Hari Jumat tanggal 21 Februari 2020, di grup internal kami, kami melakukan diskusi tentang virus Corona bersama dua dokter muda asal Wonosobo, yaitu dr.Hena Tri Herdiyanti dan drh.Ummu Asmaul Husna.

Seperti kita tau, per tangal 20 Februari virus Corona yang berasal dari Wuhan China telah ditetapkan sebagai global outbreak atau kejadian luar biasa oleh WHO. Secara global, ada 75.748 kasus terkonfirmasi, 2.121 meninggal, dan 20.000 an pasien telah berhasil disembuhkan.

Apa itu coronavirus?
Jenis virus yg sifatnya zoonotik (terdapat di manusia dan hewan). Satu family dengan coronavirus lain yg menyebabkan MERS (flu unta) dan SARS

Kenapa disebut “novel” coronavirus?
karena strain virus ini belum teridentifikasi sebelumnya dan baru teridentifikasi setelah adanya outbreak di Wuhan Desember 2019. saat ini virus ini disebut 2019-nCoV. Dan penyakitnya disebut COVID-19.

Seberapa berbahayanya virus ini?
Virus ini dapat menyebabkan gangguan pernafasan akut –> demam, batuk, sesak nafas. Pada kasus berat menyebabkan pneumonia, sindrom pernafasan akut, gagal ginjal dan kematian. Lansia dan individu dengan riwayat medis sebelumnya (ex: diabetes, riwayat sakit jantung, asma, dll) lbh tinggi mengalami risiko kematian.

Bagaimana cara penyebarannya?
lewat droplet (percikan air liur) si penderita yg masuk ke org lain. contohnya saat batuk, bersin, dsb. jadi respiratory higiene sangat dibutuhkan disini. Respiratory dan hand higiene akan dijelaskan lagi nanti.

Berapa lama waktu yang diperlukan virus ini dari mulai masuk tubuh manusia hingga menyebabkan gejala?
menurut estimasi dari WHO, masa inkubasinya adalah 1 – 12.5 hari. WHO sendiri merekomendasikan 14 hari untuk follow up pasien yg dalam pengawasan terhadap coronavirus.

Apakah virus bisa bertahan di luar tubuh manusia?
Saat ini belum diketahui seberapa lama virus ini bisa bertahan di luar tubuh manusia.

Apakah ada obat yang spesifik untuk mencegah dan mengobati coronavirus?
BELUM ada obat yang spesifik untuk novel coronavirus ini. Beberapa usulan terapi dari para ahli masih under investigation dan masih dalam uji klinis dan juga belum ditemukan vaksinnya. Jadiii, sekali lagi PENCEGAHAN harus diutamakan.

Apa yang bisa kita lakukan?
spt outbreak coronavirus sebelumnya (MERS dan SARS), transmisi dari manusia ke manusia dpat melalui droplet, kontak, muntahan, sehingga kecurigaan jalur transmisi COVID-19 serupa.
– hindari kontak dekat dengan penderita infeksi saluran nafas
– cuci tangan (dengan air mengalir dan sabun atau alkohol jika tdk ada air), terutama sehabis kontak dengan org sakit atau lingkungan sekitar orang sakit
– jika sedang sakit, biasakan etika batuk dengan baik dan jaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter jika batuk/bersin
– hindari menyentuh area wajah terutama mata, hidung, mulut sebelum cuci tangan
– jika terdapat gejala, terutama setelah bepergian ke daerah yang terinfeksi atau setelah kontak dengan penderita atau dengan org yg habis bepergian ke China, segera mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan terdekat
– masak makanan dengan matang.

Cara memakai masker dengan benar
– Cuci tangan dengan sabun atau gel cairan pembersih antikuman sebelum menggunakan masker
– Pastikan kondisi masker baru dan dalam keadaan bersih
– Pasang masker sampai menutup bagian hidung, mulut, dan dagu
– Saat memasang masker, posisikan bagian berwarna di luar dan bagian putih di dalam, jangan dibolak balik ya
– Saat memasang masker, pastikan sisi kawat yang bisa ditekuk berada di atas
– Upayakan tidak ada celah pada masker.
– Caranya, tekuk kawat atau bagian keras masker sampai rapat mengikuti lekuk hidung
– Kaitkan kedua karet ke telinga, dan pastikan masker terpasang sempurna
– Setelah terpasang, upayakan tidak memegang masker, kalau terpegang segera cuci tangan
– Begitu selesai digunakan, lepaskan masker, lalu lipat masker bekas tanpa menyentuh bagian dalam masker
– Buang masker bekas ke tempat sampah
– Cuci tangan dengan sabun atau gunakan gel pembersih tangan antikuman setelah menggunakan masker

