kayu lokal Indonesia (terutama daerah Wonogiri, Jawa Tengah) sangat bagus dibandingkan kayu dari negara lain. Indonesia hanya mengalami dua musim, dan karena itulah pohon-pohon di Indonesia berumur panjang. Untuk diketahui, semakin tua kayu bahan dasar gitar akustik, kualitasnya akan semakin bagus. Menurut Bule, dibandingkan faktor penentu kualitas gitar elektrik yang begitu banyak, gitar akustik menitik beratkan pada faktor bahan dasar. Sedangkan faktor penentu kualitas gitar elektrik 50:50 antara bahan baku dengan faktor electricity nya. Dan kebanyakan faktor produksi electricity masih dikuasai luar. Karena itulah Bule hanya berfokus merambah produksi gitar akustik. Tentu saja faktor lokal juga akan banyak mempengaruhi harga jual.
Namun, proses produksi ternyata tidak berjalan semulus yang diharapkan. Apalagi waktu pengerjaannya relatif cukup lama (lebih dari 2 minggu). Pada saat itu, Bule masih kuliah sehingga uang saku yang dimilikinya pun tergolong pas-pasan, apalagi sebagian harus digunakan untuk memproduksi gitar. Akan tetapi, semangatnya mengatasi kesulitan membuahkan hasil. Bermodalkan tabungannya dan seorang teman sebesar Rp 700.000,00 dua gitar pertamanya berhasil diproduksi, dan digunakannya untuk melakukan kegiatan promosi di kafe-kafe. Banyaknya apresiasi positif dari musisi membuatnya mulai memperoleh pesanan. Dimulai dari tiga gitar pesanan dari temannya, kini usaha gitar Canting semakin berkembang. Canting sendiri memiliki keunggulan dibanding gitar akustik lainnya, diantaranya: orisinil, jalur distribusi pendek, faktor produksi tersedia, serta menjunjung tinggi nama Indonesia dengan mengaku produk lokal.
Saya sering belajar ekonomi, dan ketika itu logika ekonomi saya punya kesimpulan kalau harga mahal itu tidak hanya ditentukan kualitas. Tetapi juga faktor panjang pendek distribusi, kurva permintaan penawaran, dan masih banyak hal lain. Saya pikir ketika distribusi barang dipangkas, harga gitar dengan spek dan kualitas yang sama, harganya akan selisih jauh. Dan akhirnya kisaran Juni-Agustus 2011 lalu saya berhasil membuktikan untuk berkualitas, nggak harus mahal. Untuk berkualitas, nggak harus produk luar. Untuk berkualitas, lokal pun mampu! – Dani Wahyu Satria
Perubahan Strategi Bisnis
Ketika masih di Yogyakarta, Showroom Canting beralamat di tempat yang strategis segmentasi pasar. Sebagai ilustrasi, dalam rentang radius ±1 km, terdapat kurang lebih 30 kafe yang mungkin menyajikan musik akustik secara live setiap harinya. Dengan begitu, Bule bisa langsung menghadapi target konsumen. Selain keuntungan tersebut di atas, showroom Canting juga terletak di daerah yang strategis yang mudah dijangkau.
Namun, di tengah perjalanan adanya urusan keluarga mengharuskannya memindahkan bisnisnya dari Jogja ke Wonosobo. Kepindahan ini tentu menjadi tantangan sendiri bagi Bule, karena semua startegi bisnisnya harus ditata ulang. Bule menyadari adanya perbedaan iklim pada pasar yang dihadapinya di Wonosobo dan Jogja. Tidak mau patah arang, ia-pun melakukan riset disela kesibukannya sebagai partner bisnis kaos D.O.T-nya bersama Ramadhani, Dhika dan Bangkit. Bule berharap, riset yang dilakukannya dapat membantunya untuk mengatur strategi baru bisnis Canting.
Pembelajar Sejati
Ketika ditanya mengenai hobi, Bule mengaku bahwa hobinya adalah belajar. Meskipun terdengar tidak biasa, pada dasarnya yang ia maksud di sini adalah belajar sebagai proses untuk mencoba segala sesuatu yang dianggapnya perlu untuk dikuasai. Meskipun belum sempat menyelesaikan pendidikan tingginya di UPN Veteran Yogyakarta, Bule mengaku bahwa bukan hanya sekolah atau kampus yang dapat dijadikannya tempat belajar. Pemuda yang pernah mewakili Wonosobo dalam Olimpiade Ekonomi tingkat SMA se-Jawa Tengah ini mengaku sangat nyaman belajar dari lingkungan di sekitarnya, belajar dari orang-orang yang sedang belajar, belajar dari orang gagal untuk mengurangi kemungkinannya gagal, serta beragam bentuk belajar lainnya yang dia percaya dapat menambah pengetahuannya.
Memutuskan untuk berhenti kuliah merupakan momen terbesar dalam hidup Bule saat ini, yang memberikannya banyak pelajaran dalam hidupnya. Tantangan dari keluarga yang muncul menjadi hal yang paling rumit. Apalagi banyak orang yang menyudutkannya dengan kata-kata “ sekolah suwi-suwi ora ono gunane, arep dadi opo nek ora lulus?” Bagi ia sendiri, proses kuliah telah mengajarkannya banyak hal: bergaul dan membangun jaringan, jauh dari rumah, traveling sendirian, dan lainnya. Pada akhirnya, hal-hal tersebut juga berguna bagi bekal kehidupannya saat ini.
Pesan untuk Kawan Muda
Untuk teman-teman yang ingin membangun bisnis, Bule merangkum pesannya menjadi tiga, yaitu: Lokal, Vokal, dan Total. Lokal, berarti mencari potensi lokal yang dapat dikembangkan dan mampu bersaing. Vokal, berarti menjadi suara, tidak sekedar menjadi gaung. Dan terakhir Total, berarti menekuni usaha yang dipilih dengan usaha dan kerja keras. Meskipun demikian, Bule tidak setuju dengan ungkapan semacam “sekecil apapun usahamu kamu adalah bosnya, serta setinggi apapun jabatanmu kamu tetap karyawan”. Bule percaya bahwa tidak semua orang nyaman menjadi seorang pengusaha, sehingga jangan sekedar katut atau ikut-ikutan dengan pemikiran orang lain bahwa semua harus jadi pengusaha, jalanilah apa yang menurut teman-teman nyaman dijalani, karena masing-masing orang punya jalan yang berbeda.
Terakhir, Bule berpesan bagi teman-teman di Wonosobo, untuk tidak malu menjadi lokal. Wonosobo mempunyai potensi besar untuk go international, jika teman-teman dapat mengeksplorasi dan mengemas kekayaan Wonosobo menjadi produk yang mampu bersaing secara nasional maupun internasional. Seperti halnya Bule yang berusaha untuk membangkitkan kecintaan musisi pada produk lokal lewat Canting Guitar.
Nah, bagi teman-teman yang ingin berdiskusi lebih lanjut dengan Dani Bule, dapat mampir ke jalan Veteran No 2, Sudagaran, Wonosobo atau follow twitternya: @DaniWahyuS. (Agnes)
Baca Juga: 7 Anak Muda Wonosobo di Bawah Usia 25 tahun yang Membangun Bisnis dari Nol


