Halo kawan muda! Rubrik kisah kali ini cukup unik! Mungkin Selama ini kita mengira bahwa pemimpin beserta perangkat pada suatu desa identik dengan mereka yang sudah cukup berumur dan berpengalaman. Nah kali ini ada yang berbeda dari Desa Sindupaten, Selomerto, terdapat pemuda berusia 24 tahun yang telah menjabat sebagai sekretaris desa! Penasaran, bukan?

Tatag Taufan Anwar, Sekretaris Desa yang biasa dipanggil dengan sapaan “Tatag” ini adalah pemuda kelahiran Wonosobo asli, lahir pada tanggal 2 Agustus 1993. Tatag adalah anak sulung dari dua bersaudara. Ia adalah lulusan dari SD 1 Negeri Kadipaten, SMP Negeri 2 Wonosobo, SMA Negeri 1 Wonosobo dan juga seorang sarjana lulusan S1 Ilmu Pemerintahan Universitas Diponegoro. Mari kita simak kisah perjalanan Tatag menjadi Sekretaris Desa berikut ini!

Hobi Unik yang Mendulang Prestasi

Sebagai pemuda yang merupakan generasi milenial dan Wonosobo tulen, Tatag dapat dikategorikan sebagai anak muda yang cinta budaya. Hal ini dapat dibuktikan dari hobinya yaitu membaca dan mendalang. Di zaman yang sangat modern seperti sekarang ini, hobi mendalang sangat jarang kita temui, apalagi di kalangan anak-anak muda masa kini. Tetapi, Tatag justru semangatnya membara untuk mendalami hobi mendalang meskipun di tengah zaman yang modern ini. Selain itu, Tatag juga membuktikan kesenangannya terhadap budaya dan literasi dengan menjuarai beberapa lomba seperti Juara 1 Mata pelajaran Bahasa Jawa tingkat Jawa Tengah, Juara 2 Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Bernegara Tingkat Nasional Tahun 2011, Juara 1 Lomba menulis Essay Pedalangan Festival Dulongmas di Kabupaten Tegal Tahun 2015, Juara 3 Sayembara Naskah Wayang Universitas Airlangga Surabaya Tahun 2016, dan Juara 1 Lomba Menulis Cerita Legenda Desa ARPUSDA Wonosobo tahun 2016.

Menjadi Sekretaris Desa sekaligus Aktivis Kesenian

Saat ini Tatag menjabat sebagai Sekretaris Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto terhitung sejak dilantik pada 26 Juli 2017. Selain itu, Tatag juga masih aktif di beberapa organisasi dan komunitas khususnya di bidang seni dan budaya, antara lain Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Kab. Wonosobo, Forum Komunikasi Media Tradisional (FK METRA) dan Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) yang baru saja dibentuk di awal tahun 2018 ini. Serta sebagai pembina di Paguyuban Lengger Tayub Wonosobo (PAGER TAWON). Sebagaimana tugas pokok dan fungsi Tatag sebagai Sekretaris Desa, diantaranya adalah merumuskan rancangan regulasi dan administrasi tingkat desa, APBDesa, dan kegiatan-kegiatan di desa lainnya. Kemudian untuk kegiatan di luar pekerjaan, sebagaimana komunitas yang selama ini Tatag ikuti, ia beserta teman-teman lain sedang mengonsep beberapa kegiatan yang bertujuan pada pelestarian dan kemajuan seni budaya di Kabupaten Wonosobo. Melihat perkembangan dewasa ini, seni budaya mulai terkikis apalagi generasi muda sekarang banyak yang berkiblat pada budaya asing tanpa filter yang selektif. Budaya-budaya atau gaya hidup asing yang belum tentu cocok dengan adat ketimuran kita adalah alasan Tatag tetap setia berkecimpung dalam komunitas yang bermuatan lokal.

Iseng yang Berujung Rezeki dari Yang Mahakuasa

Perjalanan Tatag ini sebenarnya bermula dari sebuah ketidaksengajaan, di mana ia tidak berniat untuk mendaftar sekretaris desa. Selepas lulus kuliah tahun 2016, Tatag bisa dibilang masih belum mau melanjutkan untuk bekerja. Ia masih ingin beristirahat sebentar dengan bermain dan menikmati masa selepas kuliah untuk santai atau belum ingin terikat dengan suatu aturan- aturan baku. Namun, kemudian pada saat ada seleksi pendaftaran Sekretaris Desa, orang tua Tatag menganjurkan untuk ikut. Walaupun sekedar iseng saja, daripada tidak ada kegiatan, kebetulan sekali sewaktu itu adalah bulan Ramadhan sehingga ia sedang vakum berkegiatan dalam bidang seninya. Akhirnya meski dengan agak ogah-ogahan, Tatag mulai melengkapi berkas dan persyaratan yang harus dipenuhi. Hingga pada saat tes seleksi, tidak ada persiapan khusus, belajar materi pun jarang-jarang. Namun ibarat laku jantra Sang Pembuat Takdir, Alhamdulillah Tatag berhasil ketiban sampur mendapatkan amanah menjadi Sekretaris Desa.