Pandangan Virus Corona dari sisi Kedokteran Hewan

Penelitian yang dilakukan oleh salah satu dosen FKH IPB University, Prof Agus Setiyono bersama Research Center for Zoonosis Control, Hokkaido University, Jepang. Dalam penelitian itu, Prof Agus dan RCZC meneliti sampel-sampel kalelawar buah di sejumlah daerah habitat mamalia bersayap itu di Indonesia, antara lain Bukittinggi, Bogor, Panjalu (Ciamis), Gorontalo, Manado, dan Soppeng (Sulawesi Selatan). Penelitian tersebut dilatarbelakangi dengan banyaknya penyakit yang ditularkan oleh kelelawar. Beliau menyatakan bahwa terdapat enam virus yang dibawa kelelawar selain corona virus yang berhasil diidentifikasi yakni alpha herpesvirus, paramyxovirus, polyoma virus, paramyxovirus, dan bufavirus.

Pada hewan reservoar dalam hal ini adalah kelelawar tidak nampak gejala dan diduga kelelawar menjadi induk semang dari berbagai virus tersebut. Ada berbagai virus yang berdiam dalam tubuhnya, dan bukan hanya virus corona, tapi banyak lagi patogen yang berpotensi zoonosis (penyakit yang secara alami dapat menular dari hewan vertebrata ke manusia atau sebaliknya).

Penularan dari hewan ke manusia : Penularan virus ini adalah melalui ingesta yang kontak dengan makananan yang dimakan oleh manusia seperti buah yang sudah dimakan codot/ kelelawar buah.

Pecegahan yang bisa dilakukan dari sisi sains vet :Pertama, tidak bersentuhan dengan kelelawar, langsung maupun tidak langsung. Kedua, tidak memakan buah sisa masak pohon yang digerogoti kelelawar, meskipun biasanya ini yang paling manis. Ketiga, sebaiknya bagi sebagian masyarakat dengan budaya mengonsumsi sayur atau lauk dari kelelawar mulai mempertimbangkan kembali untuk melanjutkan mengonsumsi kelelawar.

Studi terbaru mengenai corona virus: Obat untuk corona virus saat ini belum ditemukan karena virus berbeda dengan bakteri. Untuk mendapatkan virus harus menghancurkan selnya terlebih dahulu. Namun kabar terbaru seorang peneliti dari Universitas Airlangga, Chaerul Anwar Nidhom yang merupakan Guru Besar menyatakan bahwa virus corona mempunyai dua tingkat keganasan yaitu low (reseptornya ada di bagian atas) dan high (reseptornya ada di bagian bawah/paru-paru dan berakibat fatal pada manusia. Guna menangkal virus corona, yaitu dengan menangkal badai sitokin terdapat pada curcumin yang ada pada jahe, kunyit, sereh, dan temulawak. namun perlu diperhatikan bahwa corona ini mempunyai banyak strain, untuk nCov sendiri belum ditemukan obatnya seperti yang dikemukakan oleh dr Hena.

Sesi Tanya Jawab

Apakah selain dari kelelawar, penularan virus corona bisa dari hewan lain? Jika ada, apakah kucing berpotensi juga?

Jadi perlu diketahui bahwa corona ini banyak strain/ jenis dan masing2 strain juga akan menyebabkan penyakit yang berbeda pula. Corona virus ini bisa menyerang kucing yang menyebabkan feline infectious peritonitis/ FIP namun tidak bersifat zoonosis (bisa menular ke manusia). Dengan kata lain strain nCov dan corona yang di kucing itu berbeda. Kalau virus corona sendiri bisa ditularkan dari babi, sapi, tikus, ayam, kuda,unta dan bahkan manusia. Hanya saja ada yang sifatnya zoonosis ada yang tidak.

Virus pada kucing, apakah ada yg sampai bisa menular kepada manusia? Lalu apakah tokso juga mudah menular ke manusia?

Sejauh ini kalau virus di kucing tidak menular ke manusia, namun ada beberapa penyakit di kucing yang bisa menular ke manusia seperti scabies dan juga toxoplasma. Untuk toxo bisa dicegah dengan hygiene personal.

Untuk penularan toxoplasmosis dari manusia ke manusia itu blm ditemukan, kecuali penularan dari ibu ke bayi (kongenital), atau pada org dg transplantasi organ atau transfusi

Lbh lengkapnya mungkin bisa dibaca di https://www.cdc.gov/parasites/toxoplasmosis/epi.html

Berkaitan dg penyebaran, ada artikel yang menyebutkan bahwa virus corona COVID-19 bisa menyebar melalui kontak udara.
“However, over the weekend, an official in Shanghai confirmed the virus also travelled through aerosol transmission, which means it can float a long distance through the air and cause infection later when it is breathed in.”
Beritanya ada di tautan berikut ini. Apakah berita ini benar?
Coronavirus is airborne, Chinese official confirms

Untuk penyebarannya sendiri sejauh ini msh secara droplet, kontak langsung dg penderita. Penyebaran melalui aerosol sendiri blm ada laporan scr resminya. Krn virus ini tergolong baru jd penelitian utk identifikasi sifat virus ini jg msh on going. Tp tdk ada salahnya selalu waspada. Kalau kata konsulen paru ku si virus ini bisa “travel” dlm radius 2 meter, jd ada baiknya jaga jarak dg org yg curiga terinfeksi dlm radius tsb. Dan org yg sedang sakit jg wajib pakai masker.

 

Ada pasien yg bisa sembuh dr corona, kalau ga salah sekitar belasan ribu. Nah ini jd harapan buat kita biar ga usah terlalu takut krn bs sembuh. Kira-kira, faktor apa saja yg bisa bikin sembuh? padahal blm ada obatnya. Apakah karena daya tahan tubuh yg kuat? Apa sih peran daya tahan tubuh buat menangkal virus (scr umum), bagaimana biar imun kita meningkat?

Penyembuhannya juga terpengaruh dengan kualitas sistem imun. Jika imun baik, bisa membantu mempercepat penyembuhan. Sedangkan faktor yg memperberat infeksi sendiri adalah kondisi tubuh yg tdk fit misalnya krn penyakit lain yg sebelumnya diderita spt sakit jantung, paru, diabetes dll dan juga pada orang dengan gangguan sistem imun, atau lansia. Imun sendiri berperan dlm memerangi segala bentuk infeksi baik virus maupun bakteri. Menjaga sistem imun ttp baik bisaa dengan gaya hidup bersih dan sehat. Istirahat cukup, makan bergizi, olahraga cukup serta belajar mengelola stress.

Bagaimana kesiapan RS di Indonesia secara umum menghadapi outbreak corona ini?

Kalau di Indonedia sendiri dari Kemenkes sdh ada alur utk merujuk pasien2 yg dicurigai terinfeksi baik pasien yg dlm pengawasan atau dlm pemantauan coronavirus. Saat ini ada beberapa center di Indonesia yg punya fasilitas khusus baik secara sarana dan prasarana yg ditunjuk utk menampung pasien2 tsb. Dan jika ditemukan kecurigaan ada juga pencatatannya di dinas kesehatan.

Bagaimana tanggapan dok Hena & dok Ummu soal Indonesia yang masih “bersih” sampai saat ini?
Menilik negara ini berada di tengah2 negara terjangkit dan terdapat kurang lebih 19 bandara internasional yang melayani rute Indonesia – Tiongkok (cmmiw) dan dikeluarkannya travel ban yang terlambat, banyaknya WN Tiongkok juga yang berkunjung sebelum travel ban dikeluarkan, dan transmisi yang begitu cepat dari virus ini. Korea Selatan aja kecolongan kemarin ini.

Jadi menteri pertanian sendiri sudah memberikan instruksi penjagaan ketat lalu lintas media yg beresiko membawa penyakit terutama dari negara2 yang positif nCov. Selain itu, menteri pertanian memerintahkan untuk meneliti kesamaan genetik virus nCov dengan virus corona yg sudah ada di Indonesia.

Melalui balai besar penelitian veteriner, menyatakan bahwa Indonesia mampu mendeteksi COVID 19 dengan BSL 3 (BSL 3 adalah Biosafety lavel, semacam kabinet/ruang untuk meneliti berbagai macam penyakit. Semakin tinggi tingkatannya, semakin advance dan biasanya patogen yg diteliti sangat ganas dan belum ada obatnya.) Di Indonesia sendiri belum ada laporan kasus positif coronavirus. Kemungkinan memang krn blm adanya kasus atau mungkin krn awareness kita yg kurang jd kasus tdk teridentifikasi.

 

Apakah dr Hena dan drh Ummu ada tahu perkembangan terbaru dari studi virus ini yang berkaitan dengan uji ketahanan suhu? Dari artikel yg kubaca virus corona akan mati pada suhu tinggi (nanti aku cri dulu link nya ya), dan kalau benar, apakah karena kita di negara tropis jadi faktor masih “bersih” nya sampai sekarang? Tapi Singapore dan Malaysia juga mirip iklimnya dengan kita masih bisa terkena juga.

Kalau ttg suhu tinggi bisa membunuh virus ini saya blm menemukan journal yg valid. Tapi setau saya para virologist juga msh blm menemukan jawabannya, krn kalau kita lihat tahun2 sebelumnya ditemukan juga kasus MERS di Saudi Arabia pada bulan Agustus, disini bisa dilihat kalau virus penyebab MERS (satu family dg nCOV-2019) msh bisa menyebabkan manifestasi MERS di bulan Agustus (bulan dg suhu tertinggi di Saudi).

 

Advertisements
google.com, pub-3699623534636543, DIRECT, f08c47fec0942fa0