Tulisan ini adalah karya peserta program Kelas Menulis yang diadakan atas kerja sama dari Wonosobo Muda dan Indika Foundation.

Akhir-akhir ini, isu gangguan mental atau mental illness sedang menggandrungi generasi muda yang tampak dari berbagai sosial media. Mulai dari hal sederhana seperti perubahan suasana hati hingga keinginan bunuh diri sering dijumpai beredar bebas. Beragam latar belakang juga diceritakan sebagai caption dalam kirimannya mulai dari persoalan pribadi hingga lingkungan sosialnya yang ‘dirasa’ tepat untuk melakukan hal tersebut. Publik pun memiliki beragam komentar, ada yang membantu dengan menyebarkan semangat positif dan tidak sedikit pula yang mencela tindakan tersebut. Dapatkah sosial media menjadi peranan penting dalam kesehatan mental seseorang?

Dirangkum dari berbagai situs menyebutkan sosial media memiliki peranan besar dalam kesehatan mental para penggunanya. Beberapa hal yang berkaitan dengan efek negatifnya ternyata dapat menjadi bumerang bagi si pengguna jika tidak dapat menyikapi dengan bijak. Terlalu menuntut diri menjadi “sempurna dimata sosial media” menjadikan seseorang merasa jati dirinya berkurang, bahkan “besar pasak daripada tiang” dapat berlaku demi memenuhi “kesempurnaan” tersebut.

Cyber bullying menjadi contoh ketidakmampuan menunjukkan jati diri yang “ideal” mampu merujuk ke penyakit mental dengan kemungkinan terburuknya dapat menimbulkan depresi bagi korbannya dan menimbulkan banyak penyakit mental lainnya.

Dengan bijak bersosial media serta membekali dengan pengetahuan tentang kesehatan mental juga dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu seseorang yang sedang mengalami hal tersebut secara sederhana. Lebih banyak melakukan hobi serta memperluas pertemanan dunia nyata dapat menjauhkan dari pikiran negatif dan lebih bahagia pastinya.

 

Semoga sehat selalu jiwa dan ragamu.

 

Oleh Romi “Tantan” Hartanto

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0