Ada berapa banyak remaja putri di Wonosobo yang memilih untuk meneruskan kuliah di jurusan Teknik Elektro? Dan ada berapa banyak lulusan sarjana Universitas Indonesia yang memilih mengabdi kembali ke desa? Di antara jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut ada nama anak muda yang satu ini: Sandia Rini. Perempuan berusia 25 tahun yang biasa disapa Rini atau Iyint, saat ini adalah Sekretaris Desa Wonosari, Kecamatan Wonosobo. Rini merupakan alumni dari SD Negeri 4 Wonosobo, SMP Negeri 1 Wonosobo dan SMA Negeri 1 Wonosobo, serta memeroleh gelar Sarjana Teknik, jurusan Teknik Elektro dari salah satu kampus bergengsi, Universitas Indonesia. Rini adalah putri bungsu dari Bapak Eko Priyanto dan Ibu Tri Lusi. Bagaimana cerita perjalanan ia hingga akhirnya menjadi Sekretaris Desa Wonosari ini? Mari disimak, kawan muda!

Dunia Baru yang Menantang

Dengan menjadi Sekretaris Desa, Rini merasa mempunyai dunia baru yang menantang yang jauh dari dunia kuliahnya. Perempuan yang sempat menjadi asisten peneliti di kampus tempat kuliahnya ini harus bisa membawa perubahan yang lebih baik untuk Desa Wonosari dan harus bisa menyatu dengan masyarakat. Apalagi tidak ada satupun yang dikenal karena dia satu-satunya Sekdes di Kecamatan Wonosobo yang bukan berasal dari desa setempat. Yap, rumah pemudi yang satu ini berada di kampung Sumberan, Kelurahan Wonosobo Barat.

Meskipun belum pernah terjun di desa tersebut sebelumnya, beruntungnya perempuan yang hobi jogging dan renang ini disambut baik oleh warga desa dengan ramah. Pekerjaan ini tentu menantang baginya karena latar belakang Pendidikan Rini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pemerintahan apalagi pemerintahan desa. Oleh karena itu, dia mengaku harus belajar ekstra untuk bisa menyesuaikan diri di bidang pemerintahan desa dan juga harus bisa membenahi administrasi desa yang belum tertata dengan baik.

Belajar Menjalankan Tugas sebagai Sekretaris Desa

Sekretariat desa boleh dibilang adalah otak pemerintahan desa. Sekdes bertugas membantu kepala desa dalam bidang administrasi pemerintahan, seperti melaksanakan urusan ketatausahaan seperti tata naskah, administrasi surat menyurat, arsip, dan ekspedisi, melaksanakan urusan umum seperti penataan administrasi perangkat desa, penyiapan rapat, pengadministrasian aset, inventarisasi, perjalanan dinas, dan pelayanan umum. Sekretariat desa juga harus melaksanakan urusan keuangan seperti pengurusan administrasi keuangan, administrasi sumber pendapatan dan pengeluaran, verifikasi administrasi keuangan, serta melaksanakan urusan perencanaan seperti menyusun APBDes, menginventarisir data-data dalam rangka pembangunan, melakukan monitoring dan evaluasi program serta penyusunan laporan. Wah, Rini harus belajar banyak karena pekerjaan itu tidak diajarkan waktu kuliah. Semangat ya Mbak!

Selain itu, gadis yang beberapa kali mendapat juara dalam ajang kompetisi renang sewaktu kuliah ini juga mendapat manfaat dari pekerjaannya, seperti bisa mengenal dan bisa bersosialisasi dengan tokoh masyarakat, agama, serta pimpinan kecamatan. Untuk bisa bersosialisasi dengan tokoh-tokoh tersebut. Peraturan mengharuskan sekretaris desa untuk tinggal di desa tempatnya mengabdi, namun Rini masih tinggal di rumahnya dan setiap hari nglaju ke kantor desa. Beberapa waktu ke depan, Rini berencana pindah domisili di desa Wonosari.

Perjalanan Berliku Hingga Menjadi Sekretaris Desa

Mendapat pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Setelah lulus kuliah, Rini sempat dikontrak sebagai asisten peneliti selama 6 bulan. Sambil mencari pekerjaan tetap, dia bekerja paruh waktu menjadi guru privat renang anak-anak TK di daerah Serpong, Tangerang Selatan. Usahanya untuk mendaftar sebagai pegawai di banyak perusahaan baik swasta dan BUMN yang diinginkannya sudah satu tahun, namun Allah belum memberikan jalan untuknya di situ. Dulu Rini selalu merasa sedih dan kecewa, dan bertanya-tanya apa yang kurang darinya. Di saat seperti itu, peran orang tua sangat penting dalam hidupnya, karena selalu memberi motivasi, semangat agar tidak berkecil hati. Pesan ibunya ketika itu:

“Mungkin pekerjaan itu banyak mudharatnya untuk kamu daripada manfaatnya, makanya Allah belum memberikan pekerjaan itu. Perkuat ibadahmu lagi, positive thinking, dan jangan mudah menyerah”.

