Namanya Senditya Erlangga Joko Saputro atau akrab disapa Sendi. Usianya belum genap 25 tahun, namun ia sudah mengemban amanah sebagai Sekretaris Desa. Sendi adalah salah satu contoh anak muda yang berasal dari kota kecil favorit kita Wonosobo yang patut dijadikan sebagai role model dalam memulai mengabdi ke desa. Terlahir dari pasangan H. Sa’dun, S.P. dan Ibu Endang Sri Rahayu, S.E, Sendi merupakan sulung dari dua bersaudara. Alumni dari SD Negeri 1 Selomerto, SMP Negeri 2 Selomerto, dan SMA Negeri 2 Wonosobo ini sempat memiliki usaha kafe di Semarang, namun kemudian memilih pulang kampung dan membangun desanya. Tim Redaksi Wonosobo Muda kali ini berkesempatan mewawancarai Sendi di sela-sela kesibukannya mengurus berbagai keperluan di desa. Kawan muda, inilah kisah Senditya Erlangga, Sekretaris Desa Sambirejo, Selomerto, Wonosobo!

Melepas Usaha Kafe di Semarang

Pada mulanya, Sendi tidak pernah terpikirkan untuk bekerja dan pulang mengabdi ke desa. Sarjana Pendidikan Geografi dari Universitas Negeri Semarang ini sudah terlanjur merintis usaha kafe ketika kuliah di Semarang. Sedari awal, memang ia bercita-cita menjadi pengusaha. Ia bahkan sempat diganjar sebagai 10 besar pengusaha terbaik di kampusnya. Namun, setelah ia lulus kuliah, Sendi mulai berfikir mengenai masa depannya. Ia merasa terlalu egois bila memilih untuk terus berada di semarang menjalankan usaha yang ia jalani saat itu. Walaupun jarak Wonosobo – Semarang tidak begitu jauh, tapi orang tua tanpa menjadi pertimbangan utamanya dalam mengambil keputusan penting dalam hidupnya itu. Dengan usia orang tua yang mulai bertambah dan kesehatannya yang mulai menurun, Sendi merasa memiliki tanggung jawab untuk berada dekat dengan orang tuanya. Pertimbangan kedua, ia merasa selama hidup, ia kurang berkontribusi di desa kelahiran sendiri dengan terlalu asyik berkegiatan di luar.

“Padahal, ke mana pun saya pergi tempat yang dituju paling akhir adalah pulang ke rumah yaitu desa kelahiran saya sendiri.”

Atas pertimbangan itulah, pemuda yang pernah meraih juara 3 Karate tingkat Nasional ini mulai berpikir untuk mengikuti rekruitmen sekretaris desa, sekaligus menjadi jembatan baginya untuk mengabdikan diri di desa kelahirannya sendiri. Sendi memutuskan melepas usaha kafe yang berada di Semarang dan mulai fokus untuk mulai belajar tentang desa.

Proses Seleksi yang Tidak Mudah

Selepas diwisuda dari Universitas Negeri Semarang, Sendi mendapatkan informasi mengenai seleksi perangkat desa untuk menjaring dua posisi yaitu sekretaris desa dan kepala dusun. Proses penjaringan untuk mengisi jabatan tersebut dilakukan serentak se-Kabupaten Wonosobo dengan standard minimal nilai kelulusan adalah 65 dan hanya satu orang dengan nilai tertinggi yang akan dilantik. Setelah info itu muncul, kurang lebih tiga bulan sebelum ujian, Sendi mulai mengunduh berbagai jenis peraturan yang berhubungan dengan desa, baik peraturan pemerintah, peraturan menteri, undang-undang, peraturan daerah provinsi, hingga perda kabupaten. Semua itu kemudian ia ringkas menggunakan tulisan tangan. Ia sadar itu bukan bidang yang ia kuasai dan belum menguasai tentang desa sehingga ringkasan yang ia buat itu harus dibaca berulang-ulang hingga paham. Usaha tersebut ia lakukan sambil menjaga toko milik orang tuanya.

Sampai akhirnya ujian dimulai dengan dihadiri tokoh masyarakat, perwakilan kecamatan, beberapa personil polisi dan tantara, serta panitia penyelenggara. Setelah ujian selesai, hasilnya langsung dikoreksi dalam waktu yang sama tanpa jeda istrahat dan dilakukan secara terbuka. Berkat doa dan dukungan orang tua, serta kehendak dari Tuhan, Sendi dinyatakan memperoleh nilai tertinggi. Hal yang lebih membanggakan, ternyata dari pendaftar yang ada, hanya ia yang memiliki nilai di atas standard minimal. Dari dua posisi jabatan yang dibutuhkan hanya satu posisi yang terisi, yang kini diamanahkan kepada Sendi.

Melayani Masyarakat Desa

Lalu apa sih sebenarnya tugas seorang sekretaris desa? Pemuda yang ternyata juga pernah menjuarai kompetisi desain grafis di kampusnya ini menjelaskan, bahwa tugasnya adalah memberikan pelayanan terhadap masyarakat, baik jam kantor maupun di luar jam kantor. Sebagai seorang sekretaris desa, ia menjadi koordinator pelaksana teknis keuangan desa dan harus membuat laporan keuangan setiap bulannya, mengelola administrasi web site desa, serta sebagai pengelola arsip desa dan pelayanan administrasi warga.

Aktivitas sehari-hari ia mulai dari jam delapan pagi, di mana ia harus sudah siap melakukan pelayanan kepada masyarakat. Bila belum ada masyarakat yang membutuhkan pelayanan, ia mengerjakan laporan keuangan atau pergi ke lokasi pembangunan yang sedang dalam proses pengerjaan, guna mengetahui pekerjaan sudah sampai mana. Dari situ ia juga mendengarkan kendala yang sedang terjadi dan mencari solusi bersama, serta memastikan pembangunan sesuai dengan rencana dan anggaran yang telah dirancang. Di luar jam kantor, kegiatan yang ia lakukan lebih ke kegiatan sosial seperti membantu warga yang sakit ke rumah sakit, membantu menghantarkan proses alur administrasi bila diperlukan, hingga membantu pengurusan kartu jaminan kesehatan untuk warga kurang mampu.

Ia juga ikut serta dalam kegiatan desa, baik yang berkaitan dengan keagamaan, pengajian, kegiatan kesenian, kompetisi olah raga. Kegiatan-kegiatan tersebut ia ikuti baik yang dilaksanakan di desa maupun keluar desa, mulai dari tahap perencanaan melalui musyawarah, sampai dengan pelaksanaan. Ia juga turut serta menyosialisasikan program-program atau infomasi terbaru, baik yang dilaksanakan oleh desa maupun instansi pemerintahan yang di atasnya melalui musyawarah tingkat RT sampai dengan Tingkat Desa. Tak hanya itu, Sendi juga harus mewakili Kepala Desa bila berhalangan hadir dalam kegiatan di internal desa maupun di luar desa. Serta, harus siap melayani di luar jam kerja dan di hari libur. Wah, salut ya!

Tantangan yang Dihadapi

Sendi mengaku, awal mula terjun di masyarakat memang penuh tantangan. Tidak mudah meyakinkan warga desa bahwa anak muda sepertinya mampu mengemban amanat tersebut, mengingat usia Sendi yang dianggap masih kecil. Usianya berbeda jauh dengan sosok sekretaris desa yang berada di benak masyarakat. Hal ini ia rasakan dengan berbagai komentar pro kontra yang terjadi, serta isu-isu miring tentang keraguan mengenai sosok Sekdes baru di desanya. Namun, ia pribadi memaklumi hal itu. I sadar bahwa sebelumnya ia kurang berkontribusi di desanya sendiri. Warga desa belum pernah tahu hasil pekerjaan Sendi. Namun, seiring berjalan waktu dan pengabdian yang ia lakukan, keraguan-keraguan tersebut mulai luntur dengan satu persatu pekerjaan ia selesaikan. Ia mencoba untuk tidak mengecewakan warga desa dan mencoba berhati-hati dalam melangkah. Ia sadar bahwa sebagai perangkat desa, ia mengabdi seperti ikan di dalam akuarium, di mana gerak geriknya selalu dilihat dan diawasi banyak mata.

“Pengalaman menariknya di mana saya harus sedikit menurunkan ego untuk merubah cara berpakaian dengan lebih soft dan sopan karena kebiasaan memakai celana bolong-bolong dan rambut gondrong nampaknya harus saya tinggalkan haha.”

Mimpi untuk Desa

Untuk ke depannya, Sendi ingin pelan – pelan mencoba untuk mengembangkan desa Sambirejo sesuai dengan bidang yang ia kuasai, baik di bidang pendidikan maupun kewirausahaan. Ia memiliki rencana untuk menggodok program kejar paket B dan C, les gratis untuk siswa yang akan mengikuti ujian nasional, dan kegiatan pelatihan kerja bagi pemuda. Di bidang kewirausahaan, Sendi berangan-angan desa Sambirejo memiliki satu produk unggulan yang bisa menyerap tenaga kerja sebanyak mungkin. Ia juga mencoba memublikasikan kegiatan desa melalui web site dan media sosial sebagai wujud transparansi kepada warga masyarakat tentang pembangunan desa.

“Saya bukan superman yang bisa mengerjakan semua sendiri, saya berharap semoga cita-cita ini memperoleh dukungan dari berbagai pihak, terutama warga desa.” – Senditya Erlangga

Pesan untuk Kawan Muda

“Pesan saya, terutama untuk anak muda seperti saya ini, saya yakin ego kawan-kawan masih tinggi tentang konsep masa depan. Saya juga mengalami hal tersebut. Namun, cobalah untuk lebih lentur terhadap konsep masa depanmu. Cita-cita harus tinggi, tujuan harus jelas, tapi proses mencapainya harus lebih fleksibel dan lentur. Hal ini agar ketika satu cara yang sudah ditetapkan buat mencapai tujuan kemudian gagal, kamu tidak mudah menyerah, karena banyak cara yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuanmu.”

Bagaimana kawan muda, luar biasa menginpirasi kan sosok Sekretaris Desa yang satu ini?

 

*Kawan muda dapat berkorespondensi dengan Sendi melalui akun media sosialnya yaitu Sendi Erlangga Joko Saputro (Facebook) dan @senditya (Instagram).

 

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0