Mengenal Lebih Dalam : IQ, EQ dan SQ

WM Ngangsu Kawruh edisi keenam, kami membahas tentang IQ, EQ dan SQ secara dalam dan benar. Yap, benar karena ternyata setelah seorang anggota WM yang merupakan lulusan jurusan Psikologi yaitu Astika Tri Yunita, definisi kami tentang hal-hal tersebut masih keliru. Jadi sharing-sharing kali ini benar-benar membuka pikiran.

Sebenarnya, apa itu IQ, EQ dan SQ?

IQ (Intelligence Quotient)

EQ (Emotional Quotient)

SQ (Spiritual Quotient)

AQ (Adversity Quotient)

Mirip ya sama ESQ (Emotional Spiritual Quotient)

Biasanya orang2 mengartikan Quotient sebagai kecerdasan. IQ berarti kecerdasan inteligensi, EQ berarti kecerdasan emosional, dst. Bahkan banyak artikel di google yang mengartikan seperti ini padahal bukan.

“Q” dalam istilah2 di atas adalah kependekan dari Quotient, yg kalo diterjemahkan ke dlm bahasa Indonesia artinya adalah “hasil bagi”, bukan kecerdasan. Kenapa? Karena awalnya pengukuran kecerdasan seseorang itu didapat dg cara membandingkan usia mental dg usia kronologis (usia sebenarnya) ATAU dg kata lain skor kecerdasan seseorang adalah hasil bagi antara usia mental dan usia kronologis-nya.

Jadi salah kalo ada yang bilang, IQ itu kecerdasan intelektual, EQ itu kecerdasan emosional, SQ  itu kecerdasan spiritual, dan AQ itu kecerdasan daya juang. Apalagi ESQ

Istilah2 di atas pada intinya adalah konsep2 untuk menjelaskan potensi2 yg ada dalam diri manusia. Kita mulai pembahasannya dari konsep yang paling tua/kuno.

1. IQ. Potensi Intelektual. Kecerdasan Mental Intelektual

Pembahasan soal kecerdasan diawali ketika para ahli melihat adanya perbedaan pd tiap individu. Kenapa ada individu yg lebih unggul dari individu yg lain? Kenapa ada individu yg lebih sukses dari individu yg lain? Kenapa ada individu yg cerdas (intelligent people) dan ada individu yg kurang cerdas (unintelligent people)?

Semenjak itu para ahli mulai mengemukakan gagasan mereka tentang intelligence (kecerdasan) dan menyusun alat tes untuk mengukur kecerdasan seseorang

Pada taun 1916, istilah IQ pertama kali digunakan secara resmi oleh Lewis Terman untuk mengukur kecerdasan seseorang. Walaupun sebenernya pengukuran inteligensi terus mengalami perkembangan seiring dg berkembangnya teori inteligensi dan metode pengukurannya, tapi istilah IQ begitu populer dan mendapat perhatian yg luas dr berbagai pihak. Bahkan IQ disebut2 sbg prediktor kesuksesan seseorang. Singkatnya, udah jadi kesepakatan bersama bahwa orang yg suskes adalah orang yg mempunyai IQ tinggi. Bahkan IQ dipercaya menentukan kesuksesan seseorang

Bahkan di sekolah2, tes IQ sering dipake buat ngetes siswanya atau buat mengelompokkan siswa2nya. Mungkin temen2 disini ada yg pernah ikutan tes IQ jaman sekolah? Masih pada inget gak, soal2nya berkisar tentang apa aja sih?

Yang diukur di tes IQ itu hanya berkisar pd kemampuan logika-matematika dan bahasa. Ada yg berpendapat kalo IQ itu cuma merujuk ke kemampuan otak sebelah kiri aja. Dan entah kebetulan ato enggak, tapi pendidikan di Indonesia juga begitu. Kemampuan akademis lebih dihargai daripada kemampuan non akademis. Pelajaran matematika, IPA, IPS, bahasa, lebih dianggap penting daripada pelajaran seni dan olahraga. Di SMA pembagian jurusan cuma ada IPA, IPS, dan Bahasa walaupun udah mulai jarang.

