Tulisan ini adalah karya peserta program Kelas Menulis yang diadakan atas kerja sama dari Wonosobo Muda dan Indika Foundation.

Wonosobo, kota kecil di bagian tengah pulau Jawa yang identik dengan keindahan alamnya. Mata air pegunungan yang kesegarannya masih terjaga, padang savana yang siap jadi tempat berfoto kapan saja, pendakian gunung yang hampir selalu berhasil menyajikan golden sunrise-nya,hingga Sindoro dan Sumbing yang jadi ikon gambar hampir semua anak SD pada masanya. Sebuah paket lengkap, kota kecil yang sepertinya diciptakan saat Tuhan sedang bahagia.

Kehidupan manusia di dunia memang selalu berjalan berimbang. Diantara kekayaan alamnya, Wonosobo masih memiliki PR besar dalam pengelolaan sumber daya manusia. Pada tahun 2019, Wonosobo berada pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di angka 68,27 yang masih berada di bawah rata-rata Jawa Tengah. Dikutip dari laman resmi BPS Wonosobo, IPM berfungsi untuk mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup, diantaranya umur panjang dan sehat, pengetahuan, dan kehidupan yang layak. Dalam sektor pendidikan, angka Harapan Lama Sekolah (HLS) berada pada angka 11,74 tahun dengan rata-rata lama sekolah 6,67 tahun. Sekilas melihat angka tersebut memberi kesimpulan awal bahwa pendidikan di Wonosobo memerlukan terobosan baru, sebuah inovasi yang dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan.

Dalam beberapa obrolan dengan teman dari Dieng, ia berkata bahwa kebanyakan anak petani di Dieng enggan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Beberapa hanya sampai jenjang SMA, beberapa malah hanya tingkat SMP. Mereka yang memilih untuk tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi biasanya dikarenakan adanya perasaan bahwa mereka sudah cukup dengan hasil panen melimpah dari kebun yang mereka punya. Toh sekolah tinggi-tinggi ujugnya juga akan bekerja, begitu kurang lebihnya. Padahal jika dilihat, bersekolah apalagi hingga jenjang perguruan tinggi akan membentuk cara pandang baru, memperluas relasi, dan semakin terbuka peluang untuk membentuk jaringan yang lebih besar.

Jika ditarik mundur, alasan untuk berhenti di jenjang sekolah tinggi tidak sepenuhnya salah. Sejak awal, sekolah seringkali memberikan pandangan bahwa prioritas pendidikan adalah untuk dunia kerja. Kebermanfaatan, pengembangan diri, dan dampak bagi lingkungan sepertinya menjadi beberapa hal yang luput atau isu yang kurang santer disuarakan.

Pembelajaran kontekstual yang menghubungkan anak dengan lingkungannya membawa pemahaman bahwa selamanya mereka tidak akan pernah terlepas dari apa yang ada di sekitarnya. Dengan segala potensi Sumber Daya Alam yang melimpah, pilihan untuk mendirikan sekolah alam di Wonosobo menjadi potensi besar bagi pengembangan Sumber Daya Manusia. Sekolah alam mengusung konsep perpaduan sekolah regular dengan alam di mana kurikulum yang ada mengaitkan peserta didik dengan alam atau lingkungan sekitarnya. Kondisi lingkungan yang masih banyak terdapat lahan pertanian, pasar, dan UMKM atau industri rumahan jadi lingkungan yang baik untuk belajar terjun langsung di lapangan.

Bukan tidak mungkin akan muncul banyak ahli pertanian, spesialis pupuk, ahli pembibitan, hingga wirausaha yang punya jaring besar dalam dunia bisnis pertanian. Dengan semangat menumbuhkan kebermanfaatan bagi lingkungan, anak-anak diajak untuk memupuk kemandirian dan jiwa kepemimpinan. Karena merekalah harapan terbesar yang kelak membangun Wonosobo, yang pulang dari berbagai kota besar untuk mendedikasikan diri membangun kampung halamannya.

Oleh Nining

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0