Novia Puspita Shinta : Bisnis Jamu dan Minuman Herbal Reina Cafe
Sebagai orang Jawa tentu mengenal minuman tradisional yang biasanya disebut dengan “JAMU”. Ya, jamu minuman tradisional yang dibuat dari rempah-rempah dan memiliki khasiat yang bermacam-macam. Saat ini, keberadaan jamu sudah bisa dibilang mulai langka dan jarang diminati, hal ini dikarenakan sudah banyaknya minuman instant dan jamu sudah banyak dibuat lebih praktis lagi, dengan dibuat bubuk misalnya. Nah, namun tahukah kalian? Ada jamu gaul Reina Cafe, brand jamu yang digagas oleh keluarga Novia Puspita Shinta Dewi. Untuk mengenal lebih dekat sosoknya, rubrik kisah kali ini akan membahas bagaimana jamu Reina Cafe memulai perjalanannya hingga saat ini.
Profil Singkat Novia Puspita Shinta Dewi
Nama panjangnya adalah Novia Puspita Shinta Dewi, biasa dipanggil Shinta. Kak Shinta yang juga anggota Wonosobo Muda ini lahir di Yogyakarta pada tanggal 28 November 1992. Dia adalah lulusan SMA 3 Negeri Surakarta (Solo). Saat ini Kak Shinta sedang menjalani kuliah di Teknik Perminyakan UPN “Veteran” Yogyakarta. Anak dari seorang Dokter Hewan dan Guru SMA 1 Wonosobo ini merupakan anak pertama dari 4 bersaudara. Hobi dari Kak Shinta ini adalah menulis, menggambar, baca buku, buat prakarya. Hobi yang cukup unik ya. Saat ini, selain sibuk menjalani kuliah, Kak Shinta sedang menjalani aktivitas sebagai Branch Manager Reina Herbal Drink dan Pengurus di Komunitas Organik Indonesia DIY-Jateng, Social Media Specialist Wonosobo Muda.
Awal Mula Bisnis Jamu Reina Cafe
Awalnya bisnis ini dibangun oleh kakak sepupu dari Kak Shinta, Made Ayu Aryani (Mbak Ayu) dan I Nyoman Indra (Mas Indra). Hanya saja dalam perjalanannya membutuhkan bantuan beberapa orang yang bisa menghandle dan branding Reina lebih kreatif dari sebelumnya. Dan berkat dari tulisan kreatif Kak Shinta yang agak hyperactive di media sosial akhirnya Kak Shinta ditunjuk untuk menjadi bagian dari tim. Reina Herbal Drink sendiri berdiri awalnya karena melihat menjamurnya kafe-kafe kopi di Jogja. Dari situ, keluarga mencari ide untuk membuat kafe dengan produk yang anti mainstream. Nah, kebetulan karena Bude Kak Shinta, (Bude Retno Hernayani, Ibu Mbak Ayu) mempunyai background riset di dunia perjamuan, akhirnya setelah didiskusikan, diputuskan membuat kafe jamu dengan targetnya anak muda. Oleh karena itu, diusahakan pembuatan jamunya dengan rasa yang tidak pahit. Jamu yang dibuat ditambahkan dengan ekstrak buah, coklat, susu, dan pemanis alami yang sehat. Pokoknya bagaimana caranya, rasa dari jamu tersebut bisa dinikmati dari anak kecil sampai orangtua. Untuk modal awalnya, karena ini merupakan usaha keluarga maka modalnya berasal dari tabungan sendiri. Kemudian diusahakan modal untuk pengembangan selanjutnya dengan mengikuti program dana hibah dari pihak swasta dan pemerintah.
Dan kenapa targetnya anak muda? Kenapa dikasih rasa-rasa? Hal ini karena mereka ingin mengubah persepsi anak muda Indonesia kalau jamu itu pahit dan nggak enak, nyatanya jamu bisa dibikin manis dan seru rasanya. Kan sayang sekali kalau jamu, yang merupakan tradisi asli Indonesia, nggak disayang-sayang sama anak mudanya. Biasanya jamu ini kan dikenal kalangan bapak-ibu dan mbah-mbah. Dan dikhawatirkan juga kalau jamu ditinggalkan begitu saja oleh orang Indonesia, ujung-ujungnya bisa diakui sebagai budaya negara lain, dan kita cuma bisa menyesal di akhir. Intinya pihak Jamu Reina Kafe ingin jamu yang merupakan budaya bangsa, mampu menjadi gaya hidup yang bisa dinikmati semua kalangan.
Bisnis Kuliner Jamu ala Reina Kafe
Bisnis kuliner jamu ini dipilih karena rasa prihatin kak Shinta, dimana melihat pemuda Indonesia yang anti dengan jamu. Pernah suatu saat dia bertemu dengan seorang bule dan guidenya yang orang Indonesia, si bule penasaran dengan jamu, tetapi guidenya justru bilang, “Plain, not good, bitter, etc” Melihat hal itu, batin kak Shinta tergerak, bagaimana bisa? Seharusnya jamu tadi didukung karena merupakan budaya asli Indonesia. Selain alasan itu, kak Shinta ini adalah tipe orang yang senang bertemu dengan orang baru, ingin terus belajar dan terus haus inspirasi, oleh karena itu, dia merasa senang ketika masuk ke dunia bisnis. Bertemu orang banyak, diajari banyak hal dan bisa sekalian mengedukasi orang banyak juga mengenai produknya. Dalam menjalankan bisnisnya, kak Shinta selalu mendapat dukungan positif dari keluarga dan Orang Tuanya, hal ini karena apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang membawa dampak positif bagi sekitarnya.
Target market produk kuliner jamunya ini memang lebih ke anak muda. Dan anak muda kan lagi seneng-senengnya dikit-dikit diunggah ke sosial media. Nah, dari situlah salah satu strategi bisnisnya dilakukan. Yaitu dengan menebar virus jamu gaul alias jamu nggak pahit ke lebih banyak orang melalui sosial media. Produk unggulan yang best seller jamunya adalah Sari Pegagan, komposisinya daun pegagan, meniran sama temulawak, yang nantinya diberi ekstrak buah asli (bukan perisa), jadi rasanya semacam milkshake, ada yang rasa coklat, stroberi, anggur dan blueberry, meskipun diberi ekstrak rasa, jamunya tentu tetap berkhasiat.
Sari Pegagan sendiri manfaatnya adalah anti pikun, menambah konsentrasi, meningkatkan stamina badan, juga melancarkan pencernaan, biasanya yang menyukai minuman ini anak-anak kecil. Ada juga yang namanya karoten, dari wortel dan jeruk nipis, rasanya seger banget malah kayak jus apel. Banyak orang yang kurang suka dengan wortel, tapi waktu mencicipi Karoten malah kaget, enak dan seger banget katanya, malah jadi ketagihan tiap dateng belinya karoten. Lokasi bisnisnya itu sendiri ada kafe di Solo, tepatnya di Jl. Ronggowarsito 10 Kampung Baru (Barat Bank Indonesia). Selain itu punya corner sendiri di AEON Mall BSD City Tangerang. Dan untuk wilayah Jogja baru ada di tiap pameran kuliner, juga reguler jualan di @jazzmbensenen (Show Jazz tiap Senin di Jogja), di gedung Bentara Budaya Jogjakarta.
Peluang dan Tantangan
Omset dari bisnisnya itu sendiri masih dibilang naik turun dari target. Kadang bisa melebihi target pasarnya, kadang di bawah, tergantung ramai tidaknya kafe dan event pameran yg diikuti. Dan melihat keadaan pasar, yang bisa ditonjolkan adalah produk yang unik daripada produk jamu atau herbal lainnya, dengan rasa yang enak dan tidak pahit. Selain itu juga senantiasa memunculkan ide baru yang lebih fresh tentang jamu agar lebih digemari masyarakat, baik domestik bahkan sampai mancanegara. Pemasarannya dilakukan dengan beberapa cara, seperti bikin kuis di media sosial dan branding yang lebih kekinian tetapi tak terlepas dari nguri-uri budaya jawa. Harapannya kedepan produk kuliner ini makin dikenal, sehingga omset akan naik terus sehingga jamu dikenal baik oleh orang banyak.
Tantangan dalam berbisnis tentu ada. Untuk bisnis kuliner jamu ini adalah adanya mindset tentang jamu yang identik dengan pahit, kuno dan hanya untuk orangtua. Jadi setiap pameran atau berjualan, diusahakan agar tidak hanya jualan saja tetapi harus berulang-ulang mengedukasi sambil promosi ke orang-orang khususnya anak muda. Peluang dari bisnis ini sendiri adalah adanya trend back to nature yang mulai merambah Asia dan dunia. Kesempatan yang bagus untuk melestarikan minuman sehat tradisional dengan kemasan yang modern dan nggak ketinggalan jaman.
Mimpi kak Shinta untuk Wonosobo dan Indonesia
Untuk Indonesia, harapannya semoga budaya minum jamu dilestarikan oleh anak-anak Indonesia sendiri, jangan sampai diaku-akuin sama negara lain baru kita teriak-teriak di belakang. Come on young people, Indonesia ada di punggung kita! Mimpi untuk Wonosobo, semoga kelak bakal banyak pebisnis kreatif lahir dari Wonosobo, yang nggak Cuma asyik bisnis di Jogja, Jakarta atau kota besar lainnya, tapi bisa bareng-bareng bikin dunia bisnis Wonosobo lebih seru dari sekarang! Kita angkat kearifan lokal jadi keren dan dipandang satu Indonesia bahkan satu dunia!
Tips dan Pelajaran
Jangan pernah takut untuk memulai berbisnis, yang namanya bisnis selalu beresiko. Kalau kita mau tau bagaimana caranya berdiri, ya kita memang harus jatuh dulu. Kita tidak akan belajar kalau hidup cuma lurus-lurus saja. Ikut banyak pameran, perluas link, bangun trust ke orang-orang yang lebih senior di bidangnya, jangan males nyari program hibah, rajin-rajin belajar jadi kreatif, follow pebisnis-pebisnis sukses, pelajari apa yang mereka lakukan dari nol dulu sebelum mereka sukses. Oh iya, dua hal yang orang jualan suka lupa, ramah dan mendoakan. Ramah disini, usahakan selalu senyum dan bikin eye contact dengan calon pembeli, sering-sering bikin paket atau diskon menarik, jangan pelit ilmu ke orang-orang baru. Selain itu, kalau ada pembeli yang sepertinya suka dengan produk anda, jangan malu-malu minta kontak mereka, kabarkan tiap event jualan anda ke mereka. Ciptakan ikatan dengan pembeli, ubah mereka dari pembeli menjadi pelanggan. Nah kalau bab mendoakan, yang saya maksud gini… Even, orang hanya lewat, melirik, tanya-tanya tapi nggak beli, rajin-rajinlah akhiri percakapan dengan mendoakan, “terimakasih pak, bu, semoga sehat-sehat”. Kalau kita mau kerja keras, enjoy, nggak punya malu untuk bertanya dan gila-gilaan, banyak mendoakan orang, dan nggak pernah iri sama sukses orang lain, Tuhan pasti bukain jalan rejeki sendiri. Kadang di waktu yang nggak terduga, tiba-tiba aja kayak banyak yang datang minta kita ada.
Itulah tadi tips dan pesan yang disampaikan oleh kak Shinta. Kisah perjalanan bisnis kuliner jamu dan minuman herbal Reina Kafe ini mengingatkan kita agar selalu menjaga budaya tradisi Indonesia. Selain itu, ide kreatif dan keberanian sangat diperlukan dalam membangun bisnis. Sekian kisah pada kali ini, semoga menginspirasi kawan Muda untuk terus berkarya! Salam!
Video liputan Reina Cafe di televisi bisa dilihat di link ini.