Nah, konsep IQ ini diakui atopun gak terus didewa2kan dan mjd prediktor kesuksesan seseorang. “Orang yg IQ nya tinggi, sekolahnya pinter, pasti sukses”, gitu pandangan sebagian besar orang. Sampai suatu ketika, ada kasusnya Ted Kaczynski. Jadi Ted itu punya IQ yg tinggi. Dia pinter bgt. Di usia 16 tahun dia berhasil masuk Harvard dan lulus di usia 20. Dia lgsg ngelanjutin pendidikan masternya sampai Ph.D di jurusan matematika Univ. Michigan. Terus dia jadi dosen di departemen mtk Universitas California. Pendidikan dan karirnya cemerlang sekali.  Eh baru 2 taun ngajar, dia keluar, nyerah. Kenapa? Ternyata walopun dia pinter banget, jenius, tapi dia gak ngembangin social skills atau emotional intelligence-nya. Menurut cerita teman2nya, Ted gak pernah bergaul, sibuk belajar. Dia gak bisa beradaptasi scr sosial. Gara2 kasus semacam ini, ahli mulai berpikir kalo IQ bukan satu2nya prediktor keberhasilan seseorang. Mungkin d kehidupan kita sehari2 juga sering nemuin nih kasus semacam ini. Temen sekolah kita yg pinterrr bgt kalah sukses sama temen yg lain yg biasa aja prestasinya.

2. Emotional Quotient Emotional Intelligence

Karena penjelasan di awal tadi soal arti dari quotient, maka para ahli lebih milih istilah EI (Emotional Intelligence). Konsep ini dipopulerkan sama Daniel Goleman pada bukinya yg berjudul “Emotional Intelligence-Why It Can Matter More than IQ”. Walaupun bukunya bukan buku akademis alias masuk buku psikologi populer, tapi konsep EI banyak menarik perhatian para ahli.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan kita buat mengidentifikasi, mengukur, dan mengontrol emosi diri sendiri, orang lain, maupun kelompok. Goleman membagi EI ke dalam 5 kemampuan : kesadaran diri, kontrol diri, kemampuan sosial, empati, dan motivasi. Ia berpendapat bahwa walopun orang punya IQ tinggi, mereka bakal terhambat tanpa punya EI yang baik.

Lalu ada lagi ahli berpendapat. “Ah ada yang lebin penting dari pada IQ sama EI! Orang punya IQ dan EI tinggi gak bakalan sukses kalo mereka gak punya ini nih!”

3. Spiritual Quotient Intelligence

Spiritual Intelligence termasuk konsep yang baru, karna baru dipernalkan sama Danah Zohar pd taun 1997. SI ini dibuat untuk mengukur kemampuan seseorang dlm memaknai kehidupannya. Kemampuan2 dalam konsep SI itu kayak spontanitas, visioner, rasa kemanusiaan, kemampuan utk bertanya hal2 yg bersifat mendalam seperti, “siapa saya di dunia ini?” “untuk apa sy hidup di dunia ini?”

Brrti klo kt punya rasa galau, rasa khawatir tntang hakikat hidup kt itu bagus ya? Justru klo yg hidupnya brasa flat dan g tujuan hidup itu yg prlu dipertanyakan ya?

Menirut konsep SI iya. Orang yg punya tujuan hidup pasti hidupnya lebih bermakna dari yang sekedar menjalani hidup seadanya. Apalagi kalo kegalauannya tentang hidup tadi bisa dijawab dan diimplementasikan ke tindakan nyata. Bisa jadi keren bgt hasilnya. Kayak di pidatonya Mark Zuckerberg pas awal taun ini yg dia pidato di acara wisudaan Harvard, dia bilang kalo orang punya kesadaran tujuan pasti akan membawa dunia ini jadi lebih baik. Dia mencontohkan kisahnya John F Kennedy yg ketemu sama seorang petugas kebersihan di pusat antaraiksa NASA. Pas lagi nyapu, petugas kebersihan tadi ditanya sama Presiden Kennedy, apa yg sedang kamu kerjakan? Petugas tadi menjawab, “tuan presiden, sy membantu mengirimkan manusia ke bulan”. Tujuan adalah kesadaran bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yg lebih besar dibanding diri kita sendiri.

4. Adversity Quotient

Gak tau kenapa pencetusnya tetep pake kata “quotient” dibanding “intelligence”.

