Tulisan ini adalah karya peserta program Kelas Menulis yang diadakan atas kerja sama dari Wonosobo Muda dan Indika Foundation.

Pada 19 Agustus 2020, Sekretariat Daerah (Setda) Wonosobo mengeluarkan press release yang ditujukan bagi penyelenggara usaha pariwisata di Kabupaten Wonosobo. Dokumen tersebut menyikapi perkembangan penyebaran COVID-19 di Kabupaten Wonosobo dengan 140 orang terkonfirmasi positif, 3 orang meninggal dunia, dan 45 orang masih dalam perawatan. Setda menggarisbawahi bahwa penerapan protokol kesehatan masih sangat sulit dijalankan  dalam memanajemen ledakan wisatawan dari luar kota. Selain itu, tingkat kepatuhan wisatawan luar kota masih rendah dalam membawa surat keterangan sehat dari daerah asal. Hal tersebut dirasa dapat berpotensi menimbulkan klaster covid-19 di tempat wisata. Baru-baru ini, beberapa tenaga kesehatan di beberapa Puskesmas di Wonosobo juga terkonfirmasi positif covid-19 yang menyebabkan setidaknya 3 Puskesmas tutup untuk sementara waktu.

Kebijakan yang cukup menimbulkan kontroversi adalah adanya kewajiban rapid test bagi wisatawan luar kota sebelum berkunjung ke tempat wisata di Kabupaten Wonosobo, khususnya bagi pendaki. Selain rapid test, wisatawan juga dapat menggunakan swab RT PCR negatif yang berlaku 14 hari. Setda Wonosobo menganggap bahwa kebijakan tersebut dapat mengoptimalkan pencegahan dan pengendalian COVID-19 di Kabupaten Wonosobo. Akan tetapi, kebijakan itu dianggap pengelola basecamp pendakian gunung terburu-buru dan tidak mempertimbangkan berbagai aspek.

Melalui media sosial instagram, pengelola basecamp pendakian gunung menyampaikan surat terbuka kepada Setda Wonosobo. Mereka menyayangkan press release yang tidak dilakukan sosialisasi terlebih dahulu, tetapi mendadak dan tumpang tindih dengan peraturan sebelumnya yakni SK Kadis Pariwisata no 556/444/2020 tentang panduan protokol pengelola wisata yang belum dicabut. Pengelola basecamp juga menyayangkan kewajiban rapid test hanya berlaku untuk tempat wisata, tetapi tidak berlaku untuk kegiatan lain yang mengumpulkan banyak orang, seperti pasar dan fasilitas umum lain.

Alih-alih menerima rapid test dari pendaki, pengelola basecamp se-Wonosobo justru sepakat untuk menutup basecamp pendakian untuk sementara waktu mulai dari 24 Agustus hingga waktu yang belum  ditentukan. Meskipun tercantum pernyataan bahwa penutupan dilakukan untuk membantu Pemda Wonosobo menekan angka penyebaran COVID-19, hasil diskusi tersebut terkesan sebagai suatu balasan atas kekecewaan pengelola basecamp terhadap Pemda Wonosobo. Seharusnya, baik Pemda yang membuat regulasi  dan pengelola basecamp yang menjalankan aktivitas di lapangan dapat lebih berkoordinasi terkait regulasi, implementasi, dan evaluasi dari pembukaan sektor pariwisata pada masa pandemi. Dengan demikian, kerjasama dalam menangani pandemi serta memulihkan ekonomi dapat lebih bersinergi.

 

Oleh: Fahmi Kurniawan

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0