Tulisan ini adalah karya peserta program Kelas Menulis yang diadakan atas kerja sama dari Wonosobo Muda dan Indika Foundation.

Wacana “New Normal” kini tengah dinanti masyarakat di setiap wilayah. Setiap wilayah akan melakukan persiapan new normal apabila jumlah kasus COVID-19 tidak terjadi penambahan. Salah satunya di bidang pendidikan, sekolah mempersiapkan segala keperluan untuk proses pembelajaran offline. Namun, naik turunnya jumlah kasus COVID-19 di Wonosobo membuat para siswa merasa diberi harapan palsu dengan adanya wacana pembelajaran offline.

Pembelajaran daring atau online yang sudah dilaksanakan beberapa bulan ini memang banyak dipenuhi pro dan kontra. 4 dari 5 siswa yang saya wawancarai, mengaku tidak menyukai bahkan benci dengan pembelajaran online. Alasan para siswa tidak menyukai pembahasan online yaitu, harga kuota, deadline tugas, seberapa banyak tugas, ulangan harian mendadak, dan materi yang terlalu banyak. Memang pada kenyataannya, materi pada saat belajar di kelas justru lebih sedikit daripada saat pembelajaran daring. Ini membuat para siswa sangat menantikan adanya new normal atau pembelajaran secara langsung.

Dari awal semester, para siswa harus mengisi beberapa data mengenai kesehatan diri dan keluarga untuk survei persiapan pembelajaran offline. Berkali-kali para siswa mengisi google form bahkan menulis surat pernyataan siap melakukan pembelajaran offline. Namun, keesokan harinya muncul kabar kenaikan kasus COVID-19 di Wonosobo, sehingga data-data tersebut serasa tidak berarti. Padahal sekolah sudah menyiapkan sabun untuk cuci tangan, tempat cuci tangan, cara menyemprot seluruh ruangan kelas dengan disinfektan. Namun hal tersebut sia-sia.

Hingga saat ini, pembelajaran offline di Wonosobo masih belum bisa direalisasikan. Karena Wonosobo kembali berada pada daerah zona merah. Siswa kini hanya bisa terus menanti dan berharap terlaksananya pembelajaran offline, entah sampai kapan.

Oleh Nurani Apriliana

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0