Merasa Hutang Budi pada Tanah Kelahiran

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, awalnya Tatag merasa belum siap menjadi Sekretaris Desa, dengan segala kekurangan yang dimiliki. Namun, Tatag berusaha secara maksimal menjalankan tugasnya. Dengan bekal ilmu yang ia dapatkan selama menempuh pendidikan, khususnya saat kuliah, dan kegiatan-kegiatan Tatag, itulah motivasinya. Motivasi lainnya adalah ia ingin berkontribusi secara nyata bagi lingkungannya, karena sebelumnya memang Tatag merupakan pemuda yang merantau atau jarang berada di rumah. Jadi, perasaan berhutang budi dan ingin berkontribusi kepada tanah kelahirannya adalah Tatag bersemangat dalam menjalani tugasnya sebagai sekretaris desa.

Kesan dan Tantangan sebagai Sekdes Muda

Kesan pertama Tatag ketika mendapati dirinya lolos tentu ia merasa kaget. Karena menurut kabar di Kabupaten Wonosobo dari kurang lebih pendaftar sejumlah 1500-an hanya 118 yang lolos, dan Tatag merupakan salah satu di antaranya. Dan lebih kaget lagi di Kecamatan Selomerto, Tatag adalah Sekretaris Desa termuda. Namun, dengan keadaan itu tentu tantangan yang akan Tatag hadapi sangatlah besar, terutama dalam hal “ngemong” masyarakat. Karena perangkat desa adalah pamong, pamomong, juga pengayom. Di usianya yang bisa dibilang masih muda dituntut untuk lebih “temua” dalam melayani warga desa.

Beberapa pengalaman menarik dialaminya selama menjabat menjadi Sekretaris Desa. Salah satunya, saat Tatag banyak mendapatkan undangan warga jika sedang punya hajatan. Misalnya pernikahan, nah kadang Tatag ini diberi tugas untuk memberikan petuah pernikahan atau bahasa jawanya “ular-ular” bagi pengantin. Ia merasa ini lucu karena ia sendiri belum menikah, namun harus memberikan petuah pernikahan untuk warga desa.

Target Tatag ke depan, terutama dalam tugasnya sebagai Sekretaris Desa muda adalah ia akan berusaha memahami dan menguasai tugas, pokok dan fungsinya secepat mungkin, sehingga apa yang ia lakukan akan lebih bermanfaat bagi sesama. Ia juga ingin tetap aktif dan kontributif bagi kegiatan seni budaya di Wonosobo. Untuk target hidup, selain melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ya tentunya juga Tatag ingin mencari pendamping hidup. Nah, kawan muda, ada yang ingin mendaftar jadi pendamping hidup?

Jangan Kehilangan Harapan dan Kendalikan Ambisi

Dalam hidupnya, Tatag tidak pernah menganggap suatu peristiwa sebagai pengalaman pahit karena pahit dan tidaknya tergantung dari sudut pandang melihatnya, apalagi sebenarnya semua sudah digariskan Yang Maha Kuasa. Misalnya, dulu ketika Tatag lulus dari SD, dia terobsesi untuk masuk di SMP terfavorit di Wonosobo. Tatag sudah mempersiapkan secara maksimal, tetapi apa daya nilai rapornya tidak mencukupi dan hanya selisih sedikit sekali dari batas nilai minimal sehingga target Tatag belum berhasil dan akhirnya masuk ke SMP lain yang bukan cita-citanya. Dari pengalamannya itu, dia yakin bahwa jika kita kecewa dan jatuh, jangan pernah kehilangan harapan, karena manusia yang kehilangan harapan akan kehilangan segala-galanya. Dari perjalanan hidupnya, dia juga belajar bahwa obsesi yang berlebihan bahkan cenderung menjadi ambisi tidaklah bijak. Karena nafsu ambisi adalah bara, dan jika diri kita menjadikannya sebagai pedoman, maka akan memantik kobaran api yang siapapun bahkan diri kita sendiri tidak akan mampu memadamkannya.

“Saat kita disebut pemenang dalam hidup, saat itu pula sebagian orang mengganggap kita sebagai pecundang, maka jadilah pemenang sejati dalam hidup dengan menebarkan kebahagiaan bagi sesama. Artinya jalan yang akan kita tapaki pasti terjal dan banyak orang akan mencibir, jangan hiraukan, teruslah berjalan dan ingat tujuan utama kita apa. Bungkam suara sumbang itu dengan keberhasilan yang anda peroleh. Ingat keberhasilan dan kesuksesan tidak melulu soal materi.
Optimis, namun tetap membumi. “ – Tatag Taufani Anwar

Nah, itu tadi selayang pandang salah satu Sekretaris Desa termuda di Wonosobo. Dari kisah tersebut, menunjukkan bahwa ada banyak cara yang bisa kita lakukan dalam memberikan sumbangsih kita kepada tanah kelahiran kita tercinta. Salah satunya adalah dengan mengabdi dan melebur langsung bersama masyarakat seperti apa yang dilakukan oleh Tatag.

 

Apabila kalian masih penasaran dengan sosok Tatag, bisa dijangkau melalui media sosial.
Facebook: Tatag Taufani Anwar dan Instagram: @tatagtaufani.

Oh iya satu lagi, kawan muda bisa follow ig @wayangheritage untuk informasi seputar pewayangan, siapa tahu mampu menambah kecintaan kita pada budaya lokal.

(Kharisma)

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0