Sekolah Sebagai Jendela Dunia

Bayangkan suatu saat kita berada di dalam sebuah rumah yang tidak memiliki jendela, atau rumah dengan jendela yang selalu tertutup, atau lebih sering ditutup, dan kita tinggal di dalamnya untuk jangka waktu yang lama. Mati barangkali tidak, namun yang pasti hidup kita tidak akan sehat, gampang sakit, dan yang paling parah mungkin akan banyak berkawan dengan penghuni kegelapan. Jika kehidupan kita adalah sebuah rumah lengkap dengan segala kelengkapan pintu dan jendelanya, perabotan, sertifikat, IMB, bahkan taman dan tanaman hiasnya, maka sekolah bagi saya adalah jendela rumah kehidupan itu. Sekolah bukan sekedar ijazah dan gelar, apalagi sekedar institusi pengajaran, karena ia seharusnya menjadi media untuk mencerahkan pikiran yang kusut dan buram, meluaskan sudut pandang yang sempit, mengasah logika yang tumpul, melonggarkan rongga dada yang sesak, dan membuka cakrawala yang sangat luas untuk menikmati aneka ragam-warnanya kehidupan.

Sayangnya, definisi sekolah di dalam KBBI ternyata hanya tereduksi menjadi 4 pengertian: (1) bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran; (2) waktu atau pertemuan ketika murid diberi pelajaran; (3) usaha menuntut kepandaian (ilmu pengetahuan); pelajaran; pengajaran; dan (4) belajar di sekolah, pergi ke sekolah, atau bersekolah. Padahal secara etimologis jika kita lihat di Etymology Dictionary, kata sekolah yang dalam Bahasa Inggris school dan Bahasa Jerman schule diadopsi dari istilah Latin schola memiliki makna dasar (the original notion is “leisure”) atau “intermission of work”, “leisure for learning”, yaitu waktu luang, waktu bersenang-senang. Barangkali karena distorsi pemaknaan inilah yang menyebabkan sekolah bagi banyak anak sekarang ini bukan menjadi hal yang menyenangkan. Baiklah, pemaknaan itu juga barangkali tidak salah, karena terlalu banyak waktu luang dan waktu bersenang-senang juga sejatinya tidak terlalu menyenangkan, betul?

Nostalgia Kampung Halaman, Wonosobo

Saya akan mulai dengan beberapa refleksi mendasar dari momen seminggu saat saya berkunjung ke Wonosobo, sebelum berangkat ke Amsterdam. Pertama, ketika saya mengunjungi kedua orang tua di desa Wonokromo Kabupaten Wonosobo untuk berpamitan dan mohon doa restu sebelum kerangkatan ke Belanda, saya sempatkan menanyakan kondisi dan perkembangan SD tempat saya mengawali sekolah dulu. Kebetulan kakak sepupu saya menjadi guru honorer di sekolah tersebut, dan yang ada di bayangan saya minimal sekolah negeri satu-satunya di desa ini sudah lebih maju dan memiliki jauh lebih banyak murid. Sebaliknya, saya sangat kaget, setelah 23 tahun saya lulus dari SD tersebut, jumlah total murid pada tahun ajaran 2017 ini ternyata hanya 54 anak, dimana murid baru di kelas satu hanya 6 anak, kelas dua hanya 8 anak, dan kelas tiga hanya 7 anak, serta sisanya di kelas 4-6. Padahal, ketika saya SD dulu, yang waktu itu lebih dari 98% anak-anaknya ke sekolah dengan shoe-less, jumlah murid satu kelas saja sudah lebih dari 15 anak, dan satu sekolah mungkin bisa lebih dari 100 anak. Logikanya, jumlah penduduk desa saat ini sudah berlipat, gedung sekolah sudah sangat bagus, biaya sekolah gratis, fasilitas cukup lengkap, jalan akses dari kecamatan ke desa sudah beraspal, dan jumlah guru kelas lengkap plus beberapa guru honorer, sehingga tidak ada alasan sekolah untuk tidak mendapatkan murid. Setelah saya tanyakan lebih lanjut, ternyata mayoritas anak-anak desa sekarang lebih memilih atau dipilihkan oleh orang tua mereka untuk bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Maarif swasta yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari SD.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kondisi saat usia saya SD dulu, di mana anak-anak lebih banyak sekolah di SD daripada di MI. Satu alasan singkatnya adalah karena para orang tua beranggapan bahwa MI menawarkan kurikulum Pendidikan Agama yang lebih banyak, sementara gratisnya sama. Yang lebih disayangkan lagi, rencana pembangunan SMP negeri di desa juga dibatalkan beberapa tahun yang lalu dan dialihkan ke desa lain karena tidak adanya kata sepakat antara penduduk yang memiliki tanah di lokasi strategis untuk dibangun gedung sekolah dengan Dinas Pendidikan setempat. Artinya, penundaan kawin muda (beberapa teman SD saya dulu sudah di-ijon-kan saat belum lulus SD) dengan memperbesar peluang anak untuk melanjutkan sekolah belum berubah secara signifikan selama dua dekade. 