Jujur aja aku gak tau banyak soal kecerdasan yg satu ini. Tapi intinya AQ ngomongin soal daya juang/kegigihan dalam menghadapi setiap tantangan.

Stoltz dalam bukunya bilang kalo IQ, EQ, dan SQ gagal ngebuktiin sebagai prediktor keberhasilan dalam hidup. Soalnya kesemua kecerdasan tadi kalo orangnya gak punya kegigihan dalam mengejar kesuksesan ya sama aja bohong.

Menurutnya ada 3 tipe orang terkait IQ.

1. Quitters

Ketika ada tantangan, org dg tipe ini gampang nyerah, putus asa, dan menarik tinggi. Gak tangguh

2. Camper

Orang yg banyak perhitungan. Walopun punya keberanian dlm menghadapi tantangan tapi selalu mempertimbangkan resiko. Orang dg tipe ini mudah puas sama yg udah dicapai

3. Climber

Orang yang gigih dg segala resiko. Orang dg tipe ini gak menyesali kegagalan, dia gak takut gagal dan melihat kegagalan sebagai keberhasilan yg tertunda selama tetap mau berusaha.

Contoh orang yang mempunyai AQ yang tinggi itu kayak Bob Sadino. Dari buku, di saat orang2 lain memperkecil resiko dalam membangun bisnis dia malah memperbesar resiko. Karna menurut beliau, dalam resiko yg besar terkandung laba yg besar. Resiko kecil laba nya kecil. Pantes aja dg pemikirannya ini, beliau dianggap “gila”.

Sekarang selain IQ EQ SQ AQ juga banyak bermunculan Q Q yang lain. Kayak Financial Quotient, Physical Quotient, Money Quotient, dan Quotient2 yg lain

Walopun yg diakui secara ilmiah & udah ada pengukuran terstandarisasi yg valid dan reliabel cuma yg kecerdasan intelektual, tapi boleh lah kita pelajari konsep2 yg lain. Tapi jangan mudah percaya kalo ada yg iming2 ngadain tes EQ SQ AQ atau ada yg ngajakin training EQ SQ AQ ESQ, karna para ahli aja masin belum sepakat sama konsepnya (konsepnya belum mateng) tapi udah banyak yg manfaatin buat ngeruk keuntungan.

Jadi jangan mudah percaya juga sama tes2 online kayak tes di Facebook atau VonVon dkk. Itu jelas2 gak valid, karena yang bisa ngetes cuma psikolog.

Di saat para ahli lain berpendapat kalo kecerdasan itu konsep tunggal (orang yg cerdas IQ nya tinggi = pinter logika matematika dan bahasa), muncul ahli yang punya pendapat berbeda dan cukup menggegerkan dunia pendidikan. Namanya Howard Gardner yg mencetuskan teori Multiple Intelligences. Gardner berpendapat kalo kecerdasan manusia tidak hanya punya 1 kecerdasan tapi beragam kecerdasan, dan hal ini lah yg merfleksikan kenuikan tiap manusia. Kecerdasan2 itu diantaranya :

1. Kecerdasan logika matematika

2. Kecerdasan linguistik/bahasa

3. Kecerdasan musikal

4. Keecrdasan visual-spasial

5. Kecerdasan kinestetik

6. Kecerdasan interpersonal

7. Kecerdasan intrapersonal

8. Keecrdasan naturalistik

Setiap orang punya semua kecerdasan ini hanya saja kadarnya berbeda2 dan ada 1 atau beberapa kecerdasan yg dominan. Kayak misalnya Dhimas, oh dia dominan kecerdasan linguistik makanya jadi mc & penyiar radio.

Sayangnya Multiple Intelligences belum disambut baik sama sekolah2. Padahal ini keren karna bisa membantu anak buat menemukan potensinya. Makanya ada yg bilang, ikan itu berenang, dipaksa manjat ya gak bisa. Monyet itu manjat, dipaksa berenang ya gak bisa.

Di sekolah2 internasional udah banyak dipake konsep Multiple Intelligences ini. Di sekolah2 konvensional masih mendewakan akademis.

Sekian materi WM Ngangsu Kawruh.

Sebagai penutup, ada video menarik dari salah seorang psikolog di Stanford, yaitu tentang Growth Mindset, yaitu mengembangkan kemampuan agar semakin berkembang.


 

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0