Hingga akhirnya, tepatnya bulan Juni 2016, Rini mempunyai inisiatif dengan temannya untuk membuka sebuah agen perjalanan wisata ke Dieng sembari tetap mencari pekerjaan yang ia inginkan. Usaha tersebut bernama SNI Tour and Travel. Namun, setelah berganti pengurus maka nama tersebut diganti menjadi Dieng Saba Tour. Ternyata, mengelola sebuah usaha itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, banyak hambatan dan kendala ketika dia mengelola usaha tersebut. Awal tahun 2017, Ibunya sempat sakit sehingga mengharuskannya untuk mengantarkan ibunya fisioterapi seminggu tiga kali di RSU. Rini pun jadi berusaha untuk mendapat pekerjaan yang dekat dengan Wonosobo seperti Yogyakarta. Lagi-lagi, usaha tersebut belum membuahkan hasil, namun hasil itu tidak membuatnya putus asa dan semakin mendekatkannya pada Allah SWT.

Jalan Terbaik Mulai Terbuka

Pada bulan Mei 2017, ayahnya mendengar jika ada lowongan perangkat desa se-Kabupaten Wonosobo.    Awalnya dia ragu untuk mendaftar karena pemerintahan bukan bidangnya. Namun, orang tuanya selalu memotivasi dan mendukung Rini untuk mencobanya. Akhirnya diputuskan “Oke, mendaftar menjadi Sekdes Desa Wonosari”. Dia mengetahui ada lowongan tersebut 5 hari sebelum batas pengumpulan berkas dengan posisi masih di Tangerang. Hanya dalam 3 hari, Rini berhasil mengurus berkas yang tidak sedikit seperti legalisasi ijazah SD-SMA, surat keterangan sehat, surat keterangan bebas pidana dari pengadilan, sertifikat komputer, hingga legalisasi Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, dan KTP. Alhamdulillah semuanya terpenuhi H-1 penutupan pendaftaran.

Setelah mengumpulkan berkas, pendaftar harus mengikuti ujian tes dengan lima bahan tes, yaitu Pancasila & UUD 1945, Bahasa Indonesia, Pemerintahan Daerah, Pemerintahan Desa, dan Pengetahuan Umum. Rini yang kuliah jurusan Elektro tentu tidak pernah mempelajari hal-hal tersebut. Dia pun berusaha belajar setiap hari kurang lebih selama satu bulan sebelum tes perangkat desa yang diadakan pada bulan Juni 2017. Ia berusaha mencari materi dari berbagai sumber, baik dari buku maupun internet. Tidak lupa juga untuk selalu berusaha meningkatkan kualitas ibadah dan doa.

“Alhamdulillah perjuangan dan doa saya tidak sia-sia.”

Total peserta yang mengikuti ujian tertulis perangkat desa se-Kabupaten Wonosobo adalah 1805 peserta untuk 461 formasi di 205 desa. Untuk formasi sekdes sendiri ada 124 formasi dengan jumlah pelamar 1007 orang. Dan dari 1805 pelamar, hanya 118 orang yang dinyatakan lolos seleksi. Akhirnya, Allah menunjukkan jalan terbaik-Nya. Rini termasuk dalam 118 orang tersebut. Di Desa Wonosari sendiri, ada 22 peserta yang mendaftar (13 di antaranya adalah lulusan sarjana), dan dari 22 peserta tersebut hanya Rini seorang yang nilai tesnya memenuhi syarat dan lolos seleksi menjadi Sekretaris Desa Wonosari.

Sempat Masuk Media Massa

Perjuangannya menjadi Sekretaris Desa ini menarik perhatian dua media massa yang kemudian meliputnya. Pertama, koran Suara Merdeka tanggal 3 Agustus 2017 dengan judul “Jabatan Sekretaris Desa Wonosari Terisi”. Berita tersebut meliput acara pelantikan sekdes Desa Wonosari yang diadakan pada tanggal 2 Agustus 2017. Pelantikan terhebut dihadiri oleh Muspika, Kepala Desa beserta perangkat, dan juga masyarakat Desa Wonosari. Kedua, profil Rini juga masuk halaman depan Suara Kedu (Jumat, 25 Agustus 2017) di kolom  Cen Kondhang dengan tajuk “Mengabdi kepada Masyarakat”.

Menjadi Seorang yang Bermanfaat

Dengan menjadi Sekretaris Desa, Rini mengaku belajar menghormati orang lain serta membaur dengan masyarakat, apalagi dia adalah perangkat desa termuda di desa Wonosari. Yang paling penting, Rini selalu ingin menjadi seseorang yang bermanfaat bagi pemerintah dan juga masyarakat. Ke depannya, Rini ingin sekali menjadikan desa Wonosari menjadi desa wisata, dengan terlebih dahulu menata administrasi desa sehingga lebih baik.

Dari perjalanan hidupnya, terutama setelah lulus, Rini mendapat pelajaran agar tidak mudah putus asa, selalu berpikir positif, dan yang paling penting selalu berusaha mendekatkan diri kita dengan Yang Maha Kuasa. Meraih mimpi juga tidak semudah membalik telapak tangan. Ambil hikmah di setiap kegagalan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

“Jadilah orang yang bermanfaat, karena kesuksesan bukanlah tentang seberapa banyak uang yang kamu hasilkan, namun seberapa besar kamu bisa membawa perubahan dan bermanfaat bagi orang lain. “ – Sandia Rini

 

*Kawan muda dapat berkorespondensi dengan Rini melalui akun media sosialnya yaitu Sandia Rini (Facebook) dan @sandiarini (Instagram).

(Apid dan Vina)

 

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0