Ramdhani Azhar Trizula : D.O.T Cloth, si Jago Sablon Satuan
Anak muda yang satu ini lahir di Wonosobo tanggal 27 Maret 1990, anak sulung dari 3 bersaudara ini menghabiskan pendidikannya sampai jenjang Sekolah Menengah di Kabupaten Wonosobo yaitu SD 6 Wonosobo, SMP 1 Wonosobo, dan SMA 1 Wonosobo. Setelah itu ia berhijrah ke Yogyakarta dan melanjutkan studinya di STIMIK AMIKOM. Putra dari Bapak Bambang Trisulo dan Ibu Umi Haryati ini sangat menyukai olah raga dan segala hal yang berhubungan dengan multimedia, ini dibuktikan dengan prestasinya sebagai Pemain Sepak Bola Pemuda Terbaik Wonosobo periode 2006-2007 saat masih duduk di bangku SMA. Sekarang ini selain bekerja sebagai Manager 2 di SPBU Ngasinan Wonosobo, ia juga merupakan Owner dari D.O.T Cloth yang berlokasi di Jl. Veteran No. 2 Sudagaran, Wonosobo. Kali ini Tim Redaksi Wonosobo Muda juga berkesempatan untuk mewawancarai salah satu pemuda berbakat dari Wonosobo yaitu ada mas Ramadhani Azhar Trizula atau yang biasa disapa Dani. Yuk disimak!
Sejarah Singkat DOT Cloth
D.O.T merupakan singkatan dari Desain Own T-shirt, yang artinya kaos dengan desain sendiri. D.O.T Cloth merupakan tempat mekekspresikan desain dan kreatifitas di dalam sebuah media kaos/t-shirt. Visi Dani dalam bisnisnya ini adalah untuk memfasilitasi masyarakat Wonosobo untuk membuat kaosnya sendiri, bahkan bisa memiliki brand sendiri. Ia sangat mendukung gerakan stop pembajakan, dalam menjalankan bisnisnya ia lebih menghargai desain dengan kreativitas sendiri daripada hanya menjiplak, walaupun tidak dipungkiri masih ada pelanggan yang menggunakan desain orang lain, nah di sinilah tugas dan tantangan bagi Dani dan timnya untuk memberikan edukasi tentang pembajakan.
Pada awalnya Dani membuat D.O.T bertujuan untuk mengisi waktu luangnya setelah bekerja karena jam kerjanya menggunakan sistem kerja shift. Ia merasa banyak waktu yang terbuang kalau hanya dihabiskan untuk tiduran dan nonton TV setelah bekerja. Akhirnya ia memberanikan diri untuk meminjam uang kepada orang tua untuk modal usaha. Berkat presentasi yang meyakinkan, Dani pun mendapat pinjaman untuk membeli alat print DTG (Direct to Garment) dan alat press, serta beberapa kaos polos untuk modal awal.
Berbekal alat yang bisa dikatakan cukup canggih, Dani mulai coba-coba mengeksekusi beberapa desain yang sudah pernah ia buat sebagai sampel. Ia pun menawarkan ke teman-teman terdekat dan mendapat respon yang cukup baik. Orderan dan pesanan mulai banyak dan saat itu masih bisa ia tangani sendiri walaupun harus bisa menyesuaikan antara waktu kerja dengan waktu pembuatan kaos. Belum lagi ketika ia harus menambah stock kaos dan tinta ke Jogja. Jadi setiap 1 minggu sekali Dani harus ke Jogja untuk mengambil barang ketika sedang libur kerja.
Saat itu ia merasa jam kerjanya 1 hari ada 20 jam utk kerja, karena ketika sedang off kerja waktu ia gunakan untuk produksi kaos. Waktu untuk istirahat sangatlah sedikit. Namun, ia percaya bahwa kalau ia tidak menyerah pasti akan ada hal yang jauh lebih baik yang menanti. Sekarang Dani sudah dibantu oleh beberapa teman yang dapat membantu dan mem-backup proses produksi ketika ia sedang bekerja atau sedang istirahat, sehingga bisnisnya jadi lebih produktif karena dapat saling mengisi. Ide desain juga lebih beragam karena lebih melibatkan beberapa ide.
Untuk modal awal, Dani meminjamnya dari orang tua. Dani berhasil meyakinkan orang tua dengan perhitungan BEP dan presentasi bisnis yang cukup baik. Untuk bisa menambah daya gedor bisnisnya pun sekarang ia sampai harus meminjam uang ke bank, seiring dengan perkembangan bisnisnya. Sebenarnya ia percaya bisnis clothing bisa dijalankan tanpa modal uang yang besar, hanya bermodalkan link/jaringan. Jadi kita hanya menyediakan desain yang kita buat sendiri dan kita tawarkan kepada konsumen, jika sudah mendapatkan konsumen baru kita mencari tempat yang dapat menerima dan merealisasikan desain kita tersebut. Dani menambahkan, tempat sablon jaman sekarang sudah menjamur, khususnya di kota besar jadi jangan bingung untuk membuat kaos atau merk sendiri.
Strategi DOT Cloth
Dani mengaku untuk sekarang omset mulai meningkat karena bisnisnya sudah memiliki beberapa agen pemasaran yang biasa ia sebut TTM (Teman Tapi Mitra). Tugas dari TTM yaitu memposting dan mencari pelanggan yang akan membuat kaos, baik yang satuan ataupun partai besar. Dengan moto “Jagonya sablon satuan“, target pasar bisnisnya yaitu dari segala kalangan, karena ia tidak mematok minimal order jadi customer bebas mau buat kaos dengan desain yang berbeda-beda. Ia juga mengamini bahwa kualitas kaos dan sablon yang ia hasilkan bisa bersaing dengan merek-merek clothing yang terkenal. Selain pemasaran melalui TTM dan online, D.O.T juga sudah memiliki workshop yang sering ia sebut sebagai studio DOT. Studio buka setiap hari dari jam 08.00 sampai sak ngantuke. Studio terlihat selalu ramai karena selain untuk tempat produksi, studio juga selalu didatangi temen-teman yang sekedar ingin ngobrol, berkumpul, ngopi, atau live music, tapi tetap produktif. Studio DOT beralamatkan di Jl. Veteran no.2, Sudagaran, Wonosobo.
Untuk omzet saat ini bisa dikatakan meningkat dari hari ke hari, hal ini dikarenakan sudah banyak yang mengenal. Dani dan timnya sepakat untuk belum mengambil keuntungan lebih dari penjualan, tapi ia sepakat untuk modal kembali dan mengembangkan bisnis kita ini. Setiap 1 minggu tim DOT restock bahan dan kaos sebanyak 2 kali dengan nominal sekali beli bahan mencapai Rp 2-3 juta. Jadi dapat dihitung perputaran uang 1 minggunya sekitar Rp 4-6 juta.
“…. yang jelas untuk makan dan keperluan harian kami sudah tidak menggunakan uang pribadi tapi menggunakan uang hasil jerih payah dari DOT.” – Ramdhani Azhar Trizula.
Tantangannya ke depan yang jelas adalah konsistensi dan pembagian waktu, untuk memenuhi deadline yang diberikan oleh pelanggan, ia harus disiplin dan konsisten dalam hal waktu, dan ia sedang belajar untuk hal yang satu ini. Untuk peluang ke depan Dani merasa bahwa bisnisnya ini masih sangat bisa berkembang, dengan inovasi-inovasi yang selalu baru dan fresh akan mampu bertahan dan bersaing bahkan berkembang menjadi lebih besar lagi. Target ke depan ia ingin memanfaatkan potensi-potensi lokal dalam hal apa saja, karena ia percaya banyak potensi yang tersembunyi yang harus digali yang akan bermanfaat bagi banyak orang.
Pesan untuk Kawan Muda
Dani juga membagi tipsnya bagi kawan-kawan yang ingin memulai bisnis seperti dirinya. Yang pertama, cari jaringan, link, dan teman sebanyak-banyaknya. Karena setiap teman memiliki kebaikan masing-masing, banyak teman akan banyak rezeki dan peluang untuk dikembangkan. Kedua, bersikap dan berpikir positif terhadap semua hal, baik hal kecil ataupun besar. Jangan takut dulu sebelum melakukan hal baik yang kita inginkan. Selain dari pengalaman dalam memulai bisnisnya yaitu DOT Cloth, Dani berpesan kepada seluruh sahabat Wonosobo Muda untuk perbanyak bersyukur dan kurangi mengeluh. Hidup terlalu singkat untuk selalu mengeluh.
Nah dari kisah Ramdhani dalam merintis bisnisnya ini, kita bisa memotivasi diri kita untuk terus maju dan jangan pernah putus asa dalam memulai usaha. Jangan takut untuk berwirausaha juga ya sahabat WM. Berikut ini kata penutup yang sangat memotivasi Dani hingga bisa menjadi seperti sekarang ini.
“Modal utama tercapainya sebuah tujuan yaitu keinginan dan keyakinan, bila kita sudah ingin dan yakin, tinggal kita bergerak, maka tekad yang bulat akan terbentuk diringi usaha dan doa.”
Terus berkarya yah kawan muda! (Munif)
Baca juga: 7 Anak Muda Wonosobo di Bawah Usia 25 tahun yang Membangun Bisnisnya dari Nol