Kedua, di bulan pertama Alif, anak saya,  masuk kelas 1 SD di Imogiri, Bantul Jogja, nampaknya dia belum merasakan sekolah sebagai “leisure for learning”, karena dia sering mencari alasan untuk tidak mau berangkat sekolah, dan ketika libur tiba atau dengan drama yang dibuatnya dia berhasil untuk tidak masuk sekolah, menurutnya itu lebih seru. Padahal ini adalah sekolah pilihannya setelah kami ajak ke cukup banyak alternatif sekolah yang menurut dia paling suka, sebelum proses pendaftaran, dan teman-teman TK-nya banyak yang tidak lolos pada ujian penerimaan siswa di sekolah ini. Saya kemudian sedikit membandingkan, di akhir tahun 80-an, ketika sekolah lebih banyak keterbatasannya, buat saya sekolah ketika itu benar-benar masih merupakan “leisure” dan menyenangkan, meskipun beberapa guru masih ada yang menerapkan hukum “cambuk” saat kedapatan ada anak yang sengaja membolos atau melanggar aturan sekolah.

Beberapa kali saya dan istri saya mengajukan pertanyaan standar kepadanya, Le…(panggilan sayang saya ke Alif), kan sekarang sudah SD dan pasti Bu Guru di sekolah sering bertanya gini, apa cita-citamu? atau kalau sudah besar nanti kamu mau jadi apa? Alif jawabnya gimana? Dengan singkat dia menjawab: Mau kayak Ayah…Saya kembali bertanya: emang kerjaan ayah apa? Keliling dunia, jawabnya spontan. Hmmm…sepertinya sangat sederhana, namun ketika saya mencoba mengingat-ingat kembali jawaban apa yang saya berikan untuk pertanyaan yang sama pada saat saya ada di usianya, sepertinya tidak mungkin saya menjawab seperti itu, paling banter pengen jadi guru atau pengen jadi tentara (karena dua status ini sangat mulia di desa saya), atau jadi dokter, polisi, pilot, jawaban yang dianggap ngawur biasanya pengen jadi presiden (padahal who knows, Pak Jokowi?). Satu hal yang kemudian muncul di pikiran saya adalah life has changed, and it’s always changing, karena masa kecil saya dulu referensinya sangat terbatas, dan rata-rata orang tua anak-anak satu sekolah SD pada saat itu berdoa agar anak-anak mereka tidak menjadi seperti orangtuanya (termasuk orang tua saya, paling tidak dalam hal profesi atau pekerjaan dan kesempatan melanjutkan sekolah). Meskipun saya ragu apakah doa saya sebagai orang tua saat ini sudah benar-benar berbeda dengan orang-orang tua dulu, benang merahnya masih sama. Semoga, dengan membaca tulisan ini nanti, Alif mampu memelihara mimpinya untuk keliling dunia, karena jika dia bermalas-malasan dan mencari alasan lagi untuk tidak masuk sekolah, saya sudah punya amunisi: Ayo sekolah yang rajin le, katanya mau keliling dunia!

Nostalgia Kampus Biru

Seminggu di Jogja ternyata juga memberikan kesempatan kepada saya untuk bernostalgia di kampus Biru, bertemu lagi dengan guru saya Profesor Irwan Abdullah (dosen S1 di jurusan Antropologi UGM yang dulu meyakinkan saya bahwa kuliah Antropologi nanti bisa membwa saya ke Belanda), dan berkat motivasi beliaulah kemudian saya batal keluar dari jurusan ini, bahkan kemudian sangat menikmati kuliah di jurusan antropologi sebagai leisure, karena memang lebih banyak jalan-jalannya daripada belajar di kelasnya, lebih banyak bercerita daripada berhitung. Beliau mengundang saya untuk datang ke kelas Pengantar Ilmu Budaya bagi mahasiswa baru Antropologi UGM tahun 2017, untuk sekedar sharing tentang beberapa hal, mulai dari cerita ringan pengalaman pribadi saat menempuh program S1 Antropologi, pengalaman pekerjaan di Bappenas, dan pentingnya aplikasi ilmu Antropologi bagi masyarakat dan pembangunan bangsa.

Sesuai dugaan saya, umumnya para mahasiswa baru ini masih galau masuk jurusan Antropologi, sebagaimana yang saya rasakan dahulu. Ketika saya bertanya: berapa banyak dari temen-temen yang masuk jurusan Antropologi sebagai pilihan pertama? Hanya beberapa anak yang mengangkat tangan dan itupun malu-malu sambil tengok kanan-kiri. Pertanyaan selanjutnya: Siapa yang ketika dinyatakan diterima di Jurusan Antropologi kemudian oleh teman atau orang tua ditanya begini: Antropologi itu belajar apa? Lulus Antropologi nanti kerja apa atau kerja dimana? Dengan spontan dan bersemangat, hampir semua mengangkat tangan, tanpa tengok kanan-kiri lagi seolah semua merasa senasib, bahkan dengan ekspresi wajah yang sangat berbeda dibandingkan ketika menjawab pertanyaan pertama tadi. Semuanya nampak mulai memiliki secercah harapan untuk tertarik mendengar cerita saya, dan mungkin dengan harapan menemukan justifikasi dari kesalahan mereka “nyasar” di jurusan yang orang sering salah persepsi (misalnya: keliru paham dengan Astrologi, itu ilmu yang mempelajari bintang-bintang ya? atau tidak bisa membedakannya dengan Arkeologi, kamu belajar fosil Homo Sapiens ya?). Jika di kampung saya sedih sekolah SD saya sekarang kekurangan murid, di sini saya bahagia karena jumlah mahasiswa baru Antropologi UGM saat ini sudah dua kali lipat, dan saya yakin biayanya berlipat-lipat, sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk berlama-lama di kampus. Kurang lebih seperti itu closing remark-nya. 

Ternyata benar, ada kegalauan mereka nampaknya belum terjawab di kelas, karena beberapa dari mereka menghubungi saya dan masih ingin berkonsultasi lebih lanjut terhadap masa depan mereka dengan Antropologi, dan bagaiamana caranya agar bisa cepat lulus, padahal baru saja mulai kuliah. Di hari berikutnya, saya sempatkan untuk datang ke kampus lagi dan saya minta untuk berkumpul saja agar bisa berdialog sambil ngopi, dan sharing apa saja dengan lebih santai. Setelah mendengar cerita mereka lebih detail, kegalauan itu memang wajar dan persis seperti yang saya rasakan dulu, karena label “nanti mau kerja apa dengan Antropologi?” itu benar-benar seperti pertanyaan “kapan nikah?” bagi para jomblo yang sudah berkepala tiga. Jawabannya sudah jelas, bahkan yang menanyakan tersebut juga sebenarnya tahu jawabannya, tidak tahu! Bahkan, untuk yang sejak tahun sebelumnya sudah terlanjur menjadi mahasiswa di kampus lain di Jogja, untuk memutuskan meninggalkan kampus tersebut dan fokus di Jurusan Antropologi UGM pun masih bimbang dan belum memiliki justifikasi yang kuat terutama untuk orang tua mereka. Saya juga cukup terkejut, karena ada dua anak, satu cowok pemalu dari Bengkulu, dan satu lagi cewek lugu dari Aceh, yang kemudian bercerita bahwa mereka terinspirasi dengan tulisan saya sebelumnya, dan kemudian memutuskan memilih kuliah di jurusan Antropologi UGM setelah membaca tulisan tersebut. Satu sisi terharu, tetapi di sisi lain saya merasa kasihan mereka mengikuti jalan “kesasar” yang saya lalui.

Saya juga kemudian diingatkan kembali bahwa tulisan bisa mempengaruhi pikiran orang lain, mengubah hidup orag lain sebagaimana saya membaca buku Adversity Quotient-nya Paul G. Stoltz dulu yang meyakinkan saya untuk bisa masuk UGM, meskipun di tahun ke 3 mengkuti UMPTN. Saya hanya bisa berpesan kepada mereka dengan mengucapkan: selamat datang di dunia “ketersesatan”, karena yakinlah bahwa ketika kita tersesat, seluruh sel dan organ di tubuh kita akan dipaksa untuk bekerja lebih aktif, dan itu artinya kita diberi peluang dan kesempatan untuk mengasah skill berjuang dan bertahan hidup di atas rata-rata orang lain.

Antropologi itu hanya sebuah ruangan kecil, mungkin yang paling kecil di rumah besar UGM, namun jendelanya sangat lebar karena ia mempelajari budaya, sehingga dengannya kita bisa memasuki ruang-ruang cakrawala ilmu lain yang di masing-masing ruang tersebut ada sebuah konvensi yang bernama metodologi, tata cara, tradisi (budaya)-nya masing-masing yang bisa kita jelaskan anthropologically. Bukan sebaliknya, misalnya menjelaskan antropologi dengan kacamata hukum Kepler I, II, dan III.

(Bersambung di tulisan Kisah Ahmad Karim: Antropologi yang Menjadi Jendela Dunia – Bagian 2)

 

(Editor: Apid)

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0