Tulisan ini adalah karya peserta program Kelas Menulis yang diadakan atas kerja sama dari Wonosobo Muda dan Indika Foundation.

Jika kita bertanya kepada generasi milenial tentang apa cita-cita mereka? maka kebanyakan dari mereka akan menjawab dengan banyak profesi, namun jarang diantara mereka yang menjawab untuk menjadi seorang petani. Berbagai alasanpun muncul, mulai dari kerjaan tidak enak, panas, bikin kotor, tidak menguntungkan, bahkan hingga alasan kekinian yang banyak dijawab oleh anak-anak muda, yaitu gengsi menjadi petani.

Anak muda masa kini lebih mendambakan pekerjaan yang nyaman, dengan tempat sejuk tidak kepanasan, gaji tetap, dan profesi yang sekiranya dianggap ‘keren’ untuk dipamerkan kepada teman-teman yang lain kala berkumpul bersama. Hingga ketika ada satu profesi bernama ’tani’ kebanyakan dari mereka akan menganggap remeh. Pada titik tersebut kita perlu khawatir bahwa hari ini negara yang dikenal sebagai negara agraris ini perlahan-lahan kehilangan generasi muda untuk meneruskan profesi yang telah menjadikan negara ini dikenal luas dengan berbagai hasil buminya.

Bila kita membandingkan dengan profesi tani dengan lainnya, jika digeluti dengan sungguh-sungguh maka profesi ini sebenarnya tak kalah menjanjikan dengan profesi lainnya. Nyatanya banyak petani di daerah Dieng yang makmur karena menekuni profesi ini, tak kalah menghasilkan dibandingkan dengan gaji PNS, bahkan bisa melebihinya.

Yang dibutuhkan sekarang adalah, sering-sering untuk mengedukasi generasi muda agar bisa meyakinkan mereka bahwa profesi tani tak kalah menjanjikan dengan profesi lainnya. Dan perlunya peran pemerintah untuk banyak mengadakan kegiatan untuk mengedukasi generasi muda agar sadar akan pentingnya peran petani bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Agar sebutan negara agraris tetap melekat pada negara yang Gemah Ripah Loh Jinawi ini.

Oleh : FARUQ AL-BANNA

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0