Menghargai Passion dan Kreativitas
Seorang professor bernama Ng Aik Kwang dari University of Queensland membuat sebuah buku yang judulnya cukup kontroversial, tapi membuka banyak pikiran orang “Why Asians Less Creative than Westerners”. Jika melihat kenyataan, memang banyak penemuan-penemuan besar baik dari Eropa maupun Amerika. Penemuan yang bukan saja bernilai bisnis, tapi juga memberi manfaat untuk banyak orang. Misalnya saja Google, yang ide awalnya adalah mengumpulkan informasi dari seluruh dunia kemudian membuatnya dapat diakses oleh semua orang, kini penggunaannya sudah mendunia. Tidak hanya search engine nya, tapi karena kreativitasnya, Google juga membuat aplikasi lain seperti maps, calendar, google drive yang kini seperti sudah menjadi kebutuhan.
Dari buku itu, kita akan tahu bahwa ada beberapa fakta kenapa orang Asia kurang kreatif dibandingkan dengan orang Barat.
- Ukuran Kesuksesan
Masih banyak orang Asia yang memandang bahwa kesuksesan adalah mempunyai banyak harta, punya mobil, rumah bagus, kerja mapan, gaji besar dan sebagainya. Banyaknya kekayaan juga kadang lebih dihargai dibanding cara mendapatkan kekayaan. Tidak heran jika kadang ada koruptor yang masih dipandang baik-baik saja oleh masyarakat karena kekayaannya. Profesi yang bisa mendatangkan banyak uang menjadi populer, kuliah di jurusan yang terkait pun semakin digandrungi. Sedangkan passion atau rasa cinta terhadap sesuatu kurang dihargai. Akibatnya bidang kreativitas menjadi kurang populer. Tidak salah memang memilih profesi yang menguntungkan, karena setiap orang mempunyai preferensi masing-masing. Namun tidak bijak sepertinya jika hanya melihat ukuran kesuksesan dari jumlah kekayaan semata.
- Pendidikan di Asia yang Identik dengan Hafalan
Teman-teman masih ingat jaman SD atau SMP? Banyak kan hafalan nya? Rumus pun dihafalkan, yang penting jawaban nya benar. Bahkan sampai SMA dan kuliah pun, mungkin masih menghafal tanpa mengerti itu maknanya apa, dan tidak memahami kapan, kenapa dan bagaimana rumus-rumus itu digunakan. Murid kurang dilibatkan emosinya dalam belajar sehingga belajar bukan karena penasaran tapi karena ingin mendapatkan nilai bagus jadi bisa mendapatkan ranking teratas.
Murid-murid di sekolah menghafal banyak pelajaran, setelah pulang kadang masih ada les lagi di luar jam sekolah. Mereka dididik untuk mengerti sedikit pada banyak hal, tapi tidak menguasai apapun. Hafalan membuat banyak orang Asia bisa menjadi juara dalam Olympiade Sains, namun jarang ada yang memenangkan Nobel atau hadiah Internasional yang berbasis inovasi dan kreativitas.
- Takut Salah dan Takut Kalah
Sebagian orang Asia takut salah dan menjadi kalah, agar (mungkin) selalu dalam posisi aman. Merasa takut salah dan kalah membuat orang tidak memiliki sifat eksploratif, selalu menghindari risiko dan berorientasi pada hasil. Padahal para orang tua di barat sana, justru mendidik anak-anak mereka untuk tidak bergentung, mandiri dan terbiasa menghadapi konflik loh.
Mengutip dari artikel oleh Pak Rhenald Kasali,
“Banyak orang menghindari sesuatu yang namanya kegagalan, kesasar, atau segala hal baru yang bakal menyulitkan hidupnya. Bahkan, menghindari sesuatu kalau ada tantangannya karena takut terlihat kurang pandai karena orang lain bisa melakukannya sedang kita mungkin tidak. Kita maunya anak-anak kita menjadi juara kelas, lulus cepat dan dapat pekerjaan yang baik, dimudahkan jalannya. ”
Kegagalan, kesasar, kesulitan adalah hal-hal yang justru membuat manusia belajar hal baru, belajar bagaimana mengatasi masalah sendiri dan belajar bagaimana bangkit setelah gagal. Pada setiap kesulitan, manusia juga belajar menganalisis sesuatu untuk memecahkan masalah.
Dalam buku Why Asians Less Creative than Westerners, Prof. Ng Aik Kwang memberikan beberapa rekomendasi.
- Menghargai proses
Masih di artikel yang sama, Pak Rhenald bilang bahwa tidak penting apa yang dicapai saat ini, tetapi yang lebih penting adalah apa yang bisa dipelajari dari suatu perjalanan, karena perjalanan merupakan sebuah proses bukan penghentian akhir. Jadi hal yang terpenting adalah selalu bisa belajar dari apapun proses yang kita lalui, kemudian menjadi lebih baik walaupun itu pada hal kecil.
- Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban dan tidak usah banyak diberi materi hafalan.
Sekolah mungkin harus mulai memberikan kebebasan siswa di sekolah untuk memilih apa yang disukai dan membiarkan mereka mendalaminya. Coba lihat konsep sekolah alam, di mana belajar menjadi proses yang menyenangkan. Anak-anak diberi kebebasan untuk mengembangkan potensinya sendiri, apapun itu, sehingga tidak ada lagi dorongan untuk sekedar mengejar nilai semata.
- Biarkan anak-anak memilih bidang kerja sesuai passion
Bekerja sesuai passion atau rasa cinta pasti terasa sangat menyenangkan, melakukan hal yang kita sukai sekaligus dibayar. Sesusah apapun itu, pasti akan berusaha atas nama rasa penasaran. Tidak seharusnya memaksa anak untuk mengambil jurusan atau profesi yang tujuan nya hanya menghasilkan uang. Kini harus mulai membuka mata, bahwa setiap anak mempunyai potensi masing-masing.
- Dasar kreativitas adalah rasa penasaran dan berani mengambil risiko
Rasa penasaran membuat orang berani mencoba banyak hal. Keberanian untuk mencoba hal baru dan mengambil risiko membuat seseorang kreatif dalam menghadapi masalah. Kalau tidak pernah berani mencoba, bagaimana bisa tahu? Jika tidak pernah berani memutuskan untuk mengambil risiko, bagaimana bisa maju? Tidak seharusnya duduk di kursi goyang terus menerus, bergerak tapi tidak pernah berpindah dan maju.
- Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang tahu segalanya
Saat ini, kebanyakan guru atau dosen seperti menjadi seperti penceramah yang kadang membuat sebagian besar pendengarnya merasa ngantuk dan tertidur (hayo siapa yang pernah kaya gini, wkwk). Guru atau dosen juga dianggap orang yang mengetahui semua tentang hal yang diajarkan. Padahal tidak selalu, guru juga bisa membuat kesalahan. Jika melihat guru di Finlandia sana, guru menjadi fasilitator dan membimbing muridnya untuk memaksimalkan potensi dan belajar memecahkan masalah.
- Passion manusia adalah anugerah Tuhan
Ketika ada orang yang bisa membuat cerita atau puisi dengan segenap jiwa, mungkin akan hampa rasanya ketika megerjakan hal yang tidak disukainya, walaupun itu suatu keharusan.
“Passion bukanlah segala sesuatu yang kita kuasai, namun yang kita cintai. Passion adalah salah satu unsur karir. Karir haruslah melibatkan passion, tujuan hidup, values, ketercapaian, dan kebahagiaan.” Rene Suhardono (Baca selengkapnya di artikel ini)
Selamat mencari, menggali dan mengekspresikan passion 🙂

Leave a Reply