Tulisan ini adalah karya peserta program Kelas Menulis yang diadakan atas kerja sama dari Wonosobo Muda dan Indika Foundation.

Musim kemarau selalu di nantikan oleh para petani tembakau, masa yang paling di tunggu karena musim di mana petani mendapatkan banyak keuntungan dengan kerja keras yang tak ada main. Saya kadang heran dengan petani yang tak pernah ada henti walau selalu ada saja penghalang yang terus datang.

Penghalang alam yang menjadi sebuah maklum, cuaca adalah penentu dari sebuah keberhasilan musim tembakau. “Musim tembakau kali ini seperti tidak ada gairah seperti tahun-tahun lalu,” keluhan dari para petani tembakau yang pasti sudah tahu akan jawaban apa penyebab hal ini terjadi.

Saya sering sekali mendengar kalimat tersebut. Penyebab yang menjadi musim tembakau kali ini tak ada gairah adalah adanya pandemi yang kini masih belum usai, dengan kabar yang terus saja menjadi momok pembicaraan di kalangan para petani tembakau jika salah satu produsen rokok akan mengurangi pemasukan dari para petani hingga 70% dan paling membuat saya heran akan harga yang menjadi penentu keberhasilan dari musim tembakau justru kali ini menjadi sebuah hal yang akan menjadi lumrah yaitu harga tembakau akan menjadi sangat murah di karena kan akan ada potongan dari pengepul sebesar 10% itu pun belum cukup masih ada potongan pajak, potongan timbangan dan masih banyak lagi.

Para petani tembakau sekarang mengeluhkan hal ini karena adanya pandemi, tak hanya itu faktor cuaca yang masih saja menjadi momok menakutkan karena cuaca yang masih sering turun hujan di saat musim kemarau kali ini. Ada hal lain juga yang di resahkan para petani adalah adanya kemacetan yang setiap hari terjadi di karena kan buka tutup jalan di salah satu jembatan yang beberapa bulan lalu ambruk. Sebuah jembatan yang menjadi jalan utama untuk ke kabupaten Temanggung, faktor cuaca juga lah yang membawa para petani tembakau harus menjemukan tembakau nya ke kota sebelah untuk mengejar sang surya. Sebuah kalimat sederhana dengan kebiasaan yang membuat saya kagum dengan para petani adalah begitu sabar dan ikhlas untuk menghadapi musim tembakau kali ini, walau penghalang selalu ada tapi itu semua harus dilakoni karena di musim tembakau lah para petani mendapatkan rejeki lebih itu pun jika harga tembakau terjual mahal.

 

Oleh: Ifat Fathurohman

